RSS FEEDLOGIN

VICKNER SINAGA: 17 ibu kota kabupaten belum ada listriknya

Aprianto Cahyo Nugroho   -   Selasa, 23 Oktober 2012, 07:05 WIB

TERKAIT

  • No news.

POPULER

PILIHAN REDAKSI

JAKARTA: Rasio elektrifikasi Indonesia saat ini masih sekitar 73,7%. Pada beberapa provinsi bahkan ada yang masih memiliki angka rasio elektrifikasi 30%.Masyarakat di Pulau Maitara yang berada di Provinsi Maluku Utara bahkan baru bisa menikmati listrik PLN pada Mei 2011.PLN mengakui di luar Maitara, masih banyak masyarakat yang hingga hari ini belum terlistriki, meski Indonesia telah memasuki 67 Tahun Kemerdekaan.Untuk mengetahui rencana peningkatan rasio elektrifikasi terutama di kawasan timur, Bisnis mewawancarai Direktur Operasi Indonesia Timur PLN Vickner Sinaga baru-baru ini. Berikut petikannya.Pulau Maitara baru terlistriki tahun lalu. Sebenarnya b­­e­­rapa banyak pulau di Indo­ne­sia yang belum terlistriki?Memang masih banyak pulau kita yang belum terlistriki, terutama di wilayah Papua dan M­­­a­lu­ku.Makanya itu yang kita se­­dang lakukan sekarang. Perhatian direksi yang sekarang untuk wi­­la­yah Indonesia Timur itu luar biasa, saya di-support.Kalau di­­reksi yang dulu-dulu kan bilangnya PLN ngga punya cukup uang untuk investasilah, rugi nanti.Tapi sekarang ada keberpihak­an. Memang itu yang diperlukan untuk mendorong Indonesia Ti­­mur. Di Maitara itu juga sekali­gus 100% prabayar.Jadi tidak perlu pegawai untuk pemutus rekening atau pencatat meter. Banyak pulau-pulau seperti itu akan kita buat. Saat ini masih ada 17 ibukota kabupaten belum ada listriknya.Apa latar belakang program  PLN melalui 1.000 pembangkit listrik te­­naga surya (PLTS) di 1.000 pulau?Kita harus berpikir besar. Kalau ada 1.000 pulau pakai tenaga sur­ya, apa ada negara lain yang bisa mengalahkan?Kalau pun orang punya uang, kan mereka tidak pu­­nya 1.000 pulau seperti In­­do­nesia.Tapi intinya begini, pulau-pulau di Indonesia tidak mungkin pakai diesel lagi untuk menghasilkan listrik. Pakai diesel itu mahal sekali.Kita juga sekarang sudah nett importer minyak. Minyak jauh-jauh dibawa hanya untuk dibakar.Di mana logikanya? Belum lagi mencari sparepart pembangkitnya. Solusinya, kalau tidak ada sumber energi di pulau itu, pa­­ling tidak energi matahari pasti ada.Bagaimana program PLTS itu saat ini?Hingga akhir tahun ini mungkin ada sekitar 80, sisanya 20 lagi di awal 2013. Kebanyakkan di Indonesia Timur.Nanti saat Hari Listrik Nasional, saya akan ke daerah perbatasan Papua dengan Papua Nugini, itu akan kita listriki dan kita sebut Papua Terang dan Papua Dering.Kalau seluruhnya 1.000 pulau terlistriki itu kami targetkan tercapai pada 2014 akhir atau 2015 awal.Namun program PLN di Indo­nesia Timur bukan hanya PLTS, ini hanya diantaranya saja, kan ada juga pembangkit-pembangkit lain.Apa saja kelebihan PLTS dan kendala-kendala yang ditemui PLN di lapangan?Untuk membangun PLTS, kami harus mencari lahan yang luas yang disinari radiasi matahari yang tinggi. Kami mendesainnya harus optimum.Investasi PLTS juga cukup mahal. Tapi PLTS itu tahan 25 tahun dan tidak perlu biaya maintenance serta tidak perlu biaya bahan bakar.Selain itu, saat ini terjadi tren penurunan harga solar cell, jadi itu yang kami manfaatkan.Waktu 2008 harganya US$2 per wattpeak, sekarang sudah US$0,8 per wattpeak. Jadi ada penurun­an harga solar cell dan ada ke­­naikan harga BBM (diesel), jadi ketemu di situ.Selain itu, pembangunan PLTS hanya 4-6 bulan, lebih singkat dibandingkan de­­ngan PLTU yang AMDAL-nya saja mungkin butuh waktu satu tahun.Berapa banyak investasi yang disiapkan PLN untuk program PLTS?  Kalau tidak ada yang mendanai, memang akan kami danai semuanya. Kira-kira investasinya Rp6 miliar per pulau. Jadi kalau 1.000 pulau cuma Rp6 triliun, sementara investasi PLN setiap tahun bisa Rp70 triliun.Jadi ini tidak sampai 10%-nya. Memang yang dibutuhkan tinggal keberpihakan ke arah Indonesia Timur.Kalau sifatnya proporsional, akan kalah terus kami. Tapi ternyata program ini didengar dan di-support oleh negara lain.JICA mau membantu US$200 juta, Bank Dunia juga mau membantu US$200 juta.Sekali lagi, itu Bank Dunia yang datang ke kami. Karena begitu dibilang ini renewable energy, semua orang ingin berpartisipasi dan dapat 'nama'.Malahan Bank Dunia memberi bantuan teknis untuk kami.  (ra)

Editor :

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.