RSS FEEDLOGIN

Yuk bikin start-up (2): Bukan cuma cool sesaat, tapi bisnisnya memikat

Mursito   -   Minggu, 16 Oktober 2011, 08:42 WIB

TERKAIT

  • No news.

POPULER

PILIHAN REDAKSI

Tentu saja euforia munculnya banyak bisnis start up dipicu oleh situasi di mana setiap orang bisa membuat media untuk berkomunikasi dengan target audience-nya sendiri. Entry barrier untuk masuk ke dalam belantara bisnis menjadi semakin rendah.

 

Sekali lagi, dahulu, permasalahan untuk bisnis start up adalah modal yang tinggi. Tanpa investasi awal yang cukup, rasanya bermimpi untuk bisa memasarkan produk dan jasa baru. Biaya komunikasi sangat tinggi, terutama apabila menggunakan jasa media massa yang harganya selangit. Lalu, biaya distribusi produk yang cukup mencekik, dan apabila tidak dibarengi dengan kekuatan finansial yang memadai, akhirnya distribusi ini yang menjadi penghalang sampainya produk ke tangan prospek.

 

Pada era di mana komunikasi one-to-one, dan many-to-many sudah bisa dilakukan dengan biaya yang sangat rendah melalui Internet, tentu ini menurunkan entry barrier masuk ke bisnis. Tidak harus memiliki bujet yang luar biasa besar karena media massa bukan lagi sebuah keharusan. Pengelolaan yang optimal media Internet termasuk media sosial menggantikan peranan media massa. Pesan tentang produk dan services bisa disampaikan secara lebih efektif dan efisien, dan berbiaya rendah.

 

Yang menarik, distribusi produk ke prospek tidak harus lagi melalui jaringan distribusi yang kuat dan merata (harus menyediakan produk di hampir setiap outlet), maka ini juga faktor menurunnya entry barrier bagi pemula untuk masuk ke kancah bisnis. Channel distribusi tradisional digantikan dengan channel e-commerce, pembelian via online.

 

Sama seperti komunikasi, pengelolaan online purchase juga relatif mudah. Situasi ini disebut sebagai sebuah tahap disintermediation, yaitu proses removal atau menghilangkan intermediaries atau penghubung antara pemilik brand dengan prospek dalam supply chain.

 

Jadi, tanpa penghalang biaya komunikasi yang tinggi dan biaya distribusi yang tinggi, semua orang pada dasarnya bisa mulai membuka lapak, mulai berdagang melalui media yang diciptakannya sendiri, melalui channel distribusi yang dikelolanya sendiri. Itulah sebabnya bisnis start up bermunculan seperti jamur.

 

Kunci keberhasilan bisnis baik itu start up ataupun yang sudah mapan, karena itu bergeser. Investasi yang besar bukan lagi faktor penentu keberhasilan.

 

Modalnya kejelian melihat peluang bisnis, kemampuan kreatifitas dan komunikasi. Pemahaman di bidang IT barangkali bukan sesuatu yang mandatori, karena ini masih bisa di-subcontract. Yang menjadi kunci adalah ide dan eksekusi strateginya.

 

Bagaimana secara kreatif bisnis ini dibangun, secara kreatif komunikasinya bisa menembus belantara seribu satu media lain yang juga ikut bertempur.

 

Pemahaman konsumen juga menjadi kritikal. Ini yang seringkali disepelekan. Consumer insights yang mendalam, mengerti berbagai aspek kebutuhan konsumennya secara tepat, masih jarang dilakukan dalam persiapan bisnis.

 

Hanya dengan modal asumsi saja, maka banyak pemain baru yang hadir di bisnis, semua dilakukan dengan mengandalkan common sense dan ‘intuisi indera keenam’ saja. Akibatnya banyak bisnis yang hadir sesaat dan kemudian harus menggulung tikar lapaknya dalam waktu yang tidak terlalu lama.

 

Banyak yang memulai bisnis start up dengan modal pengetahuan tentang konsumen dan strategi bisnis yang minimalis. Prinsipnya jalan saja dulu, selebihnya ‘kumaha engke (bagaimana nanti saja—bahasa Sunda).

 

Belum banyak yang menyadari bahwa prinsip ‘kumaha engke’ ini berarti pemborosan yang tidak tampak. Kerugian memulai sebuah bisnis tanpa perhitungan dan strategi yang matang ada banyak, yaitu tidak efisien dalam pemakaian bujet pemasaran, kehilangan momentum dan juga memberikan kesempatan bagi orang lain untuk shopping ide bisnis kita yang masih setengah-setengah.

 

Bisnis start up memang makin memikat, tetapi jangan sampai masuk ke bisnis hanya untuk mendapat predikat ‘cool’ sesaat. Buktikan sustainability atau kesuksesan jangka panjangnya.

 

*) Penulis adalah Director Etnomark Consulting (www.amaliamaulana.com)

Source : Amalia E. Maulana

Editor :

Komentar :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.