RSS FEEDLOGIN

Perempuan dan Kekuatan Pasar

Endy Subiantoro   -   Rabu, 15 Mei 2013, 12:30 WIB

TERKAIT

POPULER

PILIHAN REDAKSI

130506_ens endy medium.jpgJika saja pekerja wanita di AS, Jepang, dan Mesir menerima gaji setara pria, maka GDP  ketiga negara itu bakal lebih tinggi masing-masing 5%, 9%, dan 34%.  Artinya, ada koorelasi positif antara peningkatan partisipasi kegiatan ekonomi kaum hawa dan GDP sebuah negara.

Riset terakhir dari Booz & Company mencoba mengevaluasi lebih dari 100 negara pada dua acuan. Pertama, kebijakan pemerintah dalam mendukung peran wanita seperti jaminan akses pendidikan dan kredit. Kedua, keberhasilan wanita di bidang ekonomi seperti tingkat partisipasi mereka di dunia kerja dan pekerjaan di level puncak.

Riset Booz memperkirakan hampir 1 miliar perempuan bisa masuk ke ekonomi global dalam dekade mendatang. Jumlah tersebut setara dengan populasi di India dan China.  Kedua negara, yang sedang bertransformasi menjadi powerhouse ekonomi global saat ini.   

“Perempuan adalah asset ekonomi yang paling underutilized di perekonomian dunia,” kata Angel Gurria, Sekjen OECD.

Bagaimana dengan posisi Indonesia dari riset tersebut? Indonesia berada di posisi terbawah, bersama Sri Lanka, Timor Leste, Laos, Bangladesh, dan sejumlah negara Timur Tengah.  Bozz menyebutnya At the starting gate : negara-negara ini dinilai belum memiliki upaya untuk meningkatkan harkat kaum Ibunya termasuk tingkat pendidikan.

Tetangga terdekat kita yaitu Thailand, Singapura,  dan Hong Kong (bersama sejumlah negara Eropa) masuk dalam kategori On the Path to Succes. Mereka dianggap telah berinvestasi bagi kemajuan kaum perempuan.

Di atas GDP China & India

Sebelumnya, Michael J. Silverstein dan Kate Sayre dalam survey terbaru The Boston Consulting Group  (Harvard Busines Review, September 2009) mengungkapkan data mengejutkan. Secara ekonomi, potensi perempuan melampui GDP China dan India. Sayangnya, perlakuan yang mereka terima dari produsen sering mengecewakan.  Hasilnya, dituangkan dalam buku Woman Want More. Buku sebelumnya menyangkut pasar Ibu-ibu ditulis Maria Bailey, Marketing to Moms.

Secara global, mereka mengontrol US$20 triliun (2009) belanja konsumer per tahun. Angka tersebut bakal meroket menjadi US$28 triliun dalam lima tahun ke depan. Pendapatan setahun mereka menembus US$13 triliun (2009) dan akan naik lagi menjadi US$18 triliun dalam waktu lima tahun ke depan. Angka ini melampui gabungan PDB dua raksasa ekonomi yaitu China US$4,4 triliun dan India US$6,6 triliun.

Dengan potensi yang begitu dahsyat, kenapa produsen masih memperlakukan mereka dengan jelek?  Faktor gender bisa saja menjadi penyebab yaitu dominasi pria. Yang lain, pemahaman pemasaran yang lemah terhadap kaum hawa ini.

Studi komprehensip dari BCG menyimpulkan beberapa hal penting. Wanita merasa tidak dilayani dengan baik (underserver).Kendati memiliki kekuatan pasar dan posisi social yang kuat, mereka tetap merasa kurang dihargai di pasar, dan sering direndahkan di dunia kerja.

Industri otomotif dianggap lebih berpihak pada dunia laki-laki. Mobil, misalnya, tidak ada yang khusus didesain untuk kaum ibu-ibu yang biasanya multitasker seperti harus tetap bekerja, mengurus ‘administrasi’ keluarga, suami, dan anak-anaknya.  Di Indonesia, motor otomatik Yamaha Mio yang semula didesain untuk kaum wanita, akhirnya lebih banyak dikendarai kaum pria.

Ada enam sektor potensial yang paling banyak disasar wanita. Sektor tersebut adalah makanan (food), kebugaran (fitness), kecantikan (beauty), apparel (termasuk sepatu dan aksesoris), jasa keuangan (finansial services) dan layanan kesehatan (health care). Produk diet food secara global sudah mencapai US$20 miliar.Produk apparel menembus US$47 miliar di seluruh dunia dan terus tumbuh.

Pasar Ibu di Indonesia

Fenomena serupa juga terjadi di Indonesia. Pasar ibu, sebagai target market berbagai produk keluarga terus tumbuh. Sejumlah brand sejak lama membidik pasar keluarga, terutama pasar ibu.

Kijang dengan tagline Mobil Keluarga Indonesia. Pepsoden, Pasta Gigi Keluarga. Telkomsel, Halo Keluarga. Brand yang lain adalah Lifebuoy, Dancow, The botol Sosro, Kecap Bango, Oreo, dan Rinso.

Berbagai iklan yang ditayangkan pun, menurut riset Markplus, mengusung tema keluarga dan nilai ibu-ibu Indonesia. Markplus, menilai para pemasar perlu memahami nilai-nilai Ibu agar mampu merebut hati mereka. Nilai-nilai tersebut seperti mengutamakan kesehatan dan keamanan keluarga, peduli pada pengembangan anak (child enrichment), menghargai waktu karena peran multitasker, dan pembeli yang teliti.

Sosok kuat

Di samping kekuatan ekonomi, perempuan sebetulnya mempunyai ‘kekuatan’ lain. Sejumlah sosok kuat muncul dari kaum Hawa ini. Di luar negeri ada Sheryl Sandberg (COO Facebook), Marissa Mayer (CEO Yahoo!), Angela Marke (kanselir Jerman), Condoleezz Rica (mantan Menlu AS), Wu Yi (wakil PM China), Patricia Russo (CEO Alcatel Lucent Prancis), dan Zhang Yin (sala satu orang terkaya di China).

Di Indonesia, kita memiliki sosok kuat seperti Sri Mulyani Indrawati (eks Menkeu kini direktur eksekutif  Bank Dunia), Saparinah Sadli (Pendiri Pusat Kajian Wanita UI, dan tokoh pergerakan anti kekerasan terhadap perempuan),  dan Maria SW Sumardjono (pakar hukum pertanahan/ agraria).

Tokoh wanita muda lainnya mulai banyak mengisi berbagai posisi di pemerintah maupun eksekutif. 

Yang pasti, kiprah wanita akan terus berlanjut di masa depan. Potensinya masih belum dioptimalkan. Karena itu, mereka membutuhkan kesetaraan di berbagai bidang khususnya di dua hal yaitu dukungan kebijakan dari pemerintah dan peran serta di dunia ekonomi.

 

Editor : Sutarno

Komentar :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.