RSS FEEDLOGIN

KONFLIK LAHAN: Kisah Suram dari Ogan Ilir (Bagian-1)

Inda Marlina   -   Rabu, 07 November 2012, 20:46 WIB

TERKAIT

  • No news.

POPULER

PILIHAN REDAKSI

RUSDI TAHAR harus cepat-cepat menyelesaikan kunjungan kerjanya di kawasan Jalan Raya Lintas Timur, Kecamatan Teluk Gelam, Kabupaten Ogan Komering Ilir, pada siang pertengahan Juli lalu. Dia mendapatkan telepon berturut-turut dari kepolisian karena suasana Desa Ketiau, Kecamatan Lubuk Keliat, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatra Selatan, tengah memanas. 
 
Rusdi adalah anggota DPRD Sumatra Selatan dari Partai Amanat Nasional (PAN) periode 2009-2014, dan berasal dari Desa Seri Bandung, Kecamatan Tanjung Batu. Ini adalah satu desa yang juga berada di Kabupaten Ogan Ilir. Kabupaten yang berdiri sejak 2004 tersebut-pecahan dari Ogan Komering Ilir- merupakan daerah pemilihannya dulu.
 
Suasana menyengat itu dipicu oleh konflik dua desa tersebut, bersama-sama dengan sedikitnya 20 desa lainnya, melawan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VII unit usaha Cinta Manis karena perseteruan lahan. Konflik mulai memuncak setidaknya sejak 3 tahun terakhir. 
 
Para petani yang menuntut pengembalian lahan tersebut tergabung dalam Gabungan Petani Penesak Bersatu (GPPB). Dan siang itu, mereka tengah berhadap-hadapan dengan aparat keamanan: Brigade Mobil (Brimob) dan Kepolisian Resor Ogan Ilir. Sesampai di lokasi, Rusdi awalnya ingin mencegah aparat yang ingin memukuli dua warga. Tetapi, dia malah ditangkap.
 
"Aku diminta Wakapolda datang ke sini," teriak Rusdi kepada beberapa polisi yang menggiringnya. "Hoi, itu mamang aku, jangan [disakiti]. Tolonglah." 
 
"Mamang kau t*** ****t!" jawab seseorang dalam video Youtube tersebut.
 
"Kau melok bae [ikut saja]. Ndak usah banyak omong," kata perekam video itu. "Kalau kau nak nurut, kau ndak diapa-apai. Jadi jangan macam-macam." 
 
 
PEMBAKARAN TRAKTOR
 
Rusdi dibawa hingga memasuki mobil polisi. Kekisruhan itu sebelumnya bermula dari pembakaran traktor milik PTPN VII oleh enam orang tak dikenal di Desa Betung, Kecamatan Lubuk Keliat, pada pagi hari. Siangnya, aparat keamanan juga mulai masuk ke Desa Ketiau, tempat pabrik Rayon III perusahaan milik negara itu beroperasi. Lahan-lahan tebu pun mulai dibakar, tanpa diketahui siapa yang melakukannya. 
 
PTPN VII adalah perusahaan milik negara yang dibentuk pada 1996, serta memfokuskan bisnisnya di sektor perkebunan kelapa sawit, karet, tebu dan teh. Berdasarkan situs resminya, cakupan wilayah korporasi itu terdiri dari Provinsi Lampung, Provinsi Sumatra Selatan dan Provinsi Bengkulu. Masing-masing memiliki sepuluh unit usaha, 14 unit usaha serta tiga usaha. PTPN VII juga adalah hasil penggabungan empat PTPN, dan salah satunya merupakan milik Belanda yang dinasionalisasi pada 1957.
 
Para petani akhirnya memadati lokasi. Suasana bertambah panas, karena polisi berusaha menangkap warga. Bentrok tak terhindarkan. Ada semprotan gas air mata. Ada pula asap dari pembakaran lahan tebu yang bikin perih mata. Polisi awalnya menangkap Eep, warga Desa Seri Bandung, serta Suwarman dari Desa Betung dalam kejadian tersebut. Setelahnya, kepolisian juga menangkap Fasili, Muslimin dan Rusdi Tahar. Ketiganya berasal dari desa yang sama, Desa Seri Bandung.
 
