---- “Seberapapun hebat, terkenal, atau berhasilnya seorang pria atau wanita, ia tetap merindukan pujian. Pujian adalah oksigen bagi jiwa.”
“Jika setiap orang harus mengakui hasrat diri paling mendalam, hasrat yang memotivasi semua rencana, semua tindakan, hasrat itu adalah hasrat ingin dipuji “
(Emil M. Cioran, filsuf Rumania).
Ini lelucon yang disenangi oleh John C. Maxwell, kurang lebih demikian: Ketika seorang pria tua tengah menjelang ajal, wanita yang telah bertahun-tahun mendampinginya sebagai istrinya, duduk di sisi ranjang. Pria itu membuka matanya, memandang istrinya dan berkata lirih, “ Susi, kamu di sini,” katanya, “Di sisiku lagi.” “Ya, sayang,” jawab sang istri. “Mengenang semuanya,” kata sang pria.
“Aku ingat semua peristiwa ketika kamu ada di sisiku. Saat aku menerima panggilan harus berangkat perang yang menyedihkan, kamu bersamaku. Juga saat rumah kita terbakar habis. Juga ketika aku mengalami kecelakaan yang menghancurkan mobil baru kita, padahal mobil itu belum diasuransikan. Kamu juga di sampingku saat bisnisku bangkrut dan kita kehilangan semua harta kekayaan kita,” pria itu berceloteh lambat dalam nafas tersengal.
“Ya, sayang,” sahut sang istri, dengan berharap adanya ucapan manis, pujian dari sang pria. Sembari mencoba menghela nafas panjang. “Dengar Susi,” kata sang pria, dengan keras dan wajah bersungut-sungut, “ Kamu memang benar-benar nasib burukku!”
Celaan dan pujian adalah konsep hukum alam, ada hitam ada putih. Ada hukuman ada hadiah (punishment and rewards). Ada penjara, ada acara-acara penganugerahan hadiah dan kejuaraan. Kesemuanya merupakan suatu cara, bermuara kepada suatu sasaran, suatu pencapaian tujuan tertentu dalam pelbagai bidang kehidupan.
Dan demikianlah, ada hitam dan putih, dinyatakan pula oleh Douglas Mc. Gregor dalam bukunya, The Human Side of Enterprise, tahun 1960:teory X dan Y. Teori Mc Gregor ini adalah pandangan mengenai jenis-jenis manusia dari aspek motivasi. Menurut Mc Gregor, ada 2 cara pandang besar mengenai masyarakat pekerja.
Pertama, cara pandang teori X, bahwa masyarakat itu memiliki karakter Buruk (The Bad), antara lain: tidak suka bekerja dan sebisa mungkin akan menghindarinya, harus dikontrol dan diatur agar mereka mau bekerja keras serta tak mau bertanggung-jawab. Kedua, teori Y, karakter Baik (The Good): ingin bekerja, mampu mengarahkan dirinya sendiri pada jalur perusahaaan, setia (meskipun tetap harus didorong dengan imbalan-imbalan), dapat menerima tanggung-jawab, imajinatif dan kreatif serta mampu menjadi problem solver (penyelesaian masalah).
Memandang orang lain dengan teory X, lalu melakukan pendekatan bersifat punishment, atau memandang dengan teory Y dan kemudian memberikan awards, kesemua adalah soal pilihan masing-masing orang.
Namun, pada umumnya anjuran para pemimpin, para pemikir dan para pendidik pada umumnya lebih banyak mengetengahkan pendekatan positif, pendekatan dengan teory Y.
“Tidak ada hal yang lebih mematikan ambisi selain kecaman dari atasan. Jadi, aku senang memberikan pujian, dan sangat tidak suka mencari-cari kesalahan. Belum pernah aku mengenal orang yang, betapapun tinggi jabatannya, yang tidak melakukan pekerjaan dengan lebih baik dan berusaha lebih keras jika kerja kerasnya itu dihargai dan tidak dikecam,” kata Charles Schwab dalam How to Win a Friend and Influence People sebuah buku best seller Dale Carnegie.
“Jika kita ingin anak-anak kita menjadi lebih baik, biarkan mereka mendengar kata-kata pujian tentang mereka yang kita sampaikan kepada orang lain,” ujar Haim Ginnot, seorang psikolog dan pendidik terkemuka dari Universitas Columbia. Sementara Mark Twain mengaku, “Aku akan bisa bertahan hidup dua bulan hanya dengan mendapatkan pujian yang tulus.”
Mary Kay Ash, pemilik Mary Kay Ash Cosmetics Corporation, seorang wanita wirausahawan besar dan terkemuka dari Amerika Serikat, selalu mengingatkan kepada para anggota timnya, “Jangan pernah melupakan pesan ini saat bekerja bersama orang lain. Semua orang memiliki papan nama tak terlihat yang tergantung pada leher mereka. Di atas papan nama itu tertulis: Buatlah Saya Merasa Dihargai.”
“Seberapapun hebat, terkenal, atau berhasilnya seorang pria atau wanita, ia tetap merindukan pujian. Pujian adalah oksigen bagi jiwa,” kata George Matthew Adams.
John Wooden, pelatih basket legendaris dari Amerika Serikat, menyatakan bahwa ia sering mengingatkan pemainnya yang mencetak angka untuk tersenyum, mengedipkan mata atau mengangguk pada pemain yang memberi mereka passing yang baik. “Bagaimana jika ia tidak melihat?” ujar seorang pemain. Wooden menjawab, “Saya jamin ia akan melihat.” Hukum dasarnya, semua orang senang saat kontribusi mereka diakui.
Jeff Bezos, CEO Amazon, yang tahun ini terpilih sebagai CEO Terbaik versi majalah Fortune (Warren Buffett, orang terkaya dunia, berada di nomer 19 dari 20 orang Terbaik lainnya), mengatakan, “Saya menyadari benar, saya amat termotivasi dengan adanya pengakuan dan penghargaan orang-orang kepada saya. Saya sangat senang dengan penghargaan dari para pelanggan saya. Kita saling menghargai satu sama lain. Saya juga sangat senang dengan penghargaan dari para pemegang saham kepada saya. Dan itu sebabnya saya amat termotivasi.”
Demikianlah, benar adanya, Teory Y adalah pendekatan yang secara moral dan spiritual dianjurkan. Dan benar pula adanya pesan dari kaidah universal ini, Aturan Emas (The Golden Rule) yang menyatakan : “Perlakukanlah orang lain sebagaimana Anda ingin diperlakukan.” Untuk itu, mari kita mulai dengan merenungkan, bagaimana kita ingin diperlakukan oleh orang lain.
*Ketua Asosiasi Perusahaan Rental Kendaraan Indonesia
Source : Pongki Pamungkas
Editor :
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.