Bisnis.com, JAKARTA - Demonstrasi berkelanjutan terjadi di sejumlah kota seperti Jakarta, Makassar, Jogja dan Solo.
Demo berlangsung berbarengan di sejumlah kota pada Jumat (29/8) menyusul aksi unjuk rasa di Jakarta untuk menuntut DPR RI.
Massa aksi di kota lain kemudian ikut turun ke jalan, setelah demo buruh di Jakarta memakan korban seorang ojek online (ojol) bernama Affan Kurniawan.
Affan tewas setelah dilindas oleh mobil rantis Brimob di Jakarta pada Kamis (28/9). Kejadian itu membuat kemarahan publik mencuat terhadap kepolisian.
Di jalanan hingga media sosial kemudian menggema kode ACAB dan 1312 yang terus digaungkan saat demo berlangsung.
Kode tersebut digunakan sebagai bentuk protes masyarakat terhadap lembaga kepolisian yang dinilai gagal melindungi.
Baca Juga
ACAB dan 1312 juga ditujukan untuk oknum-oknum kepolisian yang terus menggunakan kekerasan dan tindakan semena-mena terhadap para pendemo.
Lantas, Apa Arti ACAB dan 1312?
ACAB dan 1312 sejatinya memiliki arti yang sama. Keduanya digunakan sebagai simbol perlawanan masyarakat terhadap kepolisian.
Merujuk pada Urban Dictionary, 1312 merupakan kode untuk huruf ACAB yang kerap disematkan untuk kepolisian.
ACAB adalah kependekan dari All Cops Are Bastards atau jika diartikan ke Bahasa Indonesia menjadi semua polisi adalah bajingan.
Ungkapan ACAB pun banyak digunakan oleh para demonstran di negara Barat sebagai bentuk perlawanan terhadap aparat.
Biasanya, para pendemo turut menuliskan ACAB di jalanan hingga di tembok. Mereka juga kerap menuliskan kode tersebut pada kaos yang digunakan saat melakukan unjuk rasa.
Sejarah ACAB
Awal muncul istilah ACAB belum bisa dipastikan secara tepat. Namun kata tersebut dipercaya pertama kali muncul di Inggris pada paruh pertama abad ke-20.
Mengutip GQ, ACAB dipercaya digunakan oleh para kaum pekerja yang melakukan mogok kerja pada 1940-an.
Dalam sebuah video yang dibagikan Vice, terdapat rekaman video pada 1958 yang memperlihatkan sejumlah pemuda menyanyikan kalimat tersebut.
Kemudian ACAB mulai lebih banyak dikenal dan digunakan setelah Daily Mirror menjadikan ACAB sebagai berita utama.
Kini, ACAB terus digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia untuk menyuarakan kritiknya terhadap polisi yang bersikap sewenang-wenang.
ACAB pun menjadi simbol perlawanan yang kemudian digunakan dalam karya seni seperti musik, puisi, hingga teater.