RSS FEEDLOGIN

PERSPEKTIF: Stock Split, Adakah Muatan Sinyal Fundamental

Editor   -   Senin, 18 Maret 2013, 11:21 WIB

TERKAIT

POPULER

PILIHAN REDAKSI

130318_perspektif.jpgKetika melakukan pemecahan saham (stock split) tahun lalu, harga saham BBRI masih berada di kisaran Rp12.000 per saham. Setelah satu saham dipecah menjadi 2, kini harganya menjadi Rp9.000.

Demikian juga ketika ASII memecah satu saham menjadi sepuluh saham baru, beberapa waktu lalu, harga ex split yang saat itu sekitar Rp7.000, kini mengambang di seputar Rp8.000.

Ketika ARNA mengumumkan mau melakukan pemecahan saham, harga sahamnya naik hampir 4%. Bisakah semampan kue menjadi lebih mahal hanya dengan mengirisnya menjadi irisan irisan yang lebih kecil?

Di Bursa Efek Indonesia (BEI) ada dua cara popular untuk membuat harga saham menjadi lebih terjangkau, sekaligus menambah jumlah saham yang beredar: saham bonus dan stock split. Pada yang pertama, tidak terjadi pengerdilan nilai nominal. Yang dilakukan adalah mengkapitalisasi pos-pos kumulasi laba ditahan, atau hasil surplus revaluasi atau laba istimewa menjadi modal saham.

Bila satu saham beredar memperoleh satu saham bonus, maka jumlah saham beredar dan tercatat di BEI akan naik dua kali lipat. Walaupun istilah bonus itu bagi saya memuat konotasi menyesatkan--karena intrinsic perusahaan tidak berubah sama sekali dengan aksi korporasi ini--tapi saham bonus masih "terhormat" karena hanya bisa dilakukan oleh perusahaan yang mencatat laba, atau perusahaan yang mengalami peningkatan kualitas dan nilai asset yang signifikan.

Cara yang kedua lebih sederhana, cukup dengan mengerdilkan nilai nominal. Pecahannya terserah emiten, bisa satu saham lama menjadi dua atau sepuluh saham baru. Aksi korporasi ini pun tidak mengubah nilai intrinsic perusahaan sama sekali. Seharusnya kapitalisasi sahamnya juga tetap sama, dan pemegang saham tidak mengalami dilusi. Yang hebat adalah: stock split bisa dilakukan oleh perusaaan yang rugi, bisa dilakukan oleh emiten yang harga sahamnya lebih kecil dari nominal sebuah koin.

Lalu kenapa harga saham cenderung naik, dan pemegang saham menikmati abnormal return, ketika perusahaan melakukan stock split? Tanpa signaling process, yang nanti akan kita coba jelaskan, fenomena naiknya harga saham cum split, bagi saya merupakan psychological effect. Alasan yang plausible bagi perusahaan untuk melakukan stock split adalah meningkatkan likuiditas, yang cenderung menurun akibat harga saham naik tinggi dan tidak lagi terjangkau oleh investor rata-rata.

Psychological effect semacam itu bukan monopoli BEI. Akhir Februari lalu, ketika dalam forum RUPS Apple (AAPL) berhembus rumor bahwa sahamnya akan dipecah, harga sahamnya naik 1,4% (BGR 26 February 2013). Ketika Colgate - Palmolive Co melakukan stock split minggu lalu, sahamnya di New York Stock Exchange naik tipis dari US$ 115.35 menjadi US$ 115.50 (Reuter 07 March 2013).

Satu trading lot di BEI adalah 500 saham. Untuk membeli satu lot saham MLBI yang harganya Rp 920.000 per saham, seorang investor harus membayar Rp 460 juta! Satu lot saham DLTA berharga Rp 104 juta, dan satu lot saham HMSP berharga Rp 38,5 juta. Di luar jangkauan investor ritel rata-rata!

