Leader atau pemimpin itu dilahirkan atau dibentuk? Barangkali pertanyaan itu kerap muncul di benak Anda. Dan tidak mudah untuk menjawabnya. Barangkali begini untuk memudahkannya: Pemimpin itu seperti penyanyi.
Coba deh perhatikan. Penyanyi tenar biasanya dijuluki sebagai selebritas berbakat. Tetapi jangan salah sangka. Penyanyi yang dibilang punya bakat kuat sejak kecil, belum tentu berhasil menjadi penyanyi tenar.
Untuk menjadi tenar tidak mudah. Bukan cuma bakat, tetapi ternyata butuh latihan, terus dan terus menerus, dengan disiplin kuat. Bahkan kerap, tidak hanya latihan, tetapi juga ikut sekolah musik dan sekolah vokal. Artinya, tidak serta merta punya bakat, atau ayah atau ibunya penyanyi, maka ia bisa jadi penyanyi tenar.
Contohlah Cakra Khan. Penyanyi dengan suara serak-serak khas yang kini lagunya kondang bernuansa “lawan kata” itu disebut berkali-kali gagal mengikuti kompetisi.
Tetapi tanpa kenal lelah, ia terus berlatih, sekolah vokal, dan terus mencoba dan akhirnya berhasil meledakkan hits berjudul Harus Terpisah yang digemari banyak orang.
Ringkas kata, tidak ada sukses atau hasil yang bersifat instan. Ada bibit bakat, tetapi juga disiplin latihan, dan terus menerus ditempa pengalaman. Berani mencoba, ambil risiko, dan mengambil keputusan untuk fokus pada tujuan.
***
Maka saya percaya, pemimpin itu tidak hanya dilahirkan tetapi dibentuk. Dan tidak cuma dibentuk, pemimpin perlu punya resep sendiri, seperti disampaikan Jusuf Kalla, pengusaha yang pernah menjabat wakil presiden, dan kini memimpin organisasi sosial Palang Merah Indonesia.
Pemimpin, kata JK, sapaan akrab Jusuf Kalla, berhak menyandang “gelar” sebagai pemimpin jika ia taat menjaga tujuan, menjaga proses, dan menjaga manusia.
Apa maknanya? Menjaga tujuan berarti punya visi, dan mampu menerapkan berbagai upaya untuk mencapai visinya tersebut. Menjaga proses, maknanya adalah memiliki cara yang tepat untuk mencapai visi.
Dan menjaga manusia mengandung pengertian yang mendalam. Prinsip utama adalah ngewongke uwong, seperti falsafah kuno Jawa yang sangat saya percayai.
Ngewongke uwong bukan berarti sekadar menyenangkan teman atau karyawan yang berada dalam lingkup organisasi kita, apalagi menganakemaskan kelompok sendiri. Lebih dari itu, menghargai “dengan catatan”.
Kalau memuji, pujilah dengan tulus. Kalau mengeritik atau memberi masukan, janganlah dengan cara yang menyakiti perasaan. Cobalah simak kalimat berikut: “Karya Anda sangat bagus. Akan lebih bagus lagi kalau dilengkapi ini dan itu bla...bla..bla...”
Coba bandingkan dengan kalimat berikut: “Karya Anda sangat bagus, tetapi kurang ini dan itu...bla..bla..bla..”
Dan lebih sakit di telinga lagi kalau pakai kalimat berikut: “Karya Anda buruk, kurang ini dan itu...bla..bla..bla.”
Penggunaan kata “akan lebih bagus”, “tetapi” tentu akan direspons dengan berbeda-beda. Maka di situlah falsafah ngewongke uwong dilakukan, disertai penghargaan.
Karena itulah, sebenarnya saya lebih suka memakai istilah “insentif dan disinsentif”, sebagai pengganti istilah reward and punishment.
Tujuannya jelas. Jangan sampai penghargaan justru menimbulkan kecemburuan, atau bahkan perasaan tidak fair karena antara yang produktif dan tidak produktif sami mawon, antara yang kompeten dan kurang kompeten diperlakukan sama.
Maka di sinilah pentingnya insentif dan disinsentif itu, yang banyak dikenal dengan istilah reward and punishment dalam falsafah organisasi modern.
