BISNIS.COM, JAKARTA-- Kabar rencana majunya Mahfud MD di ajang Pilpres 2014 tinggal menunggu waktu.
Ketua Mahkamah Konstitusi itu mengaku masih menunggu hasil Shalat "Istikharah" untuk membuat keputusan akan maju sebagai calon presiden periode 2014-2019 tersebut.
"Saya akan istikharah dulu untuk menentukan sikap. Sekarang saya belum bisa memutuskan karena menunggu hasilnya," ujarnya ketika ditemui wartawan usai menghadiri peringatan HUT ke-67 PWI Jatim dan HPN 2013 di Gresik, Jumat (22/3) malam.
Pada 1 April 2013, Mahfud secara resmi tidak lagi menjabat sebagai Ketua MK. Setelah keluar dari MK, ia mengaku akan kembali ke kampus dengan beraktifitas di dunia akademisi.
"Saya juga akan menjalankan Ibadah Umroh di Tanah Suci Makkah dulu dalam waktu dekat ini," katanya.
Nama Mahfud MD saat ini diwacanakan tampil sebagai salah satu tokoh yang dicalonkan sebagai presiden maupun wakil presiden mendatang.
Beberapa hasil survei juga menempatkan pria kelahiran Madura tersebut sebagai salah satu tokoh yang diperhitungkan.
Mahfud mengaku masih akan menganalisis segala kemungkinan yang terjadi, baik sebelum hingga setelah masa Pemilihan Umum Legislatif 2014. Di samping itu, ia juga belum menentukan sikap ke partai politik mana nantinya bergabung.
"Saya harus menunggu hingga April 2014 atau ketika Pemilu mendatang, termasuk kemungkinan masuk atau tidaknya saya ke partai politik," katanya.
Ia tidak memiliki kategori khusus partai yang akan bergabung dengannya, apakah nasionalis ataupun religius. Mahfud berjanji setelah April 2014 semua akan diumumkannya.
Sementara itu, disinggung wacana namanya masuk dalam bursa Ketua Umum DPP Partai Demokrat pada Kongres Luar Biasa (KLB) akhir bulan ini, Mahfud menanggapinya dingin karena hal itu tidak mungkin terjadi.
"Sesuai aturan partai, ketua umum harus kader. Sedangkan saya bukan kader, jadi tidak mungkin saya ketua umum. Selama inikan hanya sebatas gurauan saja tentang berita kalau saya dicalonkan di Demokrat," katanya. (Antara/faa)
Source : Newswire/ Miftahul Khoer
Editor : Fahmi Achmad
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.