JAKARTA--Para pemimpin Asia dan Eropa yang hadir dalam Asia-Europe Meeting (ASEM ke-9) pekan depan di Vientine, Laos, akan menginap di sejumlah villa yang dibangun di atas lahan hasil penyerobotan pemerintah terhadap para petani kecilt.
Patrick Alley, Direktur Global Witness, mengatakan masyarakat yang kebanyakan adalah petani kecil dipaksa untuk meninggalkan rumahnya terkait dengan kegiatan tersebut. Periode 2010-2011, sekitar 500 orang dipaksa untuk melepaskan lahannya terkait dengan akomodasi para delegasi yang datang ke Laos.
Global Witness merupakan organisasi yang berbasis di London, yang aktif melakukan penyelidikan dan advokasi persoalan sumber daya alam yang berkaitan dengan korupsi, pelanggaran hak asasi manusia dan kerusakan lingkungan.
"Sangat mengejutkan para pemimpin Eropa akan tidur di atas lahan yang diserobot, tetapi sayangnya ini tak mengejutkan karena hal tersebut tengah terjadi di sana," ujarnya dalam situs resmi Global Witness yang dikutip Sabtu (03/11).
"Laos tengah berada di tengah krisis pencaplokan lahan di mana sekitar 3,6 juta hektar lahan telah beralih tangan ke para investor."
Kegiatan ASEM akan berlangsung pada 5-6 November 2012 dan juga menandai peringatan 16 tahun bedirinya ASEM. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan menghadiri pertemuan tersebut, setelah melakukan kunjungan ke London, Inggris pada 31 Oktober.
Alley memaparkan sekitar 18% desa-desa di Laos telah terjadi penyerobotan lahan, yang memaksa ribuan orang meninggalkan lahan mereka dan menjadi miskin.
Untuk itu, Global Witness meminta para pemimpin Eropa untuk menangani masalah tersebut, paling tidak ketika hal itu merusak program bantuan mereka di seluruh wilayah Mekong. Alley menuturkan pemerintah Laos meningkatkan represi untuk menutup suara-suara dari masyarakat.
Dalam situs tersebut, salah satu warga desa yang tak mau disebutkan namanya memprotes apa yang dilakukan pemerintah Laos. "Saya tak bisa memproduksi nasi dan tanaman lainnya untuk bertahan, bagaimana keluarga dan saya hidup?" (if)
Editor :
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.