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatra Selatan- organisasi lingkungan yang mendampingi warga desa di Ogan Ilir- mencatat sejumlah dugaan tindakan kekerasan yang dilakukan aparat Brimob Polda Sumatra Selatan pada hari itu. Rusdi sendiri mengalami luka lebam di wajah dan luka pada tangannya. Lainnya, dipukul benda keras di kepala, luka pada bibir dan hidung, diancam ditembak hingga ditelanjangi. Mereka dilepaskan setelah Maghrib tiba.
 
Tetapi, kepolisian juga mengklaim sedikitnya empat anggota Brimob dan satu Polres Ogan Ilir terluka akibat serangan warga. Dalam laporan resmi penanganan aksi anarki, para korban itu adalah Briptu Doni Carlos, Briptu Erpan Yuda, Briptu Hengki Sihombing, Bripda Nurhadi serta Brigpol Efriansyah. Mereka terluka akibat dugaan pukulan benda tumpul dan tajam di punggung, luka di lengan hingga luka pada kening.
 
"Sejak saat itu, polisi melakukan penangkapan paksa terhadap warga desa," kata Direktur Eksekutif Walhi Sumatra Selatan, Anwar Sadat. "Setiap saat warga diteror oleh pasukan Brimob Polda Sumatra Selatan."
 
Perlakuan kepolisian tak cukup hingga di sana. Satuan Brimob juga menangkap Dwi Andani, yang tengah menggendong bayinya Muhammad Farel berusia 15 bulan, ketika melintasi wilayah Rayon VI PTPN VII, dua hari setelah kejadian di Desa Ketiau. Dewi bersama tiga warga lainnya asal Desa Betung, baru saja selesai berkebun kala itu. Mereka sehari-hari memang melewati lintasan tersebut. "Guna kepentingan pemeriksaan lebih lanjut, keempat warga tersebut dibawa ke Polres Ogan Ilir," kata Kepala Polres Ogan Ilir AKBP Deni Dharmapala. 
 
 
TERUS DIINTIMIDASI
 
Intimidasi terus-terusan terjadi. Para petani berangkat ke Palembang, melakukan demonstrasi besar-besaran ke Markas Polda Sumatra Selatan karena memprotes penahanan 12 petani lainnya. Sembilan tahanan kemudian ditetapkan tersangka karena dugaan membawa senjata tajam. Tiga lainnya dilepaskan. Ada pagar besi yang dirobohkan.
 
Tetapi, penangkapan demi penangkapan hingga 24 Juli terhadap penduduk itu, bukanlah puncak peristiwa di Ogan Ilir.
 
Tiga hari kemudian, atau 27 Juli, enam mobil aparat gabungan bergerak beriringan memasuki Desa Limbang Jaya, Kecamatan Tanjung Batu. Waktu menujukkan sekitar pukul 15.11 WIB. Saat itu juga adalah minggu pertama kalangan muslim berpuasa Ramadan. Salah seorang warga memukul beduk Masjid Darussalam, sebagai tanda sesuatu tengah terjadi di desa mereka. Suasana memang kian mencekam akhir-akhir ini. Masyarakat mulai berkerumun di Jalan Darat, tepatnya pada persimpangan ilir, lintasan yang dilalui aparat gabungan tersebut. Mobil terakhir aparat terhalang kerumunan massa. Sedangkan lima lainnya, melanjutkan perjalanan ke Jalan Laut.
 
"Apa tujuannya datang?" kata warga, seperti yang tertuang dalam laporan pemantauan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). 
 
"Hanya patroli," kata polisi. "Tidak ada apa-apa."
 
Warga semakin banyak berdatangan. Hal itu yang membuat salah seorang polisi justru menembakkan tembakan peringatan sebanyak dua kali. Celakanya, ini malah bikin orang penasaran untuk melihat apa yang terjadi. Tiba-tiba, rentetan tembakan pun dilepaskan. Masyarakat berhamburan menyelamatkan diri. Ada yang memungut batu di jalan. Mereka melemparkannya ke arah aparat keamanan.
 
Farida, salah seorang warga, awalnya penasaran apa yang tengah terjadi. Dia mendengar suara tembakan hingga melihat banyak orang berlarian. Posisinya saat itu berada di dekat Masjid Darussalam, atau sekitar 89 meter dari lokasi keramaian. Farida baru sadar tangan kanannya tembus terkena peluru. Dia akhirnya lari ke rumah. Saat itulah, bocah Angga Prima-berusia 13 tahun-sudah tergeletak bersimbah darah di depan masjid. Peluru tajam menembus belakang kepalanya.
 
Beberapa warga berteriak-teriak. Kerumunan aparat masih berdiri di beberapa rumah rumah tanpa memberikan pertolongan. 
 
