---- “Ambisi adalah sesuatu yang penting tetapi berbahaya. Dialah yang membuat banyak orang berhasil. Namun, ambisi pula yang membuat orang tidak pernah bahagia karena tidak akan pernah terpuaskan.”
Tahun baru telah dimulai, dan bagaimanakah semangat Anda memulai tahun baru ini? Sudah menyiapkan rencana? Sudah mulai berlari ataukah masih berandai-andai serta masih penuh keraguan?
Pertama-tama, saya harus mengakui dulu bahwa inspirasi tulisan ini tidak muncul dari diri saya sendiri, tetapi muncul tatkala saya sedang meng-update status Facebook saya. Saat itu, seorang rekan menuliskan kalimat inspirasi soal AKAR ini. Saya pun memberi jempol dan meminta izin untk membagi informasi ini.
Nah, apakah hubungannya antara akar dengan memasuki tahun baru ini? Sebelumnya, ingatkah atau pernahkah Anda membaca soal tanaman bambu. Diceritakan, bahwa selama kurang lebih 3 hingga sampai 4 tahun, tanaman bambu tidak tinggi-tinggi sehingga seringkali membuat frustrasi orang yang menanamnya.
Namun, apa yang terjadi setelah tahun kelima dan seterusnya? Ternyata, pohon bambu akan menjulang tinggi ke atas. Pertanyaannya, mengapa demikian? Jawabannya, ternyata selama kurun waktu 3 hingga 4 tahu tersebut, tanaman bambu sebenarnya sedang menumbuhkan akar-akarnya yang kuat. Setelah akarnya menjadi kuat, barulah tanaman itu bisa tumbuh menjulang ke atas dengan gagahnya. Nah, apa pelajarannya bagi kita?
Sama seperti tanaman bambu ini pula, semoga pada awal tahun ini kita tidak lupa dengan akar-akar yang perlu kita bangun. Cobalah kita lihat bangunan yang menjulang tinggi. Di baliknya, kita pasti tahu bahwa ada pondasi, ada akar bangun yang sangat kuat yang menopangnya. Begitu pula dengan kehidupan kita! Jika kita ingin menjulang, ingin sukses serta reputasi yang tinggi, janganlah lupa bagi kita untuk membangun akar-akar kita, fundmental sukses kita.
Nah, apa saja akar fundamental yang penting untuk memulai awal tahun ini? Marilah kita kembali kepada prinsip kita, AKAR. Apakah AKAR ini?
Pertama-tama, A bicara soal ambisi. Seringkali orang menganggap ambisi sebagai sesuatu yang negatif. Mari kita bedakan antara sikap ambisi dengan ambisius. Ambisi bicara soal keinginan, cita-cita serta dorongan kita untuk menjadi sukses dengan apa yang kita kerjakan. Bahkan, Archie Danielson, mengatakan “Inteligensi tanpa ambisi, adalah ibarat burung tanpa sayap.”
Ambisi
Ambisi adalah semangat untuk mewujudkan hasil serta melihat sesuatu yang baik, terwujudkan. Namun, nilai kenetralan ambisi, kadang bisa terkotori ketika demi ambisi tersebut, orang mulai menghalalkan berbagai cara hingga memakan korban orang lain, demi ambisinya.
Makanya, bicara soal ambisi, salah seorang penulis yang dianggap bebahaya, Nicollo Machiavelli mengatakan, “Ambisi adalah sesuatu yang penting namun berbahaya. Dialah yang membuat banyak orang berhasil. Tetapi, ambisi pula yang membuat orang tidak pernah bahagia karena tidak akan pernah terpuaskan.” Namun, untuk setiap pencapaian dan kehidupan yang lebih baik, kita membutuhkan bumbu ambisi dalam masakan pejalanan karir kita.
Berikutnya, K adalah konsistensi. Bicara konsistensi adalah bicara soal kesetiaan untuk terus-menerus melakukan dan berlatih meskipun hasilnya belum kelihatan. Seperti dikisahkan bagaimana karir seorang pemain NBA (National Basket Association) yang dikenal dengan shoot jarak jauhnya yang luar biasa yakni, Larry Bird.
