RSS FEEDLOGIN

SINGAPURA: Pertumbuhan penduduk rendah, Lee Hsien Loong pusing

Adi Ginanjar Maulana   -   Rabu, 28 November 2012, 08:42 WIB

TERKAIT

  • No news.

POPULER

PILIHAN REDAKSI

SINGAPURA-- Perdana Menteri Lee Hsien Loong mengatakan mendorong warga untuk memiliki lebih banyak anak adalah tantangan terbesar yang dihadapi negara pulau jika ingin tetap menjadi negara raksasa ekonomi. 

Pemerintah belum berhasil menyakinkan warga bahwa "ini akan menjadi rumah pensiun dan bukan keindahan kota" jika populasi unsustained.  "Kita akan berurusan dengan itu selama 10 tahun ke depan, dan lebih lama," katanya tentang warisan tingkat kelahiran jatuh, dalam wawancara di kantornya di Singapura pada 26 November lalu.Lee, yang emamsuki tahun kesembilan sebagai perdana menteri, berencana meluncurkan paket kebijakan pada Januari 2013 yang bertujuan meningkatkan tingkat kesuburan dari 1,2 per wanita. Ini dilakukan dengan mempertaruhkan prestasi ekonomi yang telah diubah perdagangan bebas, pembinaan yang lebih tinggi soal nilai manufaktur dan memelihara bisnis dan layanan seperti perjudian dan perawatan kesehatan.

"Anda harus mampu untuk melembagakan apa yang telah kita capai," kata Lee tentang tugas terpentingnya bagi negara setelah pertumbuhan di bawah pimpinan mantan Perdana Menteri Lee Kuan Yew, ayahnya.

Sementara negara-negara maju dari Jerman ke Jepang telah berjuang keluar dari jatuhnya tingkat kelahiran, untuk ukuran Singapura -5,3 juta orang di sebuah pulau kecil dibandingkan New York City - itu berarti tidak akan memiliki kekuatan permintaan domestik yang lebih besar guna merangsang ekonomi dan mempertahankan pertumbuhan.

Ekspor nonmigas dalam negeri setara dengan satu setengah kali dari produk domestik bruto negara itu.

"Ini adalah masalah di banyak negara," kata Lee. "Tak satu pun dari mereka belu memnemukan solusi yang sangat memuaskan karena trade-off-nya sulit."

Lebih dari empat dekade setelah kemerdekaan, wanita negara yang berada di Asia Tenggara itu yang hanya mengejar kemajuan ekonmi dan hampir tidak menghasilkan anak yang cukup untuk mengganti salah satu orangtua.

Para pembuat kebijakan telah mencoba dan gagal untuk membalikkan tren menurun sejak 1987, dan handout sebanyak S$18,000 ($14,700) per anak, memperpanjang cuti hamil dan keringanan pajak telah dilakukan untuk mendorong Singapura guna memiliki lebih banyak bayi.

Pemerintah akan membahas kebijakan populasi di Parlemen pada Januari, kata Lee dalam satu wawancara.

Kebijakan yang dipertimbangkan mencakup memprioritaskan perumahan untuk pasangan muda, ayah atau cuti bersama, biaya medis anak, baik prasekolah dan tunjangan kas yang lebih baik untuk memiliki anak, kata Lee pada Agustus.

Usia rata-rata Singapura diupayakan untuk meningkat menjadi 43,1 pada 2020 dari 37,6 pada 2010, demikian perkiraan analis Bank of America Corp dalam laporan April, sedangkan di Filipina 23,9, Indonesia 31 dan Malaysia 28,4 pada akhir dekade ini.

"Ini akan sulit, dan kita hanya akan berupaya melakukan peningkatan marginal dalam angka kelahiran," kata Chua Hak Bin, ekonom pada Bank of America yang telah mempelajari dampak imigrasi Singapura dan kebijakan pekerja asing.

"Keberhasilan upaya terdahulu hanya sedikit. Tanpa imigrasi dan pekerja asing, Singapura mungkin menderita nasib yang sama seperti Jepang, suram. "

Imigrasi telah mengisi kesenjangan bagi pengusaha, pola yang menempatkan strain di pasar perumahan dan pelayanan publik. Singapura adalah tuan rumah bagi 2 juta warga asing, dibandingkan dengan 3,3 juta warganya sendiri. 

Harga rumah naik ke rekor pada kuartal ketiga, bahkan setelah pemerintah memperkenalkan enam putaran langkah-langkah sejak awal 2010 untuk mengendalikan permintaan. 

Gelembung Kepedulian 

"Kami telah memiliki booming properti, bahkan hampir bubble," kata Lee, yang sebelumnya memimpin bank sentral, menteri keuangan dan perdagangan dan belajar matematika di Universitas Cambridge. "Itu karena likuiditas di sekitar suku bunga di seluruh dunia berlebih, itu negatif," katanya. "Secara keseluruhan itu masalah yang sulit bagi pasar properti kami."

"Singapura, yang menggunakan nilai tukar untuk mengelola inflasi, mungkin tidak akan beralih ke rezim suku bunga untuk memiliki kontrol lebih besar atas biaya pinjaman, kata Perdana Menteri.

"Ini akan sangat sulit," katanya di kantornya di Istana, yang dibangun di masa kolonial Inggris dan berganti nama setelah pemerintahan sendiri pada 1959 dengan menggunakan bahasa Melayu untuk istananya.

"Ekonomi kita sangat terbuka. Kami adalah pusat keuangan. Bagi kami untuk mempertahankan suku bunga tinggi pada waktu di mana tingkat suku bunga di seluruh dunia berada di hampir nol, saya pikir sangat sulit. Kami akan dibanjiri dengan uang." (Bloomberg/msb) 

Source : Martin Sihombing

Editor :

Komentar :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.