RSS FEEDLOGIN

MASYARAKAT EKONOMI ASEAN 2015: Kawasan Timur Indonesia Butuh Infrastruktur & Pendanaan

Rio Sandy Pradana   -   Selasa, 09 April 2013, 00:05 WIB

TERKAIT

POPULER

PILIHAN REDAKSI

130306_pltu timika.jpgBISNIS.COM, MAKASSAR--Kawasan Timur Indonesia (KTI) membutuhkan pembangunan infrastruktur dan bantuan pendanaan terkait persiapan menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean pada akhir 2015.

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengatakan kedua hal ini dinilai mampu meningkatkan volume perdagangan bagi sektor maritim ataupun nonmaritim.

Hal ini telah dibicarakan dengan pemangku kepentingan di KTI, salah satunya PT Pelayaran Indonesia IV.

"Bagi KTI, pembangunan infrastruktur yang proaktif sangat diperlukan sedangkan bantuan pendanaan bagi pelaku usaha merupakan peran perbankan," kata Gita dalam seminar bertema Penguatan Perdagangan KTI sebagai Pilar Utama Nasional Menyongsong MEA 2015, Senin (8/4/2013).

Gita menjelaskan saat ini hanya 20% dari seluruh jumlah penduduk Indonesia yang mendapatkan akses pendanaan.

Dari jumlah tersebut, sebagian besar dikucurkan untuk kredit motor, mobil, dan kepemilikan rumah. Seharusnya lebih kepada barang modal yang bermanfaat jangka panjang.

Terlebih, saat ini telah ada konsep pendulum Nusantara yang memungkinkan kapal bergerak dari Barat ke Timur Indonesia.

Namun, perlu ada insentif yang diberikan agar kapal tersebut mau berlayar sampai ke Timur agar menimbulkan peningkatan perekonomian.

Gita menambahkan kawasan ini merupakan salah satu pilar utama roda perekonomian nasional.

Komoditas strategis yang dihasilkan seperti rotan dan batubara dapat lebih dieksplorasi dengan memberikan nilai tambah.

Dia berharap kawasan ini bisa tumbuh dan berkembang sebagai salah satu basis produksi nasional.

Indonesia harus siap menjadi pemain utama di kawasan Asia Tenggara.

MEA harus dilihat sebagai kesempatan dibandingkan sebagai kerugian. Upaya yang ditempuh adalah dengan berbenah serta terus meningkatkan daya saing.  (ra)

Editor : Rustam Agus

Layak Disimak

Komentar :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.