RSS FEEDLOGIN

Sportpreneurships

Arif Budisusilo   -   Senin, 29 April 2013, 11:39 WIB

TERKAIT

POPULER

PILIHAN REDAKSI

130506_ab.jpgBagi pengemar bola, tentu masih ingat gol tangan Tuhan Diego Maradona saat tim Argentina berhadapan dengan tim Inggris di stadion Estadio Azteca, Mexico City, pada 22 Juni 1986.

Ketika itu, dengan aksi individunya, Maradona berhasil mengecoh 5 pemain Inggris dan setelah berusaha mengumpan bola ke rekannya, pemain lawan justru menendang bola lambung ke depan gawang. Maradona pun menyambar bola lambung tersebut seperti sundulan kepala dan gol.

Peristiwa yang terjadi pada menit 51 itu pun berubah kontroversial, karena para pemain Inggris memprotes gol Maradona itu dengan tangan. Wasit tetap mengesahkan gol tersebut dan kontroversi tangan Tuhan itu menjadi pembicaraan di mana-mana. Hingga pada 2005, Maradona baru mengakui gol itu dilakukan dengan tangannya.

Kasus kontroversial kembali terjadi di lapangan sepakbola pekan lalu, ketika penyerang Liverpool Luis Suarez menggigit tangan bek Chelsea Branislav Ivanovic. Suarez menggigit tangan Ivanovic saat Chelsea melawan Liverpool di stadion Anfield, yang berakhir imbang 2-2, Minggu (21/4) malam waktu Indonesia.

Seperti halnya Maradona, wasit tidak melihat insiden di menit ke-66 tersebut, dan tidak memberikan peringatan kepada Suarez. Bedanya, saat gol tangan Tuhan Maradona, teknologi belum secanggih saat ini, di mana kamera televisi bisa merekam insiden di Anfield, markas Liverpool tersebut.

Sebaliknya Suarez tak bisa berkelit, mengaku salah dan minta maaf. Tetapi peristiwa itu mendapat sorotan media sangat luas tidak hanya di Inggris, melainkan di seluruh dunia. Daily Mail, salah satu tabloid terkemuka Inggris, mengulas hingga beberapa halaman aksi Suarez tersebut.

The Independent bahkan mengulas 'kebrutalan' Suarez tersebut dengan ilustrasi foto Mike Tyson, petinju legendaris yang juga amat kontroversial, saat menggigit telinga Evander Holyfield saat melakukan tarung ulang perebutan gelar pada 28 Juni 1997. Lantaran menggigit telinga Holyfield, Tyson didiskualifikasi pada ronde ketiga. Tamatlah riwayat karir bertinjunya setelah itu.

Berbeda dengan karis Tyson yang langsung tamat, apakah karir Suarez juga langsung tamat? Ini yang terus menjadi kontroversi di kalangan penggemar bola.

Barangkali bagi Liverpool juga dilematis, mengingat ongkos membuang Suarez tidaklah murah, dan dampaknya tidaklah sepele. Bahkan James Lawton, Chief Sports Writer di koran ternama The Independent, mengulas aksi Suarez yang dia persandingkan dengan  insiden gigitan Tyson ke telinga Holifield.

Menurut Lawton, Suarez terlalu berharga untuk disingkirkan. Jika dia pergi, nilainya tidak akan kurang dari 40 juta poundsterling. Dia juga sangat populer dengan rekan satu timnya dan mayoritas pendukung besar Liverpool. Ini karena bakat Suarez, dan karena ketergantungan Liverpool pada kemampuannya yang dianggap luar biasa.

***

Boleh sependapat boleh juga tidak dengan ulasan Lawton, yang dikenal sebagai salah satu dedengkot penulis olahraga di Inggris itu. Setidaknya, sepakbola, yang sudah sudah menjadi darah daging orang Inggris, memang sudah dikemas sedemikian rupa dengan berbagai atraksi bisnis yang menarik.

Bagi saya, aksi Suarez telah menjadi bagian tak terpisahkan dari atraksi menjual sepakbola, menjual Liverpool, dan menjadikan ia dan klubnya semakin terkenal. Secara moral aksi itu barangkali masih akan terus diperbincangkan, dan ada kemungkinan ia dikenakan sanksi larangan bermain oleh asosiasi sepakbola Inggris, tetapi the show must go on.

