KIM HYE SOOK tak pernah tahu mengapa dia dibawa ke sebuah kamp tahanan politik nomor 18 ketika berusia 13 tahun di Provinsi Pyongan Selatan, Korea Utara.
Orangtuanya mengalami nasib serupa dan lebih dulu dibawa ke kamp konsentrasi tersebut pada 1970. Saat itu, Hye Sook masih berumur 8 tahun.
Mereka menyebut tempat itu dengan nama gwalliso atau kwan-li-so. Dari kamp yang terletak di Desa Bongchang inilah, Hye Sook menjalani penderitaan penuh luka hingga 28 tahun lamanya.
Dia berhasil melarikan diri dari Pyongyang- melalui China, Laos dan Thailand- sampai akhirnya ke Korea Selatan pada 2009.
"Hidup para tahanan lebih buruk dari anjing," kata dia. "Para penjaga menyuruh para tahanan berlutut dan membuka mulut mereka. Kemudian mereka meludahinya."
Saya bertemu Hye Sook dalam sebuah acara kampanye bersama Citizens' Alliance for North Korean Human Rights (NHKR), Conectas Direitos Humanos, serta Human Rights Watch (HRW) di sebuah hotel, kawasan Jakarta Pusat pada pekan kedua Agustus.
Tiga organisasi itu masing-masing berbasis di Seoul, Korea Selatan, Sao Paolo, Brasil dan New York, Amerika Serikat. Ketiganya juga bekerja sama dalam upaya pemantauan maupun upaya advokasi masalah hak asasi manusia (HAM) di Pyongyang.
Sore itu, Hye Sook tampil dengan balutan blazer dan rok putih bermotif bunga kembang sepatu merah. Sandalnya pun mengikuti warna setelannya.
Berambut pendek, tak lebih dari bahu, usianya kini mencapai 50 tahun.
Dia menyampaikan pengalaman kelamnya dalam bahasa Korea. Rekannya, Eom Young Sun menerjemahkan ke dalam bahasa Inggris.
Hye Sook mengatakan meludah ke mulut para tahanan merupakan upaya penghinaan dari penjaga kamp. Mereka akan memukuli para tahanan seandainya cairan itu tak ditelan. Dia sendiri mengalami hal itu tiga kali dan membuatnya tak bisa makan.
"Hari-hari hanya dipenuhi rasa sakit," katanya. "Saya merasa ingin bunuh diri dalam waktu yang tak terhitung itu. Tetapi, saya tak sanggup."
Saya dan peserta diskusi lainnya-wartawan dan aktivis HAM- juga menonton video dokumenter selama 15 menit tentang kekejaman para aparat keamanan di Pyongyang.
Ada perempuan hamil besar yang dipukul perutnya. Ada hukuman tembak di depan umum. Anak-anak kecil yang menjadi pengemis atau kkotjebi.
Mereka juga mengais sisa-sisa makanan di tanah yang becek. Pangan memang masalah besar di Korea Utara, tentunya juga di gwalliso.
"Banyak para tahanan yang mati, dan akhirnya menjadi makanan tikus-tikus di kamp," kata Kang Chol-Hwan, salah satu bekas tahanan di gwalliso nomor 15. "Tikus menjadi sangat gemuk. Dan, Anda akan kenyang dengan hanya makan satu ekornya."
Gwalliso nomor 18 adalah sebuah lokasi pertambangan. Tempat itu juga juga tak sekadar kamp tahanan, tetapi lokasi bekerja serta sekolah.
Hye Sook memperkirakan-semasa dia menjalani pekerjaannya di sana- ada sekitar 20.000 orang yang tinggal dan diperkirakan 3.000 di antaranya adalah para penjaga kamp beserta keluarganya. Lokasi kamp tersebut dibelah oleh Sungai Taedong, yakni satu bagian untuk para tahanan politik serta sisanya diisi oleh penjaga.
