BISNIS.COM, JAKARTA-- Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cenderung bergantung pada sektor non-tradable dinilai tidak memberikan multiplier effect yang signifikan untuk masyarakat kecil.
Ahmad Erani Yustika, Direktur Eksekutif INDEF, mengatakan laju pertumbuhan sektor non-tradable dengan tradable memiliki kesenjangan yang cukup besar sehingga mutu pertumbuhan ekonomi Indonesia masih belum baik.
"Pemerintah terbuai dengan capaian pertumbuhan ekonomi yang tercatat tertinggi kedua di kawasan Asia, sehingga melupakan keseimbangan sumber pertumbuhan dan keseimbangan antara sektor riil [tradable] dan non-tradeble," ujarnya di sela-sela Evaluasi Ekonomi Triwulan I 2013 hari ini, Selasa (9/4/2013).
Padahal, lanjutnya, sektor tradeble yang meliputi pertanian, pertambangan dan manufaktur banyak menyerap tenaga kerja dibandingkan dengan sektor non-tradeble seperti komunikasi, jasa dan keuangan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) laju pertumbuhan sektor non-tradeble pada 2012 mencapai 8,15%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan sektor tradeble yang berada pada level 3,73%, jauh dibawah sektor non-tradeble.
Ekonom INDEF Enny Sri Hartati mengemukakan dengan kondisi tersebut, pemerintah segera melakukan langkah fundamental untuk menghadapi potensi peningkatan pengangguran dan kemiskinan bisa meningkat sebagai akibat dari kesenjangan pertumbuhan antara sektor tradeble dan non-tradeble.
"Angka kemiskianan pasti akan berkurang jika ada pembukaan lapangan kerja dengan lebih mendorong pertumbuhan sektor tradeble," ujarnya.
Berdasarkan data BPS, angka kemisikinan di Indonesia per September 2012 mencapai 28,59 juta atau setara dengan 11,6% dari total penduduk.
Angka ini hanya berkurang sebesar 0,30% saja jika dibandingkan dengan jumlah penduduk miskin pada Maret 2012 yang mencapai 29,13 juta atau sekitar 11,96% dari total penduduk Indonesia.
Sebelumnya, Menteri Perencanan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas Armida S. Alisjahbana mengemukakan pemerintah saat ini lebih berfokus pada pencapaiaan target pengentasan kemiskinan pada angka 8%-10% hingga 2014.
Editor : Sutarno
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.