JAKARTA: Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia menilai kebijakan pemerintah tidak berpihak pada pedagang kecil jika sampai merealisasi makin banyaknya ritel merek asing apalagi berkelas dunia masuk ke pasar eceran di dalam negeri.Sekjen APPSI Ngadiran mengatakan jika pemerintah tetap memberikan izin bertambah banyaknya pemain ritel asing di dalam negeri, bisa berdampak pada penataan ruang areal belanja antara pedagang besar dan kecil seperti pedagang di pasar tradisional menjadi tidak adil.“[Kalau pemerintah] nekad memberi izin [makin banyak peritel asing masuk ke dalam negeri, kami nilai] kebijakan pemerintah tak berpihak,” kata Ngadiran saat dihubungi lewat telepon genggamnya hari ini.Ngadiran mengatakan pihaknya setiap kali selalu berteriak jika mengetahui ada rencana pemerintah akan memberi izin peritel asing kuat untuk ambil bagian di pasar di Indonesia.Namun, ujarnya, pada kenyataannya terus saja bertambah merek ritel asing yang ikut ambil bagian menggarap konsumen di dalam negeri yang memang kekuatan daya belinya sampai saat ini terus membaik, meski terjadi krisis ekonomi global.“Kami tak setuju, tapi mereka kasih izin [merk ritel asing ke dalam negeri],” kata Ngadiran.APPSI menilai untuk menata pasar eceran di dalam negeri perlu dilakukan revolusi atas 4 hal, yaitu adanya perubahan kebijakan ekonomi makro, perubahan atas segala kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak pada pedagang kecil, revolusi untuk melakukan penataan ruang yang tak adil, serta kebijakan impor agar tidak mematikan barang dalam negeri.Seperti diketahui convenience store Lawson ‘unjuk gigi’ menyaingi merk asing format sejenis yang sama-sama Jepang yaitu 7-Eleven dan Circle-K, dan akan segera disusul convenience store lainnya yaitu merek Family Mart yang lagi-lagi merupakan ritel asal Jepang. Family Mart masuk ke Indonesia menggandeng Wings Group.Sebelumnya 7-Eleven menggandeng Modern Grup, kemudian Lawson menggandeng PT Midi Utama Indonesia Tbk yang merupakan pemain ritel format minimarket dengan merek Alfa Midi dan Alfa Express..Sementara Metro AG asal Jerman yang menjadi pemain raksasa dunia juga siap dengan menggotong format pusat perkulakan.
Meski format gerai skala besar seperti supermarket dengan luas lahan belanja di atas 1.200 m2 dan hipermarket boleh 100% asing, namun Metro AG datang ke Indonesia kabarnya dengan menggandeng Grup Sintesa.(api)
Editor :
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.