SAAT hendak menulis kolom ini, kebetulan sebuah kiriman email masuk ke peranti genggam saya. “Undangan Liputan Launching Buku Republik Galau,” begitu subjek e-mail tersebut.
Membaca subjek email itu, saya langsung tahu bakal ada peluncuran buku baru. Judul bukunya sangat ngepop: Republik Galau. Sub judul buku itu pun cukup galak: “Presiden Bimbang, Negara Terancam Gagal”.
Tentu saya tidak bermaksud mempromosikan buku itu, apalagi sama sekali tidak tahu isi bukunya macam apa. Lantas mengapa harus mengawali tulisan dengan menyinggung buku tersebut?
Ya. Karena tergelitik saja. Coba deh amati. Betapa gampangnya sekarang ini, setelah era demokrasi dan reformasi, orang mengeritik dan menguliti orang lain, tokoh bangsa, bahkan terhadap Kepala Negara sekalipun.
Bahkan kritik datang dan masuk ke ruang publik dengan berbagai cara, opini di media massa, penulisan buku, atau malahan talk show di televisi.
Bukan bermaksud membela pula, kalau kemudian saya harus menyayangkan, tidak ada kesempatan bagi Presiden untuk melakukan klarifikasi pada forum yang sama. Penilaian, kritik, dan aneka label personal pun dengan bebas melenggang ke ranah publik begitu saja.
Kalau cara pandang sok tahu itu saya tuangkan di ranah publik pula, maka ini hanyalah semacam keprihatinan sebagai warganegara dan rakyat biasa. Apalagi sebagai rakyat biasa, hampir tiap hari mendengar keluh kesah dan ‘gunjingan’ personal tentang Presiden-nya.
Mohon maaf kalau saya sok tahu pula dengan keyakinan bahwa Presiden pun tahu bahwa banyak orang sering ngrasani dan mengecamnya. Namun sebagai Kepala Negara, menurut keyakinan sok tahu saya, Presiden hendak merawat demokrasi, dan menjaga suasana demokratis yang sedang kuncup.
Lagi-lagi naluri sok tahu saya mengatakan, Presiden juga berupaya keras menunjukkan tekad untuk tidak membelenggu apa yang disebut kebebasan berekspresi. Maka, ekspresi kebebasan itu kini menjalar ke mana-mana. Ke ruang-ruang bising hingga bilik-bilik senyap. Kritik yang gaduh namun tak berjawab.
***
Bukan bermaksud membanding-bandingkan pula ketika saya menulis kisah lembaga Kepresidenan di kolom ini. Jika di era sekarang begitu bebas, lain lagi di era kepemimpinan Pak Harto yang begitu bertolak belakang. “Berani macem-macem, tak gebuk.” Begitu kira-kira jargon di masa lalu.
Bahkan media pun menghadapi ancaman breidel atau pencabutan izin usaha jika dianggap melanggar privacy negara atau para pemimpinnya. Itu kekuatan, meski kadang kerap dianggap sebagai sisi gelap Pak Harto.
Namun, tahukah Anda banyak sisi terang-nya pula? Baru-baru ini saya mendapatkan cerita yang dikisahkan tokoh pengusaha senior tentang banyak sisi terang Pak Harto. Katanya, ada landasan filosofi kuat yang menopang Pak Harto mampu memimpin Indonesia lebih dari 32 tahun, yakni “3N”: Naluri, Nalar dan Nurani.
Filosofi yang sangat nJawani. Naluri atau insting, saya kira Anda tahu, maksudnya berbuat berdasarkan “bisikan hati”. Namun, “bisikan hati” tetaplah harus diuji dengan Nalar, atau logika dan akal sehat.
Itu pun tidak cukup, karena uji nalar harus disertai bimbingan Nurani. Maka, tiga prinsip itulah yang menyelamatkan. Ada spirit religiusitas di situ. Dan keyakinan sok tahu saya mengatakan, tiga prinsip itu adalah esensi kejujuran. Karenanya jangan sampai ingkar janji. Begitu mangkir, maka Tuhan akan mengutuk. Kutuk berarti kegagalan.
