“KPK [Komisi Pemberantasan Korupsi] kini hebat ya, mulai berani nangkepin berbagai tokoh kelas kakap.. Termasuk tokoh partai berkuasa juga kena ciduk lho..
Terakhir itu yang diringkus teman dekatnya salah satu pejabat top negeri ini lho.. Coba kalau gebrakan ini dilakukan sejak dulu, bisa bikin ciut nyali calon koruptor tuh..” ungkap Subarry Manilauw seusai menyantap sup kaki kambing favoritnya di sebuah kafe tak bernama.
“Saya kira wajar lah kalau KPK melakukan itu, karena memang sudah tugas lembaga itu yang seharusnya berani meringkus para bandit anggaran negara.. Justru yang mengherankan, kenapa selama ini hanya menjaring kelas teri..” timpal David Sutorro sambil mengadukaduk kopi hitam yang mengepulkan aroma khas nan nikmat itu.“Sayangnya, gebrakan ini juga baru di satu kubu penegak hukum di republik ini, belum menyeluruh.. Akan lebih menyakitkan apabila nantinya, para tersangka itu dengan mudahnya lolos dari jeratan hukum..” ujar Subarry.“Maksudmu, Bar, para tersangka itu akan sulit diproses di kepolisian karena bukti tidak cukup, ditolak kejaksaan karena berkas tidak lengkap, diringankan vonisnya oleh hakim Tipikor karena dianggap tidak merugikan negara, atau diberikan remisi terus menerus sehingga cepat bebas karena selama di penjara berkelakuan baik gitu..” sergah Noyorono dengan nada sinis.“Begitulah, Mas, hukum di negeri kita ini kan berpihak kepada si pemilik dana.. Kalau untuk rakyat kecil, nahh, efektif tuh aturan perundangan, pasti kena deh.. Makanya, Mas, ada pemeo di kalangan koruptor, kalau mau korupsi sekalian yang banyak, sehingga bisa untuk meringankan ‘penderitaan’ di labirin hukum kita.. Ke tika terpaksa menjalani hukuman, saldo di rekening masih gendut dan lebih dari cu kup lah untuk bekal hidup mewah pas ca proses hukum,” tutur Subarry bernada getir.“Saya kira tidak semua seperti itu.. Masih banyak kok penegak hukum yang men dengarkan suara hati nurani masing-masing.. Untuk penegak hukum yang menjalankan tugasnya dengan baik seperti itu, jarang ada media yang mengungkapnya kan, karena masih banyak yang meng anggap bad news is good news,” ucap Da vid sembari mengangkat cangkir kopi nya.“Yaa, kalau penegak hukum melakukan tugasnya dengan benar kan memang sudah seharusnya, Bang David.. Tapi banyak juga kan, hakim yang memutuskan perkara dengan adil juga diberitakan dengan baik.. Kalaupun tidak diberitakan, toh nantinya mereka itu juga masuk surga kan.. Hahahaha..” celoteh Subarry memecah suasana.“Tapi akan lebih bagus lagi kalau lembaga penegak hukum lainnya juga melakukan hal serupa, misalnya memperberat hukuman bagi koruptor yang terbukti bersalah, karena perbuatannya itu sudah pasti merugikan banyak orang.. Koruptor bahkan lebih kejam dari teroris lho, karena korbannya pasti banyak dan efeknya berjangka panjang,” papar Noyorono.“Tapi yang saya gak ngerti itu, kenapa pengacara yang membela para tersangka korupsi itu begitu ngotot ya, padahal mereka mungkin tahub bahwa kliennya bersalah, berdasarkan berbagai bukti yang ada, misalnya.. Toh begitu, tak jarang pengacaranya mencari berbagai upaya agar perbuatan salah itu dianggap tidak salah, sehingga kliennya dibebaskan.. Ini kan namanya bertentangan dengan kebenaran..” tutur Subarry.“Lha namanya juga pembela, wajib mbelain pihak yang harus dibelanya dong, gimana sih Bar kamu ini.. Maju tak gentar, membela yang bayar.. Karena itulah dia dibayar mahal dan akibatnya jadi kuaya raya.. Lihat saja penampilan mereka, tak kalah dengan selebritas Hollywood, hehehe...” tukas David.“Menjadi kaya bagi pengacara alias lawyer itu hanya dampak sampingan kok.. Kalau mereka membela klien yang kaya raya, ya tentu saja kecipratan kaya raya juga.. Kan tidak semua pengacara memperoleh klien seperti itu.. Kalau mereka yang berpraktik untuk Lembaga Bantuan Hukum bagi orang miskin, ya tentu kecipratan miskin, mungkin..” kata Noyorono.“Tapi memang profesi lawyer selebritas ini enak benar ya.. Bermodalkan kepandaian bersilat lidah, mereka ini dapat duit dengan mudah.. Tau gini, dulu aku kuliah ilmu hukum saja ya, bisa jadi pengacara dan cepet kaya.. Dulu saya kuliah yang banyak matematika-nya dan mekanikanya, eh malah sekarang gak kepakai tuh ilmunya..” ungkap Subarry.“Kamu pikir dengan sekolah hukum lalu dapat dengan mudah jadi pengacara gitu.. Ya nggak semudah itu.. Kalo segampang itu mah semua sarjana hukum kaya.. Buktinya gue ini, ya begini-begini saja.. Saya bersyukur, meski penghasilan gak melimpah ruah, namun semoga yang saya peroleh semua ini berkah.. Hahaha..” ucap Noyorono sambil ngakak.“Sok bersih ah, sampeyan ini Mas, hehehe... Tapi apa mereka, para lawyer tadi, gak takut ya kalau nantinya, di akhirat sana, akan dimintai pertanggungjawabannya karena membela orang bersalah..” ujar Subarry sambil merenung.“Itu urusan nanti lah.. Jangan dikira semua orang yang dituduh bersalah itu benar-benar salah lho.. Nyatanya, ada juga kan tuduhan yang ternyata tidak benar. Dan, kalau memang dia membela orang tidak bersalah tapi dituduh salah, pahalanya tentu berlipat-ganda kan, selain ‘pahala’ langsung dari klien-nya itu..” timpal David atas perenungan rekan geng diskusi partikelir itu.“Wah, pembicarannya kok jadi pada men-sufi gini.. Andai saja kesadaran kalian ini juga dimiliki oleh para calon koruptor itu, niscaya negeri ini sudah jauh le bih se jahtera ya.. Duh, seandainya...” pungkas Subarry. (ahmad.djauhar@bisnis.co.id)
Editor :
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.