WASHINGTON: Indonesia menjadi salah satu negara terdepan dalam menghadapi teror perubahan lingkungan. Meski demikian, sejumlah inisiatif berkaitan dengan antisipasi terhadap perubahan iklim masih harus diperkuat oleh regulasi pemerintah.
Hal tersebut dikemukakan Rachmat Gobel, Ketua Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), saat berbicara pada diskusi Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington, Selasa (23 Okt) atau Rabu waktu Indonesia.
Diskusi yang dipandu Ernest Z. Bower, Dekan Mata Kuliah Asia Tenggara CSIS, itu membahas tantangan yang dihadapi Indonesia serta inovasi yang dapat dilakukan dalam menanggulangi masalah perubahan iklim dan lingkungan.
"Saya tidak melebih-lebihkan ketika saya mengatakan Indonesia merupakan negara terdepan dalam melawan teror perubahan lingkungan," kata Rachmat yang juga Presiden Komisaris Panasonic Gobel Indonesia itu.
Dalam paparannya Gobel menguraikan sepanjang dekade terakhir, pemerintah yang didukung sektor swasta telah banyak mengambil inisiatif dalam mengatasi perubahan iklim dan lingkungan.
Tahun lalu, pemerintah juga mengumumkan moratorium izin pengusahaan hutan baru, selain telah menetapkan target pengurangan emisi gas rumah kaca hingga 672 juta ton pada 2020, bahkan menjadi 1 miliar ton jika negara maju memberikan bantuan.
Meski begitu, dia mengakui masih banyak tantangan yang harus dijawab Indonesia dalam mengatasi dampak buruk perubahan iklim. Termasuk diantara tantangan itu adalah perlunya mengubah kebijakan energi dan industri yang lebih berorientasi lingkungan (green industry).
Dari sisi kebijakan, dia percaya inisiatif green industry akan lebih efektif jika ditopang kebijakan insentif yang jelas dari pemerintah, termasuk ketegasan daam pemberian subsidi bahan bakar.
Ernest Z. Bower juga menyebutkan isu mengenai perubahan iklim dan lingkungan merupakan slah satu tantangan penting. "Banyak pebisnis swastabekerjasama dengan pemerintah dan orgaisasi non-pemerintah untuk mengatasi hal tersebut serta berinovasi mengurangi dampak dan bahaya perubahan iklim bagi lingkungan," katanya.
Diskusi itu dihadiri sejumlah kalangan termasuk mantan Dubes AS untuk Indonesia Robert Gilbart, mantan Wakil Dubes Ted Osius dan sejumlah aktivis serta media.
Editor :
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.