JAKARTA: Komunikasi suara lewat Internet dewasa ini bukan hal aneh lagi. Siapa pun rasanya sudah pernah bercakap-cakap menggunakan Skype atau Google Talk. Dengan pertimbangan ongkos, komunikasi suara seperti ini memang lebih murah dibandingkan menggunakan telepon. Namun meskipun sudah berfungsi dengan baik, sistem komunikasi audiovisual lewat Internet ini masih dapat disempurnakan lebih jauh.
Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah melakukan standarisasi teknologi yang digunakan untuk web. Komunikasi audiovisual seperti Skype dilakukan dengan menggunakan aplikasi khusus.
Sementara itu, komunikasi audiovisual pada Google Talk memang dapat dilakukan lewat browser, tetapi ini dilakukan lewat bantuan plugin khusus untuk web. Akibatnya implementasi komunikasi audiovisual ini harus tergantung pada dukungan vendor itu sendiri dan tidak dapat dilakukan oleh pihak ketiga.
Keunggulan standar terbuka ini dapat terlihat pada Google Talk. Fitur chat pada Google Talk menggunakan standar terbuka (XMPP). Fitur chat ini dapat diimplementasikan oleh aplikasi lain seperti Pidgin dan iMessenger tanpa harus menunggu campur tangan Google. Namun, fitur lain seperti suara dan video tidak selalu dapat dimasukkan oleh pengembang pihak ketiga.
Untuk keperluan inilah berbagai vendor browser dan peranti lunak, termasuk Google, Mozilla, Opera, dan Microsoft mengembangkan standar baru yang disebut sebagai web real time communication (WebRTC). Dengan standar ini, aplikasi seperti Skype dan Google Talk akan dapat sepenuhnya diintegrasikan ke dalam situs, dan dijalankan dalam browser.
Belum Kompatibel
Meskipun belum disepakati sebagai standar, beberapa perusahaan sudah mulai mengintegrasikan WebRTC ini dalam produk mereka. Google misalnya telah mengembangkan teknologi WebRTC sejak Januari 2012 lalu dalam browser Chrome. Pada saat ini WebRTC juga sudah menjadi fitur standar dalam versi stabil Chrome.
Sementara itu, Mozilla juga telah mengembangkan WebRTC dalam browser-nya, Firefox. Mozilla mendemonstrasikan aplikasi chat video berdasarkan WebRTC pada April lalu. Implementasi dari Mozilla belum semaju dalam Google. WebRTC diperkirakan baru dapat dipakai pada Firefox 18, yang rencananya akan dirilis pada 2013 mendatang.
Selain Google dan Mozilla, pihak lain yang mengimplementasikan teknologi ini adalah penyedia layanan video chat Tokbox. Selama ini Tokbox menggunakan Adobe Flash untuk menerapkan video chat.
Ketika diimplementasikan, WebRTC ini akan memungkinkan browser untuk mengakses perangkat video dan audio pada komputer, seperti mikrofon dan webcam. Koneksi data akan dilakukan langsung dari browser ke browser atau peer-to-peer tanpa melalui server tertentu.
Namun tidak semua pihak setuju dengan penerapan WebRTC oleh Google atau Mozilla. Microsoft misalnya masih skeptis dengan codec yang digunakan oleh Google untuk WebRTC, VP8. Sikap Microsoft ini sama dengan reaksinya ketika VP8 diusulkan sebagai codec bawaan untuk teknologi video HTML5. Salah satu alasannya adalah paten.
Microsoft tidak yakin bahwa VP8 memang sepenuhnya bebas dari paten. Microsoft juga lebih menyukai fleksibilitas dalam penerapan WebRTC, dan tidak mengikat standar ini ke format video atau audio tertentu. Perbedaan sikap ini memang wajar untuk standar yang masih dikembangkan.
Selain video, unsur lain yang juga penting adalah audio. WebRTC tentu saja bisa meminjam codec yang sudah ada, seperti Speex atau AMR yang digunakan dalam teknologi GSM. Teknologi yang digunakan tampaknya adalah Opus, codec audio yang baru disetujui sebagai standar Internet oleh IETF (Internet Engineering Task Force) pada September ini.
Berbeda dengan teknologi codec audio lain seperti speex, yang dirancang untuk percakapan, atau MP3, yang lazim digunakan untuk lagu, Opus ternyata memiliki kemampuan yang lebih beragam.
Opus didasarkan pada dua codec yang sudah dikenal sebelumnya, SILK dari Skype dan CELT dari Broadcom. SILK ditujukan untuk streaming dengan bitrate rendah, seperti yang lazim ditemui dalam percakapan.
Sementara itu, CELT ditujukan untuk aplikasi dengan bitrate tinggi, seperti musik. Karena ditujukan untuk aplikasi realtime, Opus cocok digunakan untuk WebRTC. Namun, asalnya yang berasal dari dua codec dengan ciri berbeda membuatnya patut juga digunakan untuk segala keperluan.
Agar WebRTC dapat diterima dengan baik tentu kita harus menunggu agar teknologi ini diadopsi lebih luas oleh pembuat browser. Ini berarti tidak hanya Chrome atau Firefox, tapi juga Internet Explorer dan Safari. (sut)
Source : Gombang Nan Cengka
Editor : Sutarno
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.