RSS FEEDLOGIN

LAPORAN KHUSUS: Gaya Hidup Instan Membudaya, Penipuan Tetap Jaya ((Bagian V)

Mursito   -   Senin, 15 Oktober 2012, 18:37 WIB

TERKAIT

  • No news.

POPULER

PILIHAN REDAKSI

SOLO: Kasus penipuan berkedok investasi online seolah tak kunjung reda. Mulai dari gaya skema piramida, ponzi, hingga money game. Korbannya pun bukan saja dari kalangan berduit, sudah meluas di masyarakat umum. Meski keberadaan perusahaan investasi bodong kerap diringkus aparat namun uang tetap tak bisa kembali.

Khamid Fadholi, Manager Pemasaran dan Trader CenterFX Indonesia, menjelaskan faktor utama berjatuhannya para korban investasi bodong ialah karena masih membudayanya hidup enak tanpa kerja keras. Budaya itu pun ditambah minimnya peluang kerja. Alhasil, ketika ada tawaran investasi bodong, mereka seperti menemukan impiannya selama ini. “Coba kalau mau kritis, apa ada orang tak kerja bisa punya penghasilan di atas rata-rata. Kalau bukan penipuan, namanya apa itu?” paparnya.

Khamid sendiri sebagai seorang trader, mengaku tak bisa menghasilkan keuntungan seperti yang dijanjikan para perusahaan investor bodong itu. Dengan kata lain, kunci agar tak terjebak dalam bisnis abal-abal ialah sikap kritis masyarakat. “Kalau mau jujur, apa mungkin keuntungan bunga bisa sampai 3% per hari. Bunga bank saja paling tinggi hanya 12% per tahun,” paparnya.

Sebagai trader, Khamid justru memaknai aktivitasnya saat ini sekadar usaha sampingan. Artinya, ketika target minimal sudah terpenuhi, ia akan melakukan closing dan mengisi hari-harinya dengan aktivitas bermanfaat lainnya. “Bukan malah terus agresif mencari laba lebih banyak karena justru ini berbuah celaka. Intinya trading itu harus bisa mengontrol emosi,” terangnya.

Hal senada juga dikemukakan salah satu trader asal Solo, Andhy Hartono. Ia bahkan mengatakan antara pengusaha investasi emas online bodong dan masyarakat ceroboh seolah saling tergantung. “Kalau nasabahnya enggak bodoh amat, saya kira tak akan ada penipuan seperti itu,” papar pria yang juga anggota BPSK Solo ini.

Menurut pria pengusaha itu, jika ada calon nasabah mempercayai petugas marketing sepenuhnya, hal itu menunjukkan betapa nasabah tak paham aturan. Begitu pun ketika menandatangani surat perjanjian yang belum dipahami, itu juga mencerminkan konsumen tak cerdas. “Kalau dia sudah membaca aturan dan tahu kondisi perusahaannya, kenapa masih saja ikut. Jadi, salahnya sendiri itu orang,” katanya.

Di sinilah, kata Andhy, pentingnya menjadi konsumen cerdas. Konsumen cerdas, ialah seorang yang tahu betul regulasi, tak mudah terpancing dan selalu mengecek legalitas perusahaan. (Tim Espos/msb)

Source : JIBI/Solopos

Editor :

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.