KUTA–Ahli strategi komunikasi dan public relations global James Grunig menilai strategi dan manajemen komunikasi pemerintah belum mampu diandalkan sehingga pertumbuhan ekonomi tidak berjalan seiring dengan investasi.
Menurut James Grunig yang juga Guru Besar Fakultas Komunikasi Universitas Maryland, AS, perekonomian Indonesia dengan sumber daya dan alam yang dimilikinya ternyata memiliki nilai ekonomi yang lebih besar dibandingkan dengan negara adidaya, AS.
“Namun, komunikasi manajemen masih belum dapat diandalkan sehingga, potensi yang dimiliki Indonesia seakan tenggelam,” kata Grunig dalam International Public Relations Summit 2012 yang diselenggarakan di Kuta, Bali, Rabu (17/10).
Dia melihat masih ada tatanan komunikasi yang perlu dibenahi dalam mengantisipasi dampak yang bisa meluas di pemberitaan media massa. Ketidakmampuan Indonesia dalam memanajemen komunikasi massa lebih diakibatkan kurang dipahaminya efek dari sebuah isu, termasuk investasi dan industri.
Grunig berpendapat, akses informasi yang begitu terbuka belum mampu difungsikan secara baik dan benar dalam membentuk sebuah opini publik. Sehingga, memaksa pemerintah perlu memberikan regulasi dan kebijakan baru mengingat pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bersifat terpusat. Jelasnya, tidak dibarengi dengan sistem infrastruktur yang kuat disejumlah wilayah potensial.
Troy Pantow, Corporate Communication PT Tirta Investama pun berpendapat sama. Indonesia kurang mampu mengintegrasikan beberapa sektor riil, kebijakan dengan pesatnya pertumbuhan ekonomi. “Seolah-olah, beberapa stakeholder seperti Kementerian Industri, Kementerian ESDM, Kementerian Perdagangan dan BKPM berjalan sendiri dalam mencari investor,” katanya kepada Bisnis.
Seharusnya, papar Troy, Indonesia harus mampu menutupi kelemahan minimnya infrastruktur dengan sejumlah keunggulan a.l bahan baku dan tenaga kerja. “Untuk mengomunikasikan itu, pemerintah harus banyak berbenah disektor internal dulu. Baru mengomunikasikan secara masif kepada khalayak luas.”
Sebagai investor, jelas Troy, apapun akan dilakukan jika investasi itu terlihat menarik, seperti halnya, di Malaysia, Singapura dan Thailand. “Disana sejumlah investor dari satu negara mengumpulkan dana untuk membangun pelabuhan dan jalan untuk kepentingan jalur distribusi di negara-negara itu.”
Jika bicara luas lahan, material pendukung dan tenaga kerja, jelas Indonesia lebih unggul. Namun, kenapa mereka melirik Indonesia baru saat-saat ini. “Padahal Jepang dan Eropa memilih negara tetangga itu sudah beberapa dasawarsa yang lalu.”
Itu bukti bahwa Indonesia memiliki kekurangan di sektor integritas dan integrasi sehingga kurang mampu ‘menjual’ potensinya. “Untuk jangka pendek, harusnya Indonesia mampu menyinergikan antara BKPM, sejumlah kementerian ataupun dengan melibatkan Indonesia Public Relation Association [IPRA] sebagai andalan untuk mempresentasikan potensi Indonesia dipublik global.”
Butuh Peningkatan
Koordinator MM Komunikasi Trisakti sekaligus Founder IPRA, Elizabeth Goenawan Ananto, mengatakan kebijakan, pengetahuan dan keterampilan khusus dalam mengatur alur komunikasi. “Intinya public relations itu adalah melakukan komunikasi untuk menyampaikan informasi, memberi motivasi dan merubah sikap publik,” jelas Elizabeth.
Secara umum, lanjut Elizabeth, Indonesia harus mampu memberdayakan public relation-nya untuk menarik investor. Namun, masih diperlukan banyak pembenahan a.l upgrading penguasaan pengetahuan tentang internal dan eksternal. Pengetahuan internal misalnya tentang apa produk yang akan dinilai tambahkan. Adapun penguasaan eksternal mencakup seberapa kuat pendanaan dan keinginan sebuah negara atau korporasi mampu berinvestasi.
Elizabeth menjelaskan, harus ada bahasan topik seputar dinamika nilai-nilai Indonesia dalam perspektif global sehingga komunikasi startegis untuk pemerintahan dan swasta mampu terwujud. Selain itu, diplomasi publik, etika, tanggungjawab sosial, penanganan isu dan manajemen krisis dalam dinamika media sosial pun harus berjalan seiring.
Saat ini, tantangan Indonesia adalah mewujudkan kelembagaan dengan menyiapkan praktisi public relations yang mampu menangani dinamika permasalahan komunikasi secara nasional, regional dan global.(k2)
Editor :
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.