RSS FEEDLOGIN

TITO KARNAVIAN: Calon kapolri masa depan?

  -   Jumat, 21 September 2012, 11:17 WIB

TERKAIT

  • No news.

POPULER

PILIHAN REDAKSI

IRJEN Pol Tito Karnavian akhirnya resmi memimpin Polda Papua, setelah dilantik Kapolri Timur Pradopo Jumat ini di Jakarta (21/09).

Jabatan Tito sebelumnya adalah Deputi Bidang Penindakan dan Pembinaan Kemampuan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Tito menggantikan Kapolda Papua sebelumnya, yakni Irjen Pol Bigman Lumban Tobing, yang dimutasi menjadi Analis Kebijakan Utama Bidang Bindiklat Lemdikpol Polri.

Banyak orang di lingkaran dalam polisi yang meyakini Tito adalah salah satu dari sangat sedikit perwira tinggi calon pemimpin Polri masa depan.

Tito adalah prototipe polisi intelek, masih muda, tapi dengan penguasaan lebih dari 2 bahasa asing dan kemampuan khusus di bidang pencegahan terorisme dan hubungan internasional.

Sesaat sebelum lulus di SMA Negeri 2 Palembang pada 1987, Tito mendaftar ujian perintis dan mendaftar ke Akabri, Hubungan Internasional UGM, STAN, dan Kedokteran. Semuanya lulus.

Tapi dia meilih Akabri. Selesai di Akabri, Tito belajar di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) di Jakarta dan meraih masternya di University of Exeter di Inggris.

Tak cukup itu, Tito melanjutkan kembali studinya di Massey University Auckland Selandia Baru dalam bidang Strategic Studies pada 1998.

10 tahun kemudian, masih dengan bidang studi yang sama, Tito mondok di Nanyang Technological University, Singapura hingga meraih gelar PhD-nya.

Menangkap Tommy

Di Indonesia, nama Tito dikenal pada 2001, ketika memimpin Tim Kobra yang berhasil menangkap buronan kakap waktu itu, Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto.

Dengan keberhasilan penangkapan Tommy, oleh pimpinan Polri waktu itu, Tito termasuk polisi yang mendapat kenaikan pangkat luar biasa.

Pada 2004, ketika Densus 88 Antiteror dibentuk untuk membongkar terorisme di Indonesia, di Jakarta Tito memimpin tim antiterorisme yang terdiri dari 75 personel.

Setahun kemudian, Tito berhasil melumpuhkan teroris Dr Azahari dan kelompoknya di Batu, Malang. Dia pun kembali mendapat kenaikan pangkat luar biasa.

Dua tahun berikutnya, Tito dengan Densus 88 Antiteror juga sukses membongkar konflik Poso dan meringkus sejumlah orang yang terlibat di balik konflik tersebut.

Akhirnya, Tito menjadi orang nomor satu di Densus 88, detasemen antiteror Mabes Polri, lalu naik ke deputi BNPT, hingga dilantik Kapolri untuk memimpin Papua tadi pagi.

Mampukah Tito menjalani peran teritorial pertamanya ini? Di Papua pula, daerah kaya sumberdaya alam yang tak hanya didiami oleh separatis, tapi juga oleh banyak 'tangan' bahkan semua angkatan.

Lalu bagaimana pula dengan ‘lawan-lawannya di internal kepolisian’ yang tak ingin Tito maju? Kita akan lihat kiprah Tito. (bastanul.siregar@bisnis.co.id) (Foto.www.laskardiponegoro.com)

Editor :

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.