JAKARTA: Jumlah perawat di Indonesia cukup banyak seiring dengan bermunculannya sekolah perawat di pusat dan daerah. Namun pendistribusian mereka masih belum merata, sehingga banyak perawat yang masih menganggur.Untuk mengatasi perawat dan bidan yang belum bekerja tersebut, salah satunya adalah dengan mengirimkan mereka ke luar negeri, dimana kebutuhan akan tenaga kesehatan cukup banyak.Tritarayati, Kepala Pusat Perencanaan & Pendayagunaan SDM Kesehatan Kementerian Kesehatan, menuturkan saat ini tenaga perawat Indonesia yang bekerja di luar negeri mencapai 3.000 orang."Penghasilan mereka berkisar Rp15 juta-Rp20 juta per bulan," katanya dalam diskusi tentang Pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan dalam negeri, dan kebijakan pengiriman tenaga kesehatan ke luar negeri, di Jakarta hari ini.Dia mengatakan permintaan tenaga kesehatan, termasuk perawat dari luar negeri cukup besar. Diperkirakan pada 2014 nanti permintaan perawat sebanyak 9.200 orang. Pada 2019 sebanyak 13.100 orang, dan pada 2025 nanti meningkat menjadi 16.920 orang perawat."Tenaga kesehatan ke luar negeri ini untuk memperluas lapangan kerja, terutama dalam mengatasi adanya temporary surplus tenaga kesehatan, khususnya perawat. Selain itu tujuan penempatan ke luar negeri ini untuk peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan alih teknologi," ungkapnya.Tritarayati mengatakan untuk memudahkan penempatan tenaga kesehatan bekerka di luar negeri, pemerintah melakukan kerja sama dengan berbagai negara. Target hubungan kerja sama penempatan tenaga kesehatan Indonesia ke luar negeri pada 2010-2025, adalah melalui metode G to G, G to P, dan P to P.Menurut dia, pada 2010 metode G to G sudah berjalan dengan Jepang dan Timor Leste. Sedangkan melalui metode G to P dan P to P, ujarnya, a.l. dengan negara Belanda, Norwegia, Saudi Arabia, ASEAN, Kuwait, dan Qatar.Pada 2014 nanti, lanjutnya, penempatan tenaga kerja kesehatan melalui G to G ditargetkan ke Qatar, Kuwait, Sudan, Arab Saudi dan negara ASEAN. Pada 2019 dengan negara Uni Emirat Arab, dan Norwegia, serta pada 2025 dengan Kanada, Amerika Serikat, dan Australia.(api)
Editor :
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.