Dalam rekaman video amatir, Angga-memakai baju warna biru muda dan celana pendek hitam-terlentang serta tak bernyawa lagi. Telinga kanannya hampir copot, mengelupas dengan kulit pipinya. Bagian belakang kepala berlubang, bersimbah darah. Saidi, salah satu warga, mencoba mengangkat mayat Angga, namun dihalang-halangi aparat Brimob. 
 
"Pe lah ku omong, ngapo kamu nembak itu? Ngomong polisi [Sudah aku bilang, kenapa kau menembak itu? Katanya polisi]" kata seorang warga dalam rekaman tersebut kepada Saidi, yang tengah menggendong jenazah Angga.
 
 
BOCAH TEREMBAK
 
Bocah lainnya, Iza Mahendra, juga terkena tembakan peluru karet di pinggangnya. Bersama Angga, dia awalnya ingin mengetahui mengapa suasana kian ramai. Iza justru melihat warga berlarian dan akhirnya mengikuti. Namun dia tertembak peluru karet. Sementara Angga, kawan sepermainannya, telah terkapar. Sebelum Saidi datang, setidaknya dua orang ingin menolong Angga namun diberhentikan dengan todongan senjata. Saidi pun tak terlepas dari ancaman tersebut.
 
"Letakkan, kalau tidak kutembak kau," kata seorang anggota Brimob.
 
"Silakan tembak," kata Saidi. 
 
Di saat yang hampir bersamaan, Rusman-yang ingin mengetahui kondisi hiruk-pikuk di luar rumah-akhirnya menuju persimpangan ilir. Namun dia ditembak peluru tajam sehingga lengan kirinya terluka. Tulangnya hancur. Setelah dibawa ke rumah sakit, dokter berpendapat pembuluh darahnya sudah tak bisa lagi memasok makanan. Serpihan proyektil juga ditemukan. 
 
Korban lainnya, Sudirman disambut tembakan hingga menembus tangan kirinya. Semua korban dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara, Palembang. Walhi Sumatra Selatan juga memaparkan terdapat dua perempuan lain yang turut terkena tembakan aparat keamanan pada sore itu. Mereka adalah Jessica, 16 tahun, serta Dud binti Juning, 30 tahun. Awal Agustus, dokter dari Rumah Sakit Charitas, Palembang, akhirnya memutuskan untuk melakukan amputasi terhadap lengan kiri Rusman.
 
"Kekerasan dan pembunuhan itu memperkuat bukti bahwa pendekatan keamanan menjadi pendekatan utama dalam konflik agraria," kecam Abetnego Tarigan, Direktur Eksekutif Walhi Nasional. "Bom waktu sedang diledakkan satu persatu oleh pemerintah sendiri."
 
"Ada arogansi aparat kepolisian," kata Mualimin Dahlan, Koordinator Tim Advokasi Hukum dan Pencari Fakta Cinta Manis. "Kepolisian tak menghormati hak hukum warga yang ditangkap, disiksa dan dirampas harta bendanya."
 
Saya melihat foto Angga-sebelum penembakan terjadi-yang tengah memperlihatkan salam tiga jarinya pada sebuah akun facebook. Senyumnya mengambang, menampakkan barisan gigi atasnya. Kini ayah dan ibunya, Darmawan dan Juhana, tak bisa lagi melihat deretan gigi itu. Juga tak ada lagi salam tiga jari dari bocah kurus tersebut. Dalam laporan media, Angga dimakamkan di pemakaman keluarga, Komplek Masjid Istiqomah, Desa Tanjung Pinang, Kecamatan Tanjung Batu, keesokan harinya setelah penembakan. 
 
Sementara di Palembang, Dedek Chaniago, aktivis Walhi Sumatra Selatan lainnya, turut membesuk Rusman setelah tim dokter selesai mengoperasi lengan kirinya di Rumah Sakit Charitas. Tangannya masih dibalut perban. Rusman yang berbadan kurus, bertelanjang dada saat ditemui dan duduk di pinggiran kasur. Suasana itu ada dalam foto di akun Facebook milik Dedek. 
 
"Jangankan tangan, nyawa sekali pun saya siap dan rela," kata Dedek menirukan perkataan Rusman. "Perjuangan tidak boleh berhenti, tanah harus kembali."
 
(anugerah.perkasa@bisnis.co.id) (faa)
 
 
 

Editor :

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.