* Judul Buku: Virtual: Sebuah Pengantar Komprehensif
* Judul Asli: The Virtual
* Penulis: Rob Shields
* Penerbit: Jalasutra, Yogyakarta
*Cetakan: Tahun I, September 2011
*Jumlah halaman: xx+272 halaman
Layanan jual-beli daring (online) meruyak di mana-mana. Pertukaran uang dan perguliran barang dilangsungkan tanpa perlu beranjak dari tempat duduk. Anak-anak terlarut dalam game-game virtual yang melenakan mereka akan permainan real. Dan orangtua pun cemas menyaksikan perangai anak-anak mereka tatkala berinteraksi di alam nyata.
Kita hidup di era yang sarat virtualitas. Virtual telah menjadi ide sentral dalam pengorganisasian kebijakan pemerintah, kebiasaan sehari-hari, dan strategi bisnis. Penemuan komputer dan Internet kian menegaskan hal itu. Antara yang konkret dan yang abstrak kian kabur—kendati virtual sesungguhnya berarti “sesuatu yang nyata namun tidak konkret” (hal. 2).
Rob Shields, profesor sosiologi dan antropologi dari Universitas Carleton, Ottawa, Kanada, mendedahkan bahwa virtualitas sesungguhnya telah ada di masa lampau, jauh sebelum penemuan komputer dan Internet. Ia tak semata-mata muncul di era kapitalisme global.
Pada masa sebelumnya, virtual dianggap sebagai aspek penting dari sarana kesadaran dan pengetahuan. Liturgi, ritual, dan kebenaran spiritual didekati melalui ihwal virtual. Ritual keagamaan acap dimaksudkan untuk mewujudkan virