Fitur Live TikTok Mendadak Mati di Tengah Aksi Demo Besar, Ada Apa?

Fitur live TikTok mendadak mati saat demo besar. Komdigi panggil TikTok terkait moderasi konten, bukan sensor demo. Konten negatif jadi fokus utama.
Logo aplikasi TikTok dalam layar smartphone. / Bloomberg-Gabby Jones
Logo aplikasi TikTok dalam layar smartphone. / Bloomberg-Gabby Jones
Ringkasan Berita
  • Fitur live TikTok mendadak tidak bisa digunakan di tengah demonstrasi besar-besaran, dengan pesan "Koneksi tidak stabil" muncul saat mencoba siaran langsung.
  • Wamenkomdigi Nezar Patria menyatakan pemanggilan platform media sosial seperti TikTok dan Meta terkait moderasi konten, bukan penyensoran konten demo.
  • Komdigi menyoroti konten provokatif terkait unjuk rasa di media sosial dan meminta platform digital memiliki sistem deteksi disinformasi dan konten manipulatif.

* Ringkasan ini dibantu dengan menggunakan AI

Bisnis.com, JAKARTA - Fitur siaran langsung atau live platform media sosial TikTok mendadak tidak bisa digunakan.

Dalam fitur tersebut muncul tulisan "Koneksi tidak stabil. Coba masuk live lagi".

Sementara itu, jika masuk ke kolom pencarian dan menuliskan kata kunci, kemudian memilih fitur live maka hasilnya akan kosong. 

Fitur Live TikTok Mendadak Mati di Tengah Aksi Demo Besar, Ada Apa?

Tangkapan layar TikTok saat fitur Live hendak digunakan / BISNIS 

Disfungsi fitur live di TikTok ini terjadi di tengah demonstrasi besar-besaran di sejumlah daerah.

Berdasarkan catatan Bisnis, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria pernah menyampaikan Komdigi berencana memanggil platform media sosial seperti TikTok dan Meta terkait moderasi konten. Nezar membantah pemanggilan tersebut mengenai penyensoran konten-konten demo. 

“Enggak terkait dengan demo sebetulnya. Lebih konten moderasi aja, gitu. Itu sebenarnya sudah berjalan lama, jadi enggak terkait dengan demo-demo sih,” kata Nezar di Jakarta, Jumat (29/8/2025)

Nezar menjelaskan konten moderasi adalah penanganan konten-konten negatif sepertinya judi online, disinformasi, dan lain sebagainya, yang dilarang oleh undang-undang. Platform media sosial, kata Nezar, selama ini cukup kooperatif dalam menangani konten-konten negatif tersebut. 

“Selama ini berkolaborasi dan itu sudah lama kan, bukan baru kemarin ini,” kata Nezar. 

Sebelumnya, Komdigi menyoroti maraknya konten provokatif terkait aksi unjuk rasa yang beredar di media sosial, khususnya TikTok. Komdigi menilai tayangan kerusuhan yang ditonton puluhan ribu warganet berpotensi memprovokasi publik dan merusak sendi-sendi demokrasi.

Komdigi tidak bermaksud membungkam kebebasan berekspresi, tetapi meminta perusahaan platform digital memiliki sistem yang mampu mendeteksi disinformasi dan konten manipulatif. Fenomena penyebaran disinformasi, fitnah, dan kebencian di ruang digital berpotensi mengaburkan tujuan penyampaian aspirasi masyarakat.

Sebagai langkah lanjutan, Komdigi sudah menghubungi sejumlah platform besar untuk membicarakan fenomena ini. Salah satunya, Helena Lersch, yang menjabat sebagai Global Public Policy Director (MENA, APAC) di ByteDance, perusahaan induk TikTok.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Bisnis Plus logo

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro