RSS FEEDLOGIN

SEPEDA MOTOR: Penjualan April Diprediksi Anjlok 10%

Agust Supriadi   -   Minggu, 28 April 2013, 18:37 WIB

TERKAIT

POPULER

PILIHAN REDAKSI

130410_motor-1.jpgBISNIS.COM, JAKARTA—Pasar sepeda motor Indonesia diprediksi terkoreksi sekitar 10% pada bulan ini dibandingkan dengan penjualan bulan sebelumnya akibat terkena dampak pengetatan uang muka pembiayaan syariah.  

Salah satu agen pemegang merek, PT. Astra Honda Motor (AHM), bahkan memperkirakan penjualan produknya kemungkinan besar turun sekitar 5% pada April dibandingkan dengan pencapaian Maret.

Thomas Wijaya, Deputi General Manager PT. Astra Honda Motor (AHM), menuturkan sejumlah kebijakan pemerintah di sektor energi dan keuangan bisa berdampak positif atau negative terhadap industri sepeda motor.

Khusus di sektor keuangan, dengan diberlakukannya pengetatan aturan uang muka pembiayaan syariah per 1 April lalu, dampaknya dapat dipastikan negatif.

“Kalau aturan DP [uang muka] sudah pasti negative dampaknya. Kami perkirakan penjualan April-Mei ini akan terkoreksi sekitar 5%-10% dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Bisa stabil saja sudah untung. Honda sendiri sepertinya akan terkoreksi sekitar 5%,” ujarnya kepada Bisnis hari ini, Minggu (28/4/2013).

Di sisi lain, lanjutnya, jika harga premium untuk mobil pribadi jadi naik menjadi Rp6.500 per liter, maka bisa membuat sebagian pengguna mobil beralih ke sepada motor. Akan tetapi, itu juga sangat tergantung sebera besar dampaknya terhadap pembentukan inflasi karena jika terlalu tinggi maka membuat daya beli menurun.

“Kalau melihat trennya, bisa saja terjadi rebound pada juni atau Juli, menjelang lebaran. Tapi kalau dibandingkan dengan tahun lalu, kemungkinan tidak akan tumbuh,” katanya.

Terlebih, tambah Thomas, harga-harga komoditas belum menunjukan perbaikan atau bahkan cenderung turun. Hal itu sudah pasti menggerus penjualan motor di daerah, yang rata-rata menyumbang sekitar 40% dari total pasar nasional.

“Bahkan ada yang pasarnya di daerah sudah berkurang menjadi 30%,” katanya.

Menurut Thomas, jika kecenderungan pasar terus turun, maka produsen akan bersikap pragmatis, dengan menyesuaikan dari sisi produksi. “Produsen pasti akan menjaga antara demand dan supply agar tidak terjadi kelebihan stok,” tandasnya. 

Editor : Sutarno

Komentar :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.