Pekan lalu, Nick D’ Aloisio, creator dari Slummly menjadi fokus pemberitaan global. Yahoo, mengumumkan mengakuisisi untuk kelima kalinya, Slummly (aplikasi ringkasan berita untuk smartphone) senilai US$30 juta (Nytimes.com).
Remaja London berusia 17 tahun ini menguak kembali kisah start up inovatif yang sukses menjaring angle investor (capital venture) seperti Li Ka-shing (taipan asal Hong Kong), Wendi Murdoch, Ashton Kutcher and Yoko Ono, dan kemudian dibeli Yahoo. Bahkan Li Ka-shing, Konglomerat Hong Kong, sudah menggelontorkan dananya untuk D’Aloisio’s sejak dini, sebelum aplikasi itu menjadi Summly. Mereka tertarik dengan aplikasi Slummy (awalnya bernama Trimit) setelah membaca email Nick di TechCrunch (blog dari record the Silicon Valley).
Fenomena ala Nick & Slummly sering disebut start up yang disruptive innovation karena sifatnya mengguncang pasar (Prahalad). Fenomena sebelumnya pada teknologi Black Berry Messenger (BBM), e-bay, Amazoncom, Apple, dan Google.
Memang banyak pula, startup khususnya di bidang teknologi yang gulung tikar sebelum meluncur secara komersial di pasar. Kendala utamanya adalah soal dana (venture capitalist) dan keyakinan konsumen untuk mengadopsi ide, apalikasi, atau teknologi baru tersebut.
Sisi lain dari kehebohan Slummy dan fenomena disrupted innovator adalah kebangkitan professional dengan Hyperspecialization (HBR.com, Juli-Agustus 20110). Istilah terkini Supertemp ( Jody Greenstone, Miller & Matt Miller).
Dahsyatnya lagi, supertemp-supertemp di berbagai bidang ini bahkan berusia di bawah 30 tahun (Forbes.com). Majalah Forbes bahkan membuat laporan tahunan seputar billioner muda di bawah 30 tahun ini di 15 bidang,mulai art & style, Hollywood, finance, technologi, social entrepreneurs, media, sampai game-apps.
KEBANGKITAN SUPERTEMP
Supertemp adalah professional dan top manajer di berbagai bidang (legal, teknologi, finance, sampai teknologi informasi) yang berlatar belakang pelatihan dari sekolah dan korporat terbaik, dan yang memilih bekerja secara independen (pekerja lepas).
Fenomena ala Nick & Slummly sering disebut start up yang disruptive innovation karena sifatnya mengguncang pasar (Prahalad)
Di AS, saat ini, 16 juta orang yang bekerja secara independen. Menurut riset MBO Partners, jumlah ini akan terus berkembang.
Mereka semakin dipercaya perusahaan-perusahaan untuk menggarap proyek-proyek kritis yang sebelumnya, dikerjakan karyawan tetap. Uniknya, supertemp, bebas memilih proyek yang mau mereka kerjakan.
Supertemp menawarkan kebebasan dan fleksibilitas baru untuk pekerja dengan keahlian tinggi. Bagi perusahaan, peluang baru untuk tumbuh dan berinovasi bagi korporat.
Gelombang internet, kini mendorong perusahaan perusahaan mengakselerasi kinerja perusahaan dari dua sisi yaitu cocreation (mengadopsi creative consumer-supertemp, bukan hanya lead user) dan growth strategy (aliansi, merger & akuisisi).
Creative consumer dibahas tuntas oleh Berthon, Pitt, McCarthy, M.Kates di makalahnyaWhen Customer get clever. Managerial Approach to dealing with creative consumer.
Supertemp dan startup yang disrupted-innovator, menjadi elemen habitat yang krusial. Mereka menciptakan multisided platform (Komunitas yang saling tergantung dan menciptakan nilai bersama). Google adalah pemrakarsa awal (Korporat-content creator/media-advertiser-konsumen) habitat tadi.
Beberapa contoh cocreation adalah Coca Cola lewat program co-cretion eYeca: Energizing Refreshment, sepatu Tom (Tom.com), Starbuck Coffee,IBM, Google, BMW co-creation lab (www.bmwgroup-cocreationlab.com), dan Modcloth (www. Modcloth.com).
FORBES START UP <30
Fenomena supertemp dan startup disrupted innovator ini kemudian memicu majalah Forbes (www.forbes.com) membuat laporan khusus tahunan. Disruptor, innovator, dan pengusaha muda (karena berusia di bawah 30 tahun) ini kemudian dikelompokkan dalam 15 kategori. Mereka dinilai “geregetan” untuk mengubah dunia.
Di setiap 15 kategori, mulai dari energy sampai Hollywood, editor-editor dan reporter Forbes bekerjasama dengan panel ahli untuk memilih bintang-bintang yang paling moncer yang berusia di bawah 30. Tahun ini, salah satu bintang itu adalah Nick D’Aloisio.
Disruptor, innovator, dan pengusaha muda (karena berusia di bawah 30 tahun) ini kemudian dikelompokkan dalam 15 kategori. Mereka dinilai “geregetan” untuk mengubah dunia.
Nama lain adalah Mark Zuckerberg (penemu Facebook), LeBron James, Danielle Fong (cofounder LightSail Energy) dan Alexander Wang (Direktur kreatif di French House Balenciaga).
Bagaimana dengan di Indonesia? Disruptor yang inovatif sebetulnya juga mulai banyak bermunculan terutama di industry digital. Salah satu contohnya adalah Wahyu Aditya pendiri sekolah animasi HelloMotion. Yang perlu dibangun mungkin adalah memperbanyak venture capitalist atau angle investor lokal dalam skala korporat. Tujuannya, sebagai bagian dari strategi growth korporat.
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.