Wikipedia mencatat saat ini terdapat total enam kamp konsentrasi di Korea Utara berdasarkan citra satelit. Masing-masing berada di kawasan Kaechon (gwalliso nomor 14), Yodok (gwalliso nomor 15), Hwasong (gwaliso nomor 16), Bukchang (gwalliso nomor 18), Haengyong (gwalliso nomor 22) dan Chongjin (gwalliso nomor 25). Jumlah total para tahanan itu diperkirakan mencapai sekitar 200.000 orang.
Laporan Dunia 2012 dari HRW memaparkan pelbagai pelanggaran HAM serius terjadi di Korea Utara di bawah kepemimpinan Presiden Kim Jong-Il.
Mulai dari masalah bencana kelaparan, penyiksaan dan perlakuan tak manusiawi, eksekusi, kamp buruh-buruh paksa, kriminalisasi para pengungsi yang meninggalkan Pyongyang, pengadilan di bawah kontrol pemerintah serta pelarangan kebebasan informasi.
Organisasi itu juga menyebutkan bahwa kematian puluhan ribu orang di gwalliso merupakan warisan Jong-Il. Dia adalah Presiden yang berkuasa pada 1994-menggantikan kepemimpinan ayahnya Kim Il Sung selama 22 tahun-dan meninggal dunia pada Desember 2011. Kini negara itu dipimpin oleh Kim Jong Un, anak ketiga dari Jong Il.
"Korea Utara di bawah kepemimpinan Jong Il telah menjelma menjadi neraka hak asasi manusia di muka bumi," kata Kenneth Roth, Direktur Eksekutif HRW. "Dia memimpin melalui ketakutan yang dihasilkan dari pelanggaran HAM yang sistematis dan mendalam."
Organisasi itu juga mengungkapkan bencana kelaparan di Korea Utara yang masih berlangsung hingga hari ini.
Selama paruh pertama tahun lalu, kekurangan pangan di negara tersebut diperkirakan mencapai lebih dari 1 juta metrik ton.
HRW menilai masalah tersebut juga ditimbulkan akibat kebijakan pemberian makanan yang diskriminatif kepada warga negara.
Kelompok-kelompok yang dipasok pangannya secara teratur adalah pihak militer, pejabat pemerintah hingga para loyalis Presiden.
Namun, HRW menilai, masalah kelaparan juga disebabkan oleh salah urus kebijakan ekonomi serta gagalnya panen akibat musim dingin dan banjir pada 2010.
"Selama musim dingin orang hanya makan semangkok bubur jagung tanah, garam dan doenjang [pasta kedelai] di gwalliso," kata Hye Sook. "Tapi garam tak pernah cukup, sehingga orang-orang akan menjilati doenjang."
"Banyak anak yang ke sekolah tanpa memakai sepatu. Akibatnya kaki mereka bengkak karena kedinginan," katanya lagi. "Ini membuat kaki mereka akhirnya diamputasi."
"Karena Anda harus hidup, tubuh pun dapat dijual untuk mendapatkan nasi atau uang," kata Kim Choon Ae, salah satu bekas tahanan kamp. "Anda akan melakukan apa pun untuk tetap bertahan."
Saya memperhatikan wajah Hye Sook. Sesekali suaranya tersedak saat menceritakan pengalamannya di gwalliso nomor 18. Salah satu aktivis NKHR, Joanna Hosaniak, menuangkan air minum untuk menenangkannya.
Hye Sook menceritakan pekerjaan selama16 jam di gwalliso, salah satunya mendorong gerobak batu bara.
Menikah tanpa pilihan. Suami yang tewas karena kecelakaan di lokasi tambang. Putri dan putranya yang juga mangkat, tersapu banjir saat berusia 12 tahun dan 9 tahun.
Kematian itu diketahui setelah 2 tahun dirinya dibebaskan pada Februari 2001, saat mendatangi rumahnya yang hanyut karena gelombang air bah. Jenazah Kim Hyon Mi dan Kim Hyon Seo juga tak pernah ditemukannya.
Hye Sook seringkali merasa perih ketika ada anak-anak yang melintas di hadapannya. Perasaan itu seperti menyibakkan pertemuan dengan buah hatinya kembali.
(anugerah.perkasa@bisnis.co.id)(faa)
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.