Pekan ini saya bertugas lagi menjadi juri di acara kompetisi tahunan Sparx Up Award yang merupakan kerjasama antara Semut Api dengan dua media online. Acara ini bertujuan memberikan tempat bersaing bagi bisnis start up berbasis digital, agar pemainnya lebih kreatif lagi.
Pemenang Sparx Up tahun lalu, yaitu gantibaju.com, lewatmana.com dan nulisbuku.com adalah beberapa contoh bisnis start up digital yang sudah sukses.
Selain kagum akan kreatifitas anak muda yang ikut dalam ajang award ini, saya juga sekaligus envious terhadap kesempatan yang dimiliki mereka (saya sebut envious untuk lebih memperhalus kata iri hati, yang sebenarnya arahnya ke sana!)
Zaman saya muda dulu, jelas tidak ada kesempatan seluas sekarang untuk menjadi pengusaha mandiri. Pada zaman teknologi informasi dan komunikasi belum semaju saat ini, siapa yang mampu membuka usaha sendiri tanpa modal besar?
Kesempatan usaha hanya bisa dinikmati oleh lulusan sarjana yang juga anak pengusaha. Dan, keberhasilannya sangat ditentukan oleh campur tangan ayahanda (terutama dari sisi modal dan manajemennya). Kurang membanggakan.
Saat ini, saya amati, keinginan dan perwujudan mimpi seorang anak muda tidak lagi dimulai sejak kelulusan sarjananya. Sudah banyak yang mempunyai penghasilan sendiri jauh sebelum wisudanya digelar.
Untuk dianggap ‘cool’ tidak lagi harus menjadi management trainee sebuah perusahaan multinasional. Untuk memperoleh gaji besar tidak lagi harus menjadi bagian dari perusahaan tambang dan perminyakan.
Dengan bantuan teknologi komunikasi dan informasi, lapangan pekerjaan tidak lagi sebatas dinding-dinding cubicle di perusahaan. Hanya dengan bercelana pendek dan baju santai membawa laptop dan aneka gadget, sambil ngopi-ngopi di kafe modern, seorang anak muda sudah bergaya pengusaha muda. Hmmm, that is really cool!
*) Penulis adalah Director Etnomark Consulting (www.amaliamaulana.com)
BACA JUGA: Bukan cuma cool, tapi juga harus memikat
Source : Amalia E. Maulana
Editor :
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.