Make winners out of every business in your company. Don’t carry losers. (Jack Welch, Former CEO GE)
Sumber inovasi (the winner) bisa berasal dari mana saja. Dari dalam, maupun luar perusahaan. Jika dulunya, sumber-sumber inovasi di luar korporat menciptakan dilema, kini sebaliknya mereka harus dioptimalkan.
Sumber perorangan disebut consumer kreatif yang “liar” dan lead user, yakni tokoh panutan yang menjadi ambassador perusahaan besar. (Berthon, Pitt, mcCarthhy, dan Kates).
Nike atau Adidas memiliki lead user seperti Ronaldo, Lionel Messi, Luis Hammilton sampai Tiger Wood. Tidak hanya sebagai ambasador yang dibayar selangit untuk mendongkrak penjualan karena mereka memiliki “tribe”, mereka juga menjadi “pakar” untuk memberikan masukan bagi penyempurnaan kualitas produk.
Di luar itu, ada supertemp dan Linchpin atau seorang yang tidak tergantikan, kata Seth Godin. Istilah lain dari Malcom Gladwell adalah maverick, yakni yang sang bijak bestari. Selain itu, invovasi juga bisa muncul dari sekumpulan komunitas maupun crowd (crowdsourcing).
Ada berbagai sikap korporat untuk merespons fenomena ini. (1) Resist-aktif menolak dan bersifat negatif (2) Enable-aktif memfasilitasi dan bersikap positif (3) Encourage-bersikap positif tapi tidak melakukan apa-apa. (4) Discourge-bertindak dan bersikap negatif.
Namun kini secara umum, korporat memilih enable. Sinergi ini kemudian menciptakan fenomena co-creation atau penciptaan nilai bersama (creating shared value, Porter).
Komunitas sebagai mitra
Co-creation bukanlah tindakan “pengecut” . Sebaliknya, dia melibatkan transformasi yang fundamental dari model bisnis dan menuntut komitmen dari manajemen puncak (Gouillart & Billings, HBR, April 2013/ www.Hbr.org).
Contoh kerja bareng produsen dan komunitas seperti itu antara lain yang dilakukan FedEx, GE (pengembangan sistem penyaringan yang menghemat penggunaan air), dan Microsoft (mengoptimalkan layanan call center). Di Indonesia Indosat, XL, Blackberry, dan Telkomsel sering menggelar lomba inovasi program aplikasi untuk komunitas TI.
Mengelola Crowdsource
Ada banyak contoh lain dalam konteks yang lebih luas (Crowdsource). Modcloth (www.modcloth.com), perusahaan aparel berbasis di San Fransisco, menggelar ajang Be The Buyer (pelanggan bisa memberikan suara untuk desain favorit, lalu memajang di toko), pelanggan dapat memberi nama desain baru, ajang bulanan Blogger-Blogger of the Moment, nama Blogger yang ulasannya bagus, diabadikan di produk baru. Ada juga Make The Cut, lomba sketsa desain, Mocloth memilih 7 desain terbaik.
Jaringan kedai kopi terbesar di dunia, Starbucks memiliki forum MyStarbuckIdea untuk meminta masukan racikan menu yang bisa menjadi favorit konsumennya. GE mau BMW memiliki lab co-creation (www.bmwgroup-cocreationlab.com) untuk menjaring inovasi dari pelanggannya.
National Geographic saat ini mengerahkan 28.000 orang untuk menyelisik gambar satelit dari Mongolia untuk menemukan makam Genghis Khan. Contoh legendaris pengerahan crowdsource adalah pembuatan kamus Wikipedia (collaborative communities), multi-sided platform Google, dan pengerahan pengguna dan pengembang aplikasi oleh Apple.
Boudreau dan Lakhani memberi tip dalam mengoptimalkan crowdsource dalam penyelesaian masalah (problem solving). Pertama, kenali empat pendekatan yaitu (1) Contest (2) Collaborative Communities (3) Complementors (4) Labor Market. Contest lebih pas digunakan untuk mengatasi problem yang rumit dan menuntut analisis yang dalam.
Collaborative Communities cocok untuk proyek kolaborasi terbuka untuk informasi maupun software dengan mensinergikan dengan asset internal. Contohnya, adalah Wikipedia.
Complementors lebih sesuai untuk proyek inisiatif produk atau operasional terbuka dan aplikasi. Sedangkan, Labor markets, mempertemukan pembeli-penjual dalam konteks massal. Platform ini lebih cocok dikerjakan pihak ketiga di luar perusahaan. Misalnya, proyek pencarian makam Genghis Khan.
Tips kedua, optimalisasi crowdsource harus dilihat dalam konteks alat lain dari organisasi dalam penyelesaian masalah, kendati dia meningkatkan kapasitas korporat.
Intinya, terlepas dari kekuatan dan kelemahannya, korporat harus mengoptimalkan potensi crowdsource.
Editor : Sutarno
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.