RSS FEEDLOGIN

PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR: Butuh Rekayasa Tehnik Ramah Lingkungan

Dimas Novita Sari   -   Selasa, 21 Mei 2013, 20:28 WIB

TERKAIT

POPULER

PILIHAN REDAKSI

130523_infrastruktur.jpgBISNIS.COM, JAKARTA -- Pemerintah menghimbau pembangunan infrastruktur agar tidak merusak alam, sehingga dibutuhkan rekayasa teknis ramah lingkungan.

Hal tersebut dikatakan oleh Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto melalui siaran persnya Selasa (21/5/2013). Dia tidak mengharapkan pembangunan yang bersifat masif sehingga merusak alam.

“Namun kita juga harus berhati-hati, agar upaya pembangunan infrastruktur tidak membawa lingkungan kita menjadi lebih buruk, dan membuat kita sengsara. Mari kita membangun tanpa melukai alam,” katanya .

Dia menjelaskan input material dan energi yang digunakan untuk pembangunan tidak boleh mengandung bahan beracun dan berbahaya. Selain itu dapat diperbaharui selama siklus hidup infrastruktur dan meminimalisir timbulnya limbah.

Tidak hanya dari sisi pengerjaan fisiknya, infrastruktur yang dibangun juga harus tahan lama, efektif, efisien, dan masih bisa dipakai meskipun umur pakainya (life time) telah habis.

Oleh karena itu, lanjutnya, dibutuhkan rekayasa teknis yang ramah lingkungan sehingga dapat menghasilkan produk desain yang aman, sehat, dan lingkungan tetap lestari.

“Caranya adalah dengan inovasi, integrasi, dan manajemen. Itu adalah tiga kata kunci yang harus diingat oleh para penyelenggara pembangunan,” tuturnya.

Djoko menyampaikan inovasi dilakukan pada tahap survey, investigasi, dan desain. Integrasi disesuaikan pada tahap pengadaan lahan dan pelaksanaan pembangunan. Adapun  manajemen dikoordinasikan dari awal hingga pemeliharaan bangunan. (dot)

Editor : Endot Brilliantono

Komentar :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.