RSS FEEDLOGIN

PENYALURAN KREDIT Jateng Didominasi Sektor Produktif

Donald Banjarnahor   -   Kamis, 28 Februari 2013, 16:29 WIB

TERKAIT

POPULER

PILIHAN REDAKSI

130214_bank-bni.jpgSEMARANG – Bank Indonesia menyampaikan penyaluran kredit di Jawa Tengah didominasi segmen produktif dalam bentuk modal kerja dan investasi kepada berbagai sektor ekonomi.

Joni Swastanto, Kepala Bank Indonesia Perwakilan Jateng-DIY, mengatakan kredit modal kerja dan investasi yang disalurkan perbankan di Jawa Tengah hingga akhir mencapai Rp119,57 triliun.

“Pangsa kredit modal kerja pada periode ini mencapai 52,53% dari total kredit perbankan, sementara pangsa kredit konsumsi dan kredit investasi masing-masing 34,14% dan 13,34%,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima Bisnis, Kamis (28/2/2013).

Dia menjelaskan sebagian besar kredit produktif terserap di tiga sektor ekonomi yaitu sektor perdagangan, hotel dan restoran (PHR), industri pengolahan dan sektor jasa. Sektor PHR mendapat kredit sebesar Rp50,55 triliun, sementara industri pengolahan dan sektor jasa sebesar Rp10,5 triliun (8,78%).

Selanjutnya sektor pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan menyerap Rp5,3 triliun berada di urutan keempat.  Mayoritas kredit bank umum yang terserap di  sektor ini, digunakan untuk mendukung kegiatan usaha pertanian padi (31,26%), budidaya unggas dan sapi potong (16,6%), serta perkebunan tebu (14,56%).

Seiring dengan meningkatnya kegiatan penyaluran kredit tersebut, nilai pinjaman yang disalurkan perbankan kepada Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Jateng juga mengalami peningkatan menjadi Rp51,58 triliun, atau  28,41% dari total kredit perbankan.

Selain itu, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Jateng juga menunjukkan peningkatan menjadi Rp 5,31 triliun,  atau 13,06% dari total penyaluran nasional, dengan jumlah debitur sebanyak 1,8 juta. Pangsa penyaluran KUR di Jawa Tengah tersebut menempati urutan kedua terbesar setelah provinsi Jawa Timur.

“Berdasarkan sektor ekonomi, penyaluran KUR di Jateng sebagian besar terserap di sektor perdagangan besar dan eceran, serta sektor pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan masing-masing 63,28% dan 10,55%,” ujarnya.

Source : Donald Banjarnahor dan Puput Ady Sukarno

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.