Saham-saham itu memang tidak likuid di BEI. Itu sebabnya Tokyo Stock Exchange mewajibkan tiap saham yang harganya mencapai 50.000 yen untuk melakukan stock split. Bayangkan saham Washington Post yang harganya pernah mencapai US$600 per saham , atau saham Berkshire Hathaway yang di tahun 60-an masih berharga US$8 pernah mencapai US $150,000 per saham.

Likuiditas merupakan fungsi dari jumlah pemegang saham. Pada gilirannya jumlah pemegang saham akan dipengaruhi oleh jumlah saham yang beredar. Dengan stock split, ada tiga hal yang berpotensi meningkatkan likuiditas.

Pertama, jumlah saham beredar meningkat tajam dengan pengali factor split. Split yang paling kecil di Amerika Serikat adalah tiga untuk dua stock split. Artinya, jumlah saham beredar minimal meningkat dengan 50%. Di BEI jumlah saham beredar seringkali naik lebih dari 1.000% karena aksi stock split.

Kedua, saham-saham yang tadinya kurang dari trading lot (odd lot) akibat aksi korporasi sebelumnya, setelah split menjadi round lot.

Ketiga, investor rata rata yang tadinya berada di luar price range dan tertarik untuk investasi di saham bersangkutan, sekarang punya terbuka peluangnya untuk masuk.

Daya tarik lain adalah potensi tingkat keuntungan dari 1 tick perubahan harga untuk saham saham penny stocks lebih besar dari potensi keuntungan saham saham mahal. Maklumlah, fraksi harga saham di BEI berjenjang-jenjang. Kenaikan Rp 5 bagi saham yang beharga Rp 100 berarti 5%, jauh melebihi biaya transaksi dan pajak. Kenakan Rp 1.000 bagi saham MLBI hanya 1 ‰, masih jauh di bawah baya transaksi dan pajak yang harus dipikul investor.

Kalau daya tarik yang disebut belakangan itu yang menjadi alasan, maka pertanyaan yang tidak terjawab adalah: mengapa saham saham yang harganya hanya senilai nominal sebuah koin juga melakukan split? Dari segi akuntansi dan administrasi emiten, jumlah saham beredar yang sangat besar itu sejatinya merepotkan.

Itu sebabnya perusahaan yang mengutamakan efisiensi administrasi ketimbang likuiditas saham, justeru melakukan reverse split. Perusahaan milik Warren Buffet, Berkshire Hathaway, termasuk salah satu yang melakukan reverse split, walaupun harga sahamnya sangat tinggi. Ia dengan sadar mengurangi volume perdagangannya.

Masih ada daya tarik lain dari reverse split. Saham-saham yang produk derivatif dalam bentuk stock option dan single stock futures-nya aktif adalah saham saham yang harganya rata rata di atas US$50. Derivative yang aktif merupakan salah satu pemacu likuiditas saham yang menjadi underlying share.

Dalam konsep saya, stock split bisa memiliki information content yang lebih kaya, yaitu ketika stock split berfungsi sebagai signaling process. Artinya dengan stock split itu, manajemen ingin memberi sinyal kepada pemegang saham bahwa prospek fundamental perusahaan bersinar cerah dan harga saham yang selama ini telah meningkat tajam masih punya peluang untuk terus menanjak di masa yang akan datang. Kinerja BBRI dan ASII memang menanjak pasca split.

SMGR menyatakan bahwa sahamnya akan dipecah bila harga sahamnya mencapai Rp20.000 per saham. Apakah itu refleksi dari keyakinan manajemen? Entahlah. Dalam kasus Colgate - Palmolive, mereka menyatakan dengan berani: "the toothpaste maker believes it still has strong growth potential with its new products and a continued global expansion"

o> Hasan Zein Mahmud adalah Tim Ekselensi Learning Center dan Staf Pengajar pada KWIK KIAN GIE School of Business

 

Source : Bisnis Indonesia

Editor : LAHYANTO NADIE

Komentar :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.