BISNIS.COM, JAKARTA--Ketatnya likuiditas perbankan syariah mengakibatkan ketahanan industri bank dengan dasar hukum Islam ini sangat terbatas terhadap krisis keuangan.
Hal tersebut terlihat dari tingkat rasio intermediasi (FDR) perbankan syariah yang menyentuh 102% pada akhir Maret 2013. Portofolio pembiayaan tercatat Rp161 triliun, sedangkan dana pihak ketiga yang dihimpun hanya Rp157 triliun.
Mulya Siregar, Asisten Gubernur Bank Indonesia (BI), mengatakan fakat itu menunjukan ketahanan bank syariah pada saat ini sangat terbatas. "Ini kan ngeri kalau melihat seperti ini," ujarnya, Rabu (8/5/2013).
Menurutnya, ketatnya likuiditas itu memaksa bank syariah harus mencairkan surat berharga syariah negara (SBSN untuk menyalurkan pembiayaan. "Kalau likuiditasnya terganggu dari mana lagi [mencari likuiditas] karena SBSN sudah habis," ujarnya.
Selain menyoroti masalah ketahanan, Mulya juga mengatakan efisiensi perbankan syariah saat ini masih lebih rendah dibandingkan dengan bank konvensional.
Return of asset (ROA) perbankan syariah hanya 2,29% pada Februari 2013, sementara perbankan konvensional mencapai 2,92%."Jadi kalau dulu kita bisa cerita bank syariah itu canggih, saat ini ceritanya sudah berbeda lagi," jelasnya. (sep)
Editor : Sepudin Zuhri

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.