RSS FEEDLOGIN

'Potensi bawang besar, produksi belum maksimal'

  -   Selasa, 25 September 2012, 12:17 WIB

TERKAIT

  • No news.

POPULER

PILIHAN REDAKSI

JAKARTA: Sejak 1990 atau sekitar 22 tahun PT East West Seed Indonesia (Ewindo), perusahaan benih hortikultura, membantu mengembangkan dan memproduksi benih untuk kebutuhan petani di Tanah Air.Pada awalnya, Ewindo butuh waktu 6 tahun, tepatnya 1996 produkya diterima konsumen dan pasar. Kini, produsen benih cap Panah Merah itu sudah bermitra dengan 10 juta petani di Indonesia. Namun, masih ada satu pekerjaan rumah yang kini belum tuntas, yakni merangkul sekaligus memperbaiki taraf hidup petani bawang.Apa saja problem mendasar pemberdayaan petani dan pengembangan komoditas bawang nasional. Berikut petikan wawancara Bisnis dengan Presiden Direktur Ewindo Glen Pardede:Bagaimana kondisi umum industri benih dan pengembangan tanaman hortikultura nasional?Relatif lebih baik, tren terus tumbuh sejak 5 tahun terakhir. Secara umum per tahun rata-rata tumbuh 5%-10%. Ewindo juga tumbuh 2 digit per tahun. Kondisi ini sangat menggembirakan dibandingkan dengan 10 tahun-20 tahun silam. Petani baik di perdesaan maupun perkotaan semakin banyak yang beralih ke tanaman hortikultura. Ewindo, misalnya hingga kini membina dan bekerj sama dengan 10 juta petani di sejumlah daerah.Tanaman apa yang perlu mendapatkan perhatian serius dari perusahaan terkait dengan peningkatan kesejahteraan petani?Kami sedang mengupayakan kembali untuk merangkul petani bawang di sejumlah sentra penghasil bawang di Brebes, Tegal, dan Cirebon. Kami baru bisa menggandeng sekitar 1.000 petani. Padahal, petani bawang semakin kurang beruntung karena produktivitas tanaman tidak maksimal dan harga jatuh pada saat musim panen.Bagaimana kondisi pengembangan tanaman bawang di Indonesia?Potensinya cukup besar dengan luas lahan sekitar 80.000 hektare, tetapi produktivitas belum maksimal. Namun, hampir setiap  tahun terjadi gonjang-ganjing harga. Saat musim panen hampir selalu petani dirugikan, produksi bawang mereka hanya dihargai Rp1.500 per kg-Rp2.000 per kg. Selain itu, masalah tingginya biaya produksi, rata-rata per ha sekitar Rp50 juta, terdiri dari modal pengadaan benih Rp30 juta dan biaya lain-lain Rp20 juta.Namun, out put tanaman hanya sekitar 10 ton per ha. Jika bawang mereka dihargai Rp5.000 per kg yang berarti sama dengan biaya produksi per ha, terlalu mahal dan tidak efisien bersaing dengan bawang impor yang lebih murah. Sebaliknya, jika bawang petani hanya dihargai Rp2.000 per kg-Rp3.000 per, pasti mereka rugi.Upaya apa yang akan dilakukan Ewindo untuk meningkatkan kesejahteraan petani bawang?Sebenarnya kami telah membantu peningkatan produktivitas bawang pada 6-7 tahun silam dengan menawarkan benih bawang Tuk-Tuk. Dengan benih ini petani hanya mengeluarkan Rp4 juta-Rp5 juta per ha atau sekitar 4 kg benih, atau total biaya sekitar Rp25 juta (termasuk pupuk dan biaya lain).  Benih Tuk-Tuk minimal menghasilkan 20 ton-30 ton per ha. Jika modal tanam petani Rp25 juta dan menghasilkan produksi 25 ton per ha, artinya ongkos produksi Rp1.000 per kg.Jika terjadi gonjang-ganjing harga saat panen, turun menjadi Rp2.000 per, petani bawang masih untung.Namun, karena kurang sabar kami tidak bisa merangkul banyak petani. Selama 2 tahun hanya sekitar 2 ton benih yang dikonsumsi petani bawang. Waktu itu kami juga kurang fleksibel dalam memasarkan, hanya melayani petani yang punya lahan 1 ha.Apa yang akan dilakukan Ewindo agar petani yakin mengkonsumsi biji bawang ketimbang menanam lahan dengan umbi?Kami berencana melakukan relaunching pada Oktober ini. Ewindo akan mengubah cara pemasaran dan merangkul lebih banyak petani bawang. Kami akan melayani petani yang punya lahan di bawah 1.000 m2. Hanya punya 500 m2 ataupun 200 m2 kami layani. Minimal kami membidik 8.000 ha atau sekitar 10% dari total lahan bawang nasional untuk dilayani benih bawang Tuk-Tuk. Saat ini kami baru melayani kebutuhan benih bawang untuk 500 ha lahan bawang.Kami bisa memenuhi berapa pun permintaan biji bawang petani, karena kami bisa mendatangkan biji benih dari sejumlah negara.(api)

Pewawancara: Bambang Supriyanto

Editor :

Layak Disimak

Komentar :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.