Dalam bisnis yang bernilai lebih dari 45 miliar poundsterling setahun di balik gemerlap Liga Inggris, apapun bisa terjadi. Sepakbola telah menjadi industri yang punya multiplier effect luar biasa di Inggris. Ia bukan hanya menjadi alat hidup, gaya hidup dan mata pencaharian bagi para pemainnya, dan orang-orang yang terlibat dengan klub sepakbola, tetapi jauh lebih luas dari itu.

Industri sepakbola di Inggris, dan umumnya negara-negara Eropa, yang didukung oleh berbagai jenis industri lain, telah memainkan peran yang besar dalam menggerakkan ekonomi yang saat ini tengah sekarat. Dengan tingkat pengangguran sekitar 26% di Inggris saat ini, wisata dan bisnis berbasis industri sepakbola pun berkembang begitu rupa.

Mulai dari berkembangnya agen perjalanan wisata, transfer pemain, hingga periklanan. Bahkan sponsorship sepakbola Inggris pun kini menjadi incaran banyak perusahaan Indonesia, lantaran penggemar sepakbola Eropa dari Indonesia tidaklah sedikit.

Dan kemasan bisnis sepakbola pun menjadi begitu rupa. Ini bergerak dari tiket penonton, hak siar televisi, sponsorship, merchandise, industri kreatif hingga media. Kemasan pertandingan pun dibuat sedemikian rupa, bahkan terlihat artifisial. Anda mungkin tak pernah membayangkan, sorak-sorai penonton di televisi yang gegap gempita ternyata sebagian berasal dari lipsing atau suara rekaman yang keluar  dari speaker-speaker besar yang dipasang di dalam stadion.

Gambar yang spektakuler pun ternyata dari hasil teknologi rekam dan kamera yang supercanggih, sehingga efek pertandingan dan pergerakan pemain menjadi jauh lebih spektakuler jika Anda menonton di layar kaca. Dan tak kalah penting, pemain juga "diarahkan" untuk menjual, membuat kontroversi, yang menjadikan pertandingan sepakbola menjadi jauh lebih menarik. Apalagi pemain bintang!

Ringkasnya, begitu rupa entrepreneurship di bidang olahraga ini telah mendarah-daging di Inggris. Sportpreneurship menjadi ruh dari industri sepakbola. Dan itu yang membuat sepakbola begitu maju di Eropa pada umumnya, dan Inggris terutama.

Maka jangan heran jika banyak orang Indonesia rela merogoh kocek hingga 600 poundsterling atau sekitar Rp10 juta, hanya untuk melihat satu pertandingan sepakbola di Old Trafford atau di stadion terkemuka lainnya. Mereka ingin menikmati aura sepakbola langsung dari salah satu negara bersejarah bagi sepakbola dunia.

Saya pun ingat cerita Rachmat Gobel, boss Panasonic Gobel Indonesia, yang beberapa tahun lalu ditugasi menjadi Ketua Panitia Pelaksana Sea Games Jakarta-Palembang. Menurut Gobel, Sea Games sangat erat dengan peluang bisnis pariwisata dan investasi di Indonesia.

Dengan menjadi tuan rumah Sea Games yang mengesankan, Indonesia tidak hanya kedatangan tim pendukung olah raga masing-masing negara, tetapi juga penonton, dan kepercayaan orang asing terhadap negeri ini. Sukses Sea Games akan membawa buntut datangnya investasi ke Indonesia, begitu kira-kira.

Maka saya sependapat dengan banyak analis yang bilang, sepakbola Indonesia pun harus dikelola secara bisnis jika ingin maju. Jangan ada kepentingan politik di balik manajemen sepakbola. Dengan itu dukungan sponsor akan berbondong-bondong masuk mendukung manajemen sepakbola Indonesia.

Mungkin kita juga perlu suatu saat menikmati, kalaupun ada intrik atau kontroversi di sepakbola, ia menjadi bagian dari upaya menjual, bukan karena intrik untuk saling sikut. Sportpreneurship memang selayaknya menjadi jiwa pengelolaan olahraga paling populer bagi segala usia itu. Bagaimana menurut Anda?

Layak Disimak

Komentar :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.