Interpretasi saya yang sok tahu itu begitu nyambung. Apalagi, kebetulan kisah ini diceritakan seorang tokoh pengusaha senior, yang petuah-petuahnya sangat menginspirasi saya. Karena itu, selalu saja ada nilai kehidupan yang dapat saya petik manakala bertemu dengan pengusaha senior yang kehidupan pribadinya sangat dekat dengan Pak Harto itu.
Namun keyakinan sok tahu saya lagi-lagi membisikkan untuk tidak menuliskan nama tokoh tersebut, demi privacy beliau. Apalagi tokoh ini memang memiliki nilai-nilai personal yang sangat humanis, ngewongke uwong, dan waskito. Kata terakhir ini kurang lebih bermakna orang yang punya pandangan tajam, jernih dan dalam.
***
Maka saya sepakat banyak orang merasa galau akhir-akhir ini. Galau dalam kamus berarti pikiran yang sedang kacau sekali atau gelisah nggak keruan.
Namun, di tengah kita banyak orang galau bukan karena mau bertemu teman kencan seperti anak baru gede yang lagi belajar pacaran, melainkan karena akumulasi kekecewaan atas ekspektasi yang terlalu berlebihan.
Ekspektasi yang tinggi, bagaimanapun, harus kembali duduk ke bumi. Jika sudah begitu, kita akan jauh lebih realistis. Sikap yang realistis menjadi obat yang menyembuhkan kekecewaan. Betapapun kecewa Anda, ucapkanlah ungkapan terimakasih.
Ini seperti menghadapi Guru di sekolah. Anda boleh kecewa terhadap Guru sekolah; entah terlalu galak, atau sebaliknya terlalu lembut, atau terlalu reseh. Tetapi tetap saja merekalah yang membuat kita menjadi lebih pintar. Maka tak ada salahnya berterimakasih.
Buat saya, tak ada urusan jika harus berterimakasih kepada Fauzi Bowo yang telah menyelesaikan kepemimpinannya di Jakarta selama 5 tahun dengan baik meski banyak kekecewaan di sana-sini, dan memberi jalan lebih mulus kepada Joko Widodo untuk membangun Jakarta menjadi lebih baik lagi.
Saatnya nanti, kita perlu pula berterimakasih kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang telah mengantarkan Indonesia menjadi seperti sekarang ini: negeri dengan pendapatan perkapita lebih dari US$4.000 per tahun, masuk kembali ke layar radar investor global, dan tetap mampu tumbuh dengan kecepatan relatif tinggi di tengah “kegalauan ekonomi” banyak negara di luar sana.
Ini seperti memutar jarum jam. Dulu kita beramai-ramai menghujat Pak Harto karena label KKN alias korupsi, kolusi dan nepotisme, dan lupa berterima kasih atas kemajuan Indonesia yang luar biasa berkat trilogi pembangunan yang diletakkannya, yakni stabilitas, pertumbuhan dan pemerataan. Dan baru sadar sekarang.
Ah, jangan-jangan saya dicap sok tahu dengan satu paragraf tadi. Namun, apa boleh buat, ego sok tahu saya terlanjur mengatakan: banyak orang sok tahu, yang suka membuat opini sok tahu, dengan pandangan-pandangan sok tahu yang meyakinkan. Sayangnya masyarakat mudah pula menelan dengan spirit sok tahu yang menyesatkan.
Nah, lho. Jangan sampai lantas kita merelakan orang menyebut negeri ini seperti Republik Sok Tahu. Atau jangan-jangan nanti ada yang bikin buku baru berjudul Negeri Sok Tahu. Berabe kita. Bagaimana menurut Anda? (ab@bisnis.com)
*) Kolom ini diadopsi dari POJOK KAFE Bisnis Indonesia edisi Sabtu, 20 Oktober 2012.
INGIN MEMBACA berita-berita dan memperoleh referensi terpercaya dari harian Bisnis Indonesia? Silahkan klik epaper.bisnis.com. Anda juga bisa berlangganan epaper Bisnis Indonesia dengan register langsung ke Bisnis Indonesia edisi digital.
Editor :
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.