RSS FEEDLOGIN

Living Company & Disrupted Innovator

Endy Subiantoro   -   Rabu, 24 April 2013, 05:40 WIB

TERKAIT

  • No news.

POPULER

PILIHAN REDAKSI

If you are going to hell..Keep going (Winston Churchill)

 130325_medium  ens.jpgKorporat besar awalnya adalah produk  crafting seorang atau beberapa orang jenius (disruptive innovator). Namun seiring berjalannya waktu, mereka kemudian menjelma menjadi institusi raksasa seperti Apple, Google, Amazon, eBay, dan Microsoft.

 Ada yang memulai dari garasi seperti Steve Jobs dan Steve Wozniak (Apple) serta William Hewlett & David Packard (Hewlett-Packard). Drop out dari kampus, Bill Gates (Microsoft), Michael Dell (Dell Company), dan Larry Ellison (Oracle). Ditolak mendapat pembiayaan lebih dari 100 kali, Howard Schultz (Starbucks).  Atau berlaku ugal-ugalan seperti Richard Branson (Virgin Atlantic Airways).

 Yang menarik adalah kebanyakan mereka merintis usahanya dari usia yang sangat muda atau di bawah 30 tahun. Merangkak dari bawah. Dan terus memegang erat mimpi dan value personal-- yang kemudian menjelma menjadi  corporate value--secara konsisten hingga menjadi brand  yang melegenda.

 Hasilnya, nilai brand (merek) dari Apple, menurut Interbrand  pada 2012 (www.interbrand.com),  mencapai US$76.568 juta atau brand nomor dua terbesar di dunia setelah Coca Cola US$77.839 juta.Pencapaian ini sudah di atas IBM US$75.532 juta, Google US$69.726 juta, Microsoft US$57.853 juta, Amazon US$18.625 juta, Samsung US$32.893 juta, serta eBay US$10.947 juta.

 Sukses mereka sekaligus menepis   mitos seputar entrepreneur.Mitos itu,  kata Stephen C. Harper, entrepreneurship adalah tidak bisa diajarkan dan seorang entrepreneur memang dilahirkan bukan diciptakan.

 Jatuh bangun

Namun apakah perjalanan mereka mulus-mulus saja. Pastinya, tidak. Sukses buat ‘pejuang bisnis’ adalah perjalanan. Penuh dengan proses jatuh bangun.

 Pendiri Google, Larry Page & Sergey Brin (Hobbit di dunia internet) misalnya pada 1996 sempat ingin menjual teknologi mesin pencari buatannya US$1 juta. Untungnya, tidak ada pembeli karena harga segitu dinilai kemahalan.Kalau terjual, Google tidak akan pernah ada di muka bumi.

Kisah berikutnya, jika pada 2000, penjualan Google baru mencapai US$19 juta, maka pada 2003, penjualannya sudah mencapai US$1,5 miliar. Google sudah menguasai 80% permintaan pencarian di dunia dan sudah unggul dibandingkan Yahoo.

 Namun, tidak cuma pada tahap awal pendanaan usaha mereka seret, ketika IPO pun hal serupa terjadi.Dianggap ‘melukai’ Wall Street, harga IPO Google anjlog sehingga mereka harus mengurangi jumlah saham yang siap dijual dari 25,7 juta menjadi 19,6 juta lembar.

 Perjalanan hidup Steve Jobs dengan Applenya juga penuh tragedi. Secara psikis, Jobs merasa ‘hancur berantakan’ karena disia-siakan dan diadopsi sewaktu kecil. Perasaan itu tetap terbawa hingga dia dewasa.  

Berawal dari membuat dan menjual papan sirkuit US$500 per unit dengan pendanaan dari pinjaman kanan kiri, hingga menciptakan Apple I, Apple II, Jobs malah harus terpental dari perusahaan yang didirikannya pada 1985. Namun dia  kembali lagi pada 1997 dan melambung Apple sebagai perusahaan paling inovatif dewasa ini(disrupted innovationnya :iMac, iphone, hingga ipad). Jack Welch dari GE, bahkan menyanjungnya, “The Greatest CEO all the time.”

 Resep rahasia sukses

Dari pengalaman  Google, Apple, maupun legenda disrupted innovator lainnya ada hal-hal substansial yang tidak berubah. Aspek pembeda, yang membuat mereka manjadi Living Company, kata De Geus. Cirinya, adaptif terhadap perubahan, memiliki identitas perusahaan, open mind terhadap peluang, dan prudence di aspek keuangan.

 Jim Collins, penulis Good to great, menambahkan perusahaan hebat mampu bertahan lama karena melestarikan  nilai dan tujuan inti korporat. Sedangkan strategi bisnis dan operasional disesuaikan sejalan dengan  waktu. CK Prahalad menyatakan perusahaan jawara adalah korporat yang mampu menangkap peluang dan praktek (best practices) masa depan.

 Temuan menarik muncul dari Michael E.Raynor dan Muntaz Ahmed (HBR, April 2013. www.hbr.org). Studi mereka terhadap 25.453 korporat terbuka selama 1966-2010 di AS terbukti menunjukkan hal yang sederhana. Ada tiga resep sukses perusahaan.Pertama, better before cheaper. Kedua, revenue before cost. Ketiga, there are no other rules.

 Di balik resep sukses di atas, terkesan ada penyederhanaan terhadap kerumitan. Namun itu sah-sah saja. Dan yang pasti para disrupted innovators punya kelenturan,  guts (nyali) dan sikap pantang menyerah dalam mewujudkan visi dan value-nya: menciptakan produk untuk membuat dunia menjadi lebih baik. Jika perusahaan (brand) kemudian menjelma menjadi raksasa itu adalah bonusnya.

 Karena mereka sadar, konsumen bukan membeli produk yang mereka ciptakan, tapi membeli visi dan value di balik produk tersebut.

Editor : Fahmi Achmad

Komentar :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.