Larry Bird termasuk seorang pemain dengan konsistensi memasukkan bola jarak jauh yang begitu terkenal sepanjang sejarah NBA. Namun, bicara soal kesuksesannya, tidak bisa dilepaskan dari konsistensi Larry Bird untuk terus-menerus berlatih. Bahkan, begitu konsistennya dia latihan, setiap hari, setelah pulang sekolah, ia akan terus konsisten berlatih meskipun ada kegiatan ataupun pesta yang perlu dihadirinya, atau meskipun dengan badan capek luar biasa.
Konsistensi berlatih, konsistensi dengan sikap, juga konsistensi dengan hasil yang kita berikan itulah yang merupakan salah satu kunci sukses yang penting. Saya mengenal pula seorang rekan yang terkenal konsistensinya untuk mengirimkan BBM (Blackberry Message) setiap pagi untuk memberikan inspirasi.
Dia menyebut dirinya silent motivator. Awalnya, orang berpikir itu hanya gaya dan sok-sokan saja. Nyatanya, lebih dari setahun, rekan saya ini terus tidak pernah alpa mengirimkan BBM inspiratifnya. Hasilnya, dia pun membuat dirinya dikenal sebagai penulis dan inspirator yang secara rutin mengirimkan inspirasinya. Fan-nya pun cukup banyak.
Lalu, A yang kedua bicara soal adaptif. Perjalanan kita di tahun ini, dapat diibaratkan seperti sedang berlayar menuju sebuah tujuan tertentu. Yang jelas, kecuali beruntung sekali, biasanya kita tidak bisa langsung dengan koordinat garis lurus menuju tujuan kita. Pastinya, di tengah jalan biasanya akan ada ombak, akan ada badai ada angin yang mungkin meniup sehingga perjalanan kita terombang-ambing. Pada saat itulah, dibutuhkan kemampuan kita untuk beradaptasi.
Beradaptasi bermakna dua hal. Pertama, menyesuaikan diri dengan kondisi karena situasi tidak memungkinkan untuk melakukan apa yang kita inginkan. Makna kedua dari adaptif adalah mengubah cara kerja ataupun pendekatan yang keliru, yang tidak memberikan hasil.
Akhirnya R, yakni rendah hati. Makin lama, nilai kerendahatian, menjadi komoditas yang semakin langka, khususnya di era media sosial ini. Setiap hari, orang berlomba-lomba agar dirinya diketahui dan dikenal. Setiap pencapaian dan hasil yang diperoleh, dipasang ‘status’-nya sehingga semua orang bisa mengetahui.
Inilah era dimana orang lebih banyak bicara soal “saya” daripada “kamu”. Namun, prinsip kepedulian dan kerendahatian ternyata justru menjadi kunci kesuksesan yang laggeng. Masih ingatkah Anda bahwa salah satu karakter kunci dari pemimpin perusahaan yang bertahan bergenerasi menurut Jim Collins, penulis “From Good to Great” adalah kerendahatian?
Saya pun teringat tatkala Sir Edmund Hillary ditanya siapakah yang sebenarnya menapaki puncak Mount Everest duluan. “Apakah Anda ataukah pemandu Anda, Tanzing Norgay, yang menapaki puncak Mount Everest duluan”. Tahukah jawabannya? “Kami bersama-sama menapaki puncak Mount Everest.”
Meskipun, konon ada legenda yang mengatakan bahwa Tazing Norgay-lah yang punya kesempatan pertama kali sampai, tetapi ia mempersilakan Sir Edmund Hillary duluan. Yang jelas, hanya mereka berdua yang tahu, siapa yang sampai duluan. Yang jelas, kepada dunia, jawaban mereka adalah sama “Kami tiba bersama-sama di Puncak!.”
Sama sekali tidak ada keinginan salah satunya untuk merasa lebih hebat. Namun, justru kerendahan hati itulah yang menjadi kunci kesuksesan yang makin mahal. Sementara, semua orang berusaha menonjolkan diri dan ingin kelihatan hebat, kata terakhir dari AKAR mengajak kita untuk mencapai hasil kita tanpa harus terlalu berlebihan. Tatkala kita menang, bagaimana orang tidak merasa dikalahkan. Tatkala kita sukses, bagaimana orang lain tidak terganggu oleh kesuksesan kita, malahan mendukung. Di sinilah dibutuhkan kerendahatian yang luar biasa.(msb)
Source : Anthony Dio Martin
Editor : Martin Sihombing
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.