Seakan mengikuti pameo, "tidak ada yang gratis di dunia ini", Kementerian Kominfo percaya diri untuk mengenakan biaya pada setiap layanan pesan singkat dari operator seluler.Tanpa disadari, kebijakan ini bakal mempercepat proses konsolidasi di industri telekomunikasi. Mengapa? Lihat saja begitu berdarah-darahnya operator yang tercermin dari laporan keuangannya, bahkan ada yang sampai menderita kerugian. Pamor industri telekomunikasi sedikit demi sedikit meredup, padahal komunikasi merupakan kebutuhan utama masyarakat saat ini, apalagi bagi politisi yang haus akan pencitraan.Pelarangan SMS gratis itu merupakan imbas dari penerapan tarif interkoneksi yang tentu saja bakal mengubah peta industri telekomunikasi cukup signifikan.Kementerian Kominfo dan BRTI melalui Siaran Pers No. 84/PIH/KOMINFO/12/2011 tanggal 11 Desember 2011 yang lalu telah mengumumkan kepada masyarakat tentang rencana pemerintah untuk mengubah skema interkoneksi SMS yang sebelumnya Sender Keep All (SKA) menjadi berbasis biaya (cost-based).Selama ini skema SKA untuk interkoneksi SMS dilakukan dengan pertimbangan, bahwa trafik SMS antar penyelenggara akan berimbang karena proses balas-berbalas pengiriman SMS. Akan tetapi, dalam perkembangannya terdapat ketidakseimbangan trafik sehingga penyelenggara yang "kebanjiran" SMS dari penyelenggara lain merasa dirugikan.Perubahan peta industri telekomunikasi tentu saja akan dilihat sebagai penambahan beban bagi operator kecil atau medioker karena adanya tarif interkoneksi SMS tersebut. Selain itu, SMS gratis selama ini dijadikan ajang menjaring pelanggan sebanyak-banyaknya bagi operator kecil.Yang untung tentu saja operator yang sudah memiliki basis pelanggan besar dan memiliki infrastruktur yang konon ada juga yang dibiayai pemerintah, terutama operator BUMN.Bukan tidak mungkin, tarif SMS akan dinaikkan karena beban operasional yang bertambah. Ujung-ujung nya, pelanggan juga yang kesusahan. Bila mengingat hal ini, Marsudi yang sedari tadi membaca berita soal sms gratis tersebut hanya menghela nafas panjang. Wajar saja, omzet penghasilannya dari jualan sayuran hanya Rp400.000.(api)
Editor :
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.