BALI: Indonesia menjadi tempat pertemuan Developing Countries Vaccine Manufacturers Network (DCVMN) ke-13 yang berlangsung di Bali 31 Oktober-2 November 2012.
Apa saja yang dibahas pada pertemuan itu dan bagaimana kondisi vaksin di dalam negeri, berikut petikan wawancara Bisnis dengan Corporate Secretary PT Bio Farma (Persero) M. Rahman Rustan, sebagai produsen vaksin yang mendukung pertemuan tersebut.
Apa tujuan pertemuan ke-13 Jaringan Industri Vaksin Negara Berkembang?
Pertemuan DCVMN ke-13 ini mengambil tema Together for Vaccine Discovery & Access.
Para anggota yang berjumlah 36 industri vaksin bersinergi mendorong riset dan pengembangan vaksin untuk meningkatkan ketersediaan dan kualitas vaksin yang diproduksi oleh negara berkembang.
Dengan begitu pencapaian masyarakat yang sehat di negara berkembang bisa diwujudkani.
Bagaimana perkembangan industri vaksin di negara berkembang hingga saat ini?
Seperti diketahui sampai saat ini vaksin yang beredar di dunia merupakan produksi beberapa negara maju dengan harga yang tinggi sehingga sulit untuk dijangkau negara berkembang.
Beberapa negara berkembang yang tergabung dalam DCVMN ini berkomitmen untuk memiliki kemandirian dalam menghasilkan vaksin buatan negara mereka sendiri dengan harga yang terjangkau bagi negara berkembang lainnya.
Dengan begitu bisa melepaskan dari ketergantungan dari negara-negara maju.
Bagaimana sebetulnya isu vaksin di negara berkembang dan negara maju?
Menurut data WHO, sekitar 194 negera maju maupun berkembang tetap melakukan imunisasi rutin pada bayi dan balitanya.
Di Eropa, imunisasi rutin dilakukan di 43 negara, Amerika di 37 negara, Australia dan sekitarnya 16 negara, Afrika di 53 negara, dan Asia di 48 negara.
Negara maju dengan tingkat gizi dan lingkungan yang baik tetap melakukan imunisasi rutin pada semua bayinya karena terbukti bermanfaat untuk bayi yang diimunisasi dan mencegah penyebaran ke anak di sekitarnya.
Pola penyebaran penyakit menular di negara berkembang berbeda dengan negara maju sehingga masing-masing negara memiliki kebutuhan vaksin yang berbeda.
Di negara-negara maju, vaksin-vaksin generasi baru lebih diutamakan. Setiap tahun, sekitar 85%-95 % bayi di negara-negara tersebut mendapat imunisasi rutin.
Sedangkan di beberapa negara yang kurang berkembang belum terjangkau imunisasi karena menderita penyakit tertentu, sulitnya akses terhadap layanan imunisasi, hambatan jarak, geografis, keamanan, sosial-ekonomi dan lain-lain.
Negara berkembang mana sajakah yang memproduksi vaksin saat ini?
Dalam konteks DCVMN, ada 14 negara yang memproduksi vaksin antara lain Argentina, Brasil, Kuba, Mesir, India, Iran, Meksiko, China, Thailand, Vietnam, Afrika Selatan, Rumania, Korea, dan Indonesia.
Bagaimana kebutuhan vaksin untuk Indonesia?
Untuk indonesia sesuai dengan kebutuhan vaksin untuk imunisasi nasional melalui Kementerian Kesehatan sekitar 5 juta bayi/tahun. Kemudian 27,6 juta anak usia sekolah/tahun dan 15 juta wanita usia subur/tahun.
Apakah vaksin Bio Farma sudah mencukupi kebutuhan dalam negeri?
Untuk kebutuhan imunisasi sektor pemerintah, pasokan dari Bio Farma mencukupi 100%. Namun untuk sektor swasta ada juga produk impor yang masuk.
Bagaimana dengan vaksin impor? Dari mana saja dan apa jenisnya?
Imunisasi ada yang wajib dan ada yang direkomendasikan. Yang wajib adalah sesuai dengan yang ada pada program Kementerian Kesehatan yaitu imunisasi BCG, DTP, Hepatitis B, polio dan campak.
Yang digunakan untuk imunisasi yang wajib semuanya dari Bio Farma, sedangkan imunisasi yang direkomendasikan bisa seperti Hib, hepatitis A, MMR dan lain-lain masih diimpor.
Vaksin apa saja yang sudah diproduksi Bio Farma?
Vaksin polio, campak, hepatitis B, tetanus toxoid, DTP, vaksin kombinasi DTP-hepatitis B, vaksin influenza (seasonal flu), Td, M OPV, B OVP.
Jenis vaksin apa yang akan dikembangkan?
Bio Farma telah menyusun road map dalam rangka mendukung riset dan pengembangan vaksin masa depan.
Road map ini diharapkan mewujudkan vaksin yang terjangkau dalam mendukung program dekade vaksin 2020 dengan melakukan beberapa riset.
Sealin itu pengembangan vaksin yaitu Vaksin Pentavalent, Rotavirus, Vaksin S IPV (sabin inactivated polio vaccine) serta beberapa kandidat vaksin yang masih dalam penelitian.
Apa saja hambatan yang dihadapi industri vaksin di dalam negeri?
Kendala yang menghambat industri vaksin dalam negeri salah satunya riset yang terkait dengan bidang bioteknologi, khususnya vaksin dan bahan baku obat yang prosesnya berbasis bioteknologi masih belum terintegrasi.
Kami sebagai industri berharap agar riset nasional yang dilakukan oleh perguruan tinggi dan lembaga-lembaga riset di Tanah Air dapat lebih terpadu dan berorientasi pada produk.
Sehingga riset nasional akan lebih produktif dan dapat mengejar ketinggalan dibandingkan dengan negara maju.
Namun, kendala tersebut sedikit-sedikit dapat diatasi dengan pembentukan forum riset vaksin nasional, bekerja sama dengan Kemenristek, lembaga riset, universitas, atau yang dikenal sinergi ABG (academic, business, government). (ra)
Source : Yanto Rachmat Iskandar
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.