RSS FEEDLOGIN

KEMEWAHAN HINGGA AKHIR: Rumah Duka Bak Hotel Bintang Lima

Martin Sihombing   -   Selasa, 30 April 2013, 17:01 WIB

TERKAIT

POPULER

PILIHAN REDAKSI

130430_san-diego-hills.jpgSeperti produk komersial lain, laynan pemakaman dan lahan makam kini juga ikut diiklankan. Kemewahan dan kenyamanan merupakan dua hal yang dijual oleh penyedianya.

Pengelola rumah duka Heaven Funeral Home menampilkan berbagai jasa dari rumah duka itu, yang lebih mirip layanan hotel bintang lima. Keluarga yang tengah berduka tidak hanya disediakan ruang duka yang luas, tetapi juga dekorasi, makanan kelas atas, kamar tidur, toilet, televisi, hingga akses wifi.

Berdiri sejak 2010, rumah duka berlantai delapan ini sudah seperti hotel bintang lima. Ruangan duka dibuat seluas 7,5 x 30 meter, jauh lebih luas dari kebanyakan rumah duka yang umumnya berukuran 4x15 meter.

Dengan harga paket Rp 18 juta hingga ratusan juta rupiah, tergantung pada jenis peti dan ruangan yang dipilih, peminat rumah duka ini cukup banyak. “Kira-kira per bulan bisa mencapai 40 klien,” kata Sutarto, pengelola rumah duka yang ada di bawah Grup Naga Sakti itu.

Pengelolanya mengklaim rumah duka yang terletak di kawasan Pluit, Jakarta Utara ini sebagai rumah duka termewah di kawasan Asia. “Kalau Anda jalan-jalan ke Singapura dan Hong Kong, belum ada yang tempatnya bagus seperti ini,” kata Hengky Dompas, yang juga salah satu pengelola Naga Sakti.

Heaven Funeral merupakan satu dari lima rumah duka yang ada di bawah Naga Sakti.  Empat rumah duka lainnya yakni Holy Funeral Home di Rumah Sakit Atma Jaya, rumah duka Sembilan Naga di Rumah Sakit Kanker Dharmais, Rumah Duka Husada, dan Rumah Duka Gatot Soebroto. Selain itu, Naga Sakti juga merambah ke unit bisnis lain seperti Krematorium Nirwana dan taman pemakaman Quiling. Masing-masing dikelola oleh perusahan tersendiri, di bawah naungan Naga Sakti Group.

Lahan pemakaman Quiling yang terletak di Jonggol, Bogor diklaim sebagai satu-satunya tempat yang memiliki pemandangan seperti di daerah Quiling, China dengan hamparan gunung, lereng, dan aliran sungai. Harga kaveling lahannya beragam, mulai dari Rp 2,5 juta hingga ratusan juta. Paket kaveling dobel untuk Katolik dan Kristen misalnya, dibanderol hingga Rp92 juta dengan luas 4x7 meter. Pemakaman untuk Tionghoa seluas 200 meter persegi yang bisa didapat dengan harga sekitar Rp100 juta.

Sebanyak 20 hektare dari total luas 120 hektare lahan Quiling, sudah terisi. Peminatnya kebanyakan warga keturunan Tionghoa yang berpegang pada hitung-hitungan Hong Shui. Sayangnya, Hengky enggan menyebut berapa besaran rupiah yang diperoleh dari bisnis ini. “Yang jelas peminatnya selalu meningkat setiap tahun,” katanya.

BUKAN BISNIS SEMATA

Bisnis pemakaman mewah jelas bukan hanya menjadi monopoli Naga Sakti Group. Lippo Group, yang selama ini dikenal dengan bisnis propertinya, juga melirik layanan pemakaman mewah sejak beberapa tahun lalu lewat San DiegoHillsMemorial Park. Ada berbagai fasilitas di taman pemakaman yang terletak di Karawang, Jawa Barat ini, seperti kolam renang, restoran, danau buatan, jogging track, hingga arena outbound. Semua fasilitas ini tentunya disediakan buat yang ingin berziarah ke makam keluarga atau kenalan mereka.

Sejak diluncurkan pada 2008, pemakaman yang memiliki luas lahan 500 hektare ini telah menjual sekitar 28.000 unit atau setara dengan luas lahan 50 hektare. Sebanyak 2.800 unit diantaranya sudah terisi, sedang sisanya merupakan kaveling yang sudah dibayar.

Menurut Suziany Japardy, Direktur Utama San Diego Hills Memorial Park, setiap bulannya kompleks pemakaman ini bisa menjual 1.000 unit hingga 2.000 unit. Dengan estimasi harga standar untuk tipe single sebesarRp 23 juta. “Pendapatan per tahun kami hitung saja sendiri, bisa di atas Rp100 miliar, tetapi tidak sampai Rp300 miliar,” kata Suzy. Dia menargetkan penjualan naik 50% tiap tahunnya.

Ide bisnisnya datang dari pengalaman sang pendiri Lippo Group, Mochtar Riady, saat mengunjungi makam orangtuanya di Malang. Kondisi kompleks makam yang serba pas-pasan, jalan tanah, minimnya toilet menjadi persoalan buat para penziarah.

Lantas, konsep pemakaman yang nyaman seperti yang tampak di luar negeri pun diboyong ke Tanah Air. San Diego Hills menyediakan berbagai paket, mulai dari liang lahat berukuran 1,5 x 2,6 meter per jenazah, hingga lahan seluas 264 meter persegi yang bisa dipakai untuk satu generasi keluarga berkapasitas 50 orang.

Kendati menguntungkan, Suzy mengaku keuntungan bisnis pemakaman masih kalah jauh dibandingkan dengan bisnis properti. “Kalau dilihat dari margin-nya memang tinggi. Namun, kalau dari penjualan, jauh lebih besar bisnis properti,” katanya.

Dia menambahkan pemakaman merupakan bisnis jangka panjang yang membutuhkan komitmen tinggi. Sulit jika ada pengusaha yang ingin masuk ke bisnis ini hanya dengan tujuan meraup keuntungan.

Hal senada juga dikemukakan Suwito Muliadi, pemilik Naga Sakti Group. “Kalau orientasinya semata-mata karena uang, lebih baik jangan menggeluti bisnis ini. Kita harus punya rasa welas asih. Jiwa sosial harus ada. Kalau mau untung saja, jadinya pasti susah.”

Salah satu bentuk komitmen mereka adalah perawatan makam dan fasilitas keamanan yang berlaku hingga selamanya. Konsumen hanya berkewajiban membayar satu kali tanpa ada biaya tambahan per tahunnya.

Hal tersebut dimungkinkan karena mereka menyisihkan pendapatan dalam bentuk endowment care fund yang digunakan untuk merawat makam tiap tahun. Jumlahnya sebesar 10% hingga 15% dari total pendapatan yang kemudian didepositokan atau diinvestasikan dalam bentuk lain. “Bunga atau hasilnya itulah yang digunakan untuk biaya perawatan,” kata Suzy.

Ke depannya, San Diego Hills berencana untuk ekspansi ke luar Jakarta. Di Jakarta, mereka berencana membangun rumah duka yang eksklusif sebagai fasilitas pendukung.

Naga Sakti tampaknya juga tak mau ketinggalan. Mereka berencana untuk ekspansi ke beberapa kota, sembari terus memperbarui teknologi dan manajemen rumah duka, kremasi, dan tempat pemakaman yang sudah ada.

Source : Riendy Astria & Christine Franciska

Editor : Martin Sihombing

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.