RSS FEEDLOGIN

SETIOBUDHI SOEMARTONO: RI Perlu Energi Berbasis Lokal

Aprianto Cahyo Nugroho   -   Rabu, 24 Oktober 2012, 07:05 WIB

TERKAIT

  • No news.

POPULER

PILIHAN REDAKSI

JAKARTA: General Electric (GE), perusahaan penyedia teknologi kelas dunia baru-baru ini bekerja sama dengan PLN.Perusahaan itu dan PLN menggarap proyek percontohan pembangkit listrik tenaga biomass berbahan bakar serpihan kayu berkapasitas 1 MW di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT).Letter of Intent (LoI) antara GE dan PLN ditandatangani di sela-sela acara The 19th Conference on Electric Power Supply Industry (CEPSI) di Nusa Dua, Bali belum lama ini.Bisnis berkesempatan mewawancarai Setio­budhi Soemartono, Market Development Director GE Indonesia, tentang solusi di bidang energi baru terbarukan. Berikut petikannya.Sejak 1940 sampai sekarang, bagaimana perjalanan bisnis GE di Indonesia?GE di Indonesia me­­mang sudah mulai dari 1940-an, sudah ada peralatan kami yang mulai digunakan di Indonesia seperti lokomotif yang dipakai PT KAI. Kami terus ber­kembang termasuk sektor kelistrikan.Gas turbin GE sudah banyak digunakan PLN seperti di pembangkit Muara Karang dan Tambak Lorok. Dari segi energi manajemen, kaitannya dengan transmisi dan distribusi.Sementara di migas, kami punya turbo machinery yang contohnya digunakan oleh Total E&P Indonesie.Kami juga menyediakan teknologi drilling. Selain itu, kami masih punya bisnis GE healthcare, seperti peralatan medis untuk rumah sakit, serta home and bussiness solution seperti produk lampu.Untuk lampu ini memang tidak terlalu besar di Indonesia, tapi kami punya pabrik lampu di Sleman, Yogya.Sepanjang tahun ini, bisnis mana yang paling tumbuh?Dua bisnis yang sangat menonjol tahun ini adalah GE aviation, ada banyak order dari Lion Air dan Garuda Indonesia.Kemudian lokomotif, dari PTKA kami memenangkan tender 100 loko baru di 2012.Dua hal itu yang menopang pendapatan kami di 2012. Tapi kami tidak bisa disclose angkanya.Tahun ini kami juga sudah berhasil membangun kerja sama dengan beberapa pihak, termasuk Garuda Indone­sia dan Pertamina terkait talent development program.Bagaimana proyeksi bisnis dan rencana investasi 2013?Kami memang didorong untuk terus tumbuh, at least double digit pertumbuhannya tapi kami belum bisa menyebutkan angkanya.Kami optimistis melihat 2013 ka­­rena sudah ada beberapa proyek yang kami harapkan akan jadi tumpuan kami di luar yang kami sudah punya sekarang, seperti proyek migas.Pemerintah sudah mendorong dengan kuat di sektor migas, jadi kami harus mendukung itu.Kami juga diberi keleluasaan oleh perusahaan terkait di bagian mana kami harus investasi. Banyak sekali yang bisa dilakukan tahun depan.Kami berencana membangun service organization dan training center di Indonesia.Apa ada rencana membangun pabrik di Indonesia?Ada, kami masih mengkaji tiga lokasi, antara di Cikarang, Su­­ra­baya, dan Bandung. Tapi itu belum kami putuskan.Itu untuk manufaktur peralatan transmisi dan distribusi listrik. Sebelumnya, kami juga sudah punya repair shop di Ban­dung serta pabrik peralatan migas di Batam.Bagaimana perkembangan GE Indonesia dibandingkan negara lain di region Asean?Tahun lalu, GE di Asean mencatat penjualan mendekati US$3 miliar.Selain di Indonesia, kami memiliki kantor di Malaysia, Viet­nam, Thailand, Filipina, Singapura, Brunei Darussalam, Kamboja, dan sebentar lagi di Myanmar.Jika dibandingkan negara-negara itu, Indonesia masih nomor dua. No­­mor satunya masih Malaysia karena bisnis migas di sana tinggi sekali, melalui Petronas.Namun tahun ini ka­­mi menargetkan Indonesia no­­mor satu di Asean. Sejalan triwu­lan III ini saya rasa kami sudah menuju ke sana.Solusi apa yang ditawarkan GE untuk pemenuhan kebutuhan energi di Indonesia?Ada tiga pilar utama yang GE lakukan di Indonesia yaitu membawa teknologi baru, memberikan solusi yang dibutuhkan Indonesia, dan membangun orang Indonesia.Dalam hal memberikan solusi, contohnya adalah proyek percon­tohan berupa teknologi untuk pembangkit listrik tenaga biomass berbahan bakar serpihan kayu berkapasitas 1 MW di Pulau Sumba ini.Di pulau-pulau dan pedesaan, tidak ada teknologi yang bisa menggantikan diesel dalam membangkitkan listrik.Sebenarnya ada tenaga matahari, tapi itu pun kecil sekali dan investasinya mahal. Listriknya juga tidak seandal diesel.Tapi seperti kita tahu, menggunakan diesel itu juga sangat boros dan mahal. Jadi solusinya adalah memanfaatkan keadaan lokal.Ten­tu kita butuh pembangkit listrik yang bersih dengan teknologi yang proven, seperti di Pulau Sumba ini.Apakah teknologi ini sudah ditawarkan ke pengembang listrik swasta (IPP)?Memang ini teknologi yang betul-betul baru kami perkenalkan ke PLN dan PLN setuju untuk mema­kainya. IPP-nya belum percaya dengan teknologi ini.Mungkin biar PLN mencobanya dulu. Dan PLN sudah berhasil kami yakinkan.Sebenarnya hampir semua peralatan yang dibutuhkan oleh sebuah pembangkit listrik itu kami punya. Kami memposisikan diri sebagai technology provider.Makanya harus ada suatu inovasi yang betul-betul tepat dengan masalah yang dihadapi Indonesia yaitu jarak, ukuran, dan jumlah.Di sisi lain, rasio elektrifikasi di Indonesia masih rendah, masih banyak daerah yang gelap. Jadi potensi di sektor listrik sebenarnya masih besar.  (ra)

Editor :

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.