***
Kebetulan saya tengah berada di Beijing saat menulis kolom ini, dan menyaksikan kemajuan China yang bagi saya luar biasa. Kepemimpinan menjadi salah satu kunci di balik kemajuan negeri yang dulu dijuluki Tirai Bambu itu.
Dari sini saya tambah percaya, tidak ada yang instan alias jadi begitu saja. Semuanya butuh proses, dan proses dipakai untuk mencapai visi. Dan dua hal itu lahir karena manusianya memang berkarakter untuk membuat visi, memiliki mimpi, dan menciptakan serta membangun proses untuk mencapai visi tersebut.
Coba saja lihat “Kota Terlarang” atau “Forbidden City”, yang dipakai menjuluki Istana Kaisar China. Istana yang dibangun pada abad 14, alias sekitar 600 tahun silam itu, kini berdiri kokoh dan ‘sombong’, mengukuhkan keunggulan China setelah era Kekaisaran Romawi.
Bacaan saya sederhana saja. Kaisar China yang menyebut keluarga mereka sebagai “bangsa dewa”, dengan warisan dan bukti sejarah berupa peninggalan-peninggalan adikarya, mengukuhkan prinsip “percaya kepada ketidakmungkinan.”
Bagaimana enam abad silam bisa membangun karya megah seperti itu, bahkan dipercayai merupakan kompleks istana masa lampau yang terluas di dunia saat ini?
Coba pula deh nonton Akrobat Beijing, yang sekali lagi kian memantabkan prinsip “think possibility”. Bagaimana mungkin atraksi akrobat lima motor dalam bola dunia dengan diameter sekitar 4 meter, dengan kecepatan tinggi tanpa bersenggolan sekalipun?
Suatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, karena kekuatan visi, keberanian mengambil risiko, dan disiplin dalam cara mencapai tujuan. Tentu karena kapasitas manusia yang memiliki bakat, yang terus dilatih dan ditempa pengalaman.
Artinya, kalau saat ini China dinobatkan sebagai bangsa dengan perekonomian terbesar di dunia, mengalahkan Amerika Serikat, memang buka karena ujug-ujug besar. Ia telah punya bakat untuk menjadi bangsa besar, dan terus menempa diri mewujudkan mimpi menjadi bangsa besar.
Itu semua terjadi demi sebuah visi, menjadikan negeri itu memimpin Asia sebagai China Raya atau The Greater China.
Mempertahankan sistem komunis, tetapi membuka pasar, sekaligus evolusi pelan-pelan dalam demokratisasi politiknya, merupakan pilihan visi, dan kemantapan para penentu kebijakan di China.
Artinya, otoriter tidak jadi soal asal tujuannya baik, demi kemakmuran seluruh pemangku kepentingan negara. Coba deh bandingkan dengan demokratisasi politik yang amat terbuka seperti Indonesia, ternyata —sejauh ini— manfaatnya hanya dinikmati segelintir elite penguasa politik yang menyalahgunakan peranti politik atas nama demokrasi, tetapi sebenarnya demi kepentingan kelompok mereka sendiri.
***
Maka, sekali lagi saya sependapat dengan Pak JK soal kepemimpinan. Katanya, kalau pemimpin terlalu banyak tanya kiri-kanan tetapi tidak mengambil keputusan, maka ia sebenarnya cuma koordinator, bukan leader.
Pemimpin harus berani ambil risiko untuk membuat keputusan, dan karenanya tidak bisa menyenangkan semua orang yang dipimpinnya. Yang penting, risiko dihitung demi manfaat yang lebih besar.
Dan kalau keputusan pemimpin membuatnya memperoleh citra yang baik, itu adalah dampak sebagai pemimpin yang mengambil keputusan dengan benar.
“Lantas bagaimana kalau pemimpin lebih banyak pencitraan saja?” Itu pertanyaan Bupati Jombang Suyanto kepada Pak JK, dalam sebuah acara rekaman program acara Jalan Keluar untuk Kompas TV, beberapa waktu silam.
“Kalau itu bukan pemimpin, tetapi selebritas,” ujar Pak JK, yang membuat semua orang tergelak dan terbahak. Bagaimana menurut Anda?
Source : Arif Budisusilo
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.