RSS FEEDLOGIN

KRISIS PALESTINA: Konflik Hamas vs Fatah Segera Berakhir

Didit A. Susanto   -   Sabtu, 05 Januari 2013, 15:59 WIB

TERKAIT

  • No news.

POPULER

PILIHAN REDAKSI

GAZA – Presiden Palestina Mahmoud Abbas memprediksikan konflik perpercahan di antara partai politik besar Palestina, Hamas dan Fatah, yang berlangsung selama 5 tahun segera berakhir.

Tanda berakhirnya konflik itu ditunjukkan oleh gerakan Fatah yang menggelar unjuk massal pertamanya di Gaza dengan restu dari kelompok Islam Hamas yang menguasai Gaza.

"Sebentar lagi kita akan merebut kembali persatuan kita," kata Abbas, dalam pidato TV, Jumat (4/1/2013).

Dalam pidato TV tersebut, Abbas menyampaikannya kepada ratusan ribu pengikutnya yang berpiawai di Gaza, dengan bendera Fatah kuning sebagai pengganti warna hijau Hamas.

Aksi unjuk massal terjadi setelah kebuntuan dalam perundingan perdamaian di antara pemerintah Abbas dan Israel mengalami kegagalan karena perbedaan idelologi.

Kewenangan Abbas terbatas di daerah Tepi Barat yang diduduki oleh Israel sejak perang sipil 2007 di antara konflik 2 fraksi, Hamas dan Fatah.

Negara tetangga, Mesir, juga sudah lama mengupayakan perdamaian Hamas-Fatah, tetapi upaya masa lalu selalu kandas karena masalah pembagian kekuasaan, kontrol persenjataan, dan sampai sejauh mana Israel dan kekuasaan lain bisa menerima pemerintahan Palestina, termasuk Hamas.

Seorang pejabat Mesir mengatakan sedang mempersiapkan undangan kepada Hamas-Fatah untuk negosiasi baru dalam 2 minggu.

Di sisi lain, rakyat di negeri Yahudi takut jika dukungan Hamas pada akhirnya bisa menggulingkan pemerintahan Palestina pimpinan Abbas di Tepi Barat.

"Hamas bisa saja merebut kekuasaan pemerintah Palestina sewaktu-waktu," kata Perdana Menteri Negeri Zionis Benjamin Netanyahu.  (Winda Rahmawati/sut)

Source : Rueters

Editor : Sutarno

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.