BISNIS.COM, MEDAN--Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengawasi pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang terus mengalami rekor tertinggi dalam sejarah.
Pada perdagangan Jumat (24/5/2013) IHSG ditutup menguat 0,66% atau 33,69 poin ke level 5.155,09. Sepanjang Jumat pekan lalu, indeks bergerak pada kisaran 5.130,57-5.174,67.
Dari 464 saham yang diperdagangkan, 188 saham menguat, 85 saham melemah, 191 saham stagnan.
Nurhaida, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan, mengatakan OJK selalu mengikuti perkembangan pencatatan rekor-rekor IHSG beberapa waktu terakhir.
Meskipun memang peningkatan harga saham benar-benar dipengaruhi oleh kondisi market.
"Kalau dilihat dari sisi fundamental emiten kita bagus. Jika dibandingkan dengan negara-negara lain pertumuhan ekonomi Indonesia juga bagus," ujarnya akhir pekan lalu (24/5/2013).
Dia menjelaskan, kondisi perekonomian dan pasar modal di negara lain juga belum terlalu kondusif untuk berinvestasi.
Untuk itu, pemilik modal asing banyak yang mencari tempat berinvestasi yang memberikan return yang cukup tinggi.
Para pemodal asing, sambungnya, mencari pasar yang memang masih bisa tumbuh dan berkembang. Indonesia menjadi salah satu pasar yang menjadi incaran para investor asing.
Sehingga, net inflow dari investor asing banyak masuk ke Indonesia. "Yang perlu kita jaga adalah bagaimana mereka bisa sustain di Indonesia, itu terkait kepercayaan yang diberikan. Bahwa nanti equilibriumnya akan bergerak itu bisa saja terjadi."
Oleh sebab itu, OJK mendorong agar Bursa Efek Indonesia dapat meningkatkan jumlah investor ritel domestik agar lebih pasar modal Tanah Air lebih kuat. Nantinya, jika kondisi pencapaian rekor dan investor asing mencabut dana investasinya di Indonesia, pasar saham bisa bertahan dengan investor ritel domestik.
Editor : Sepudin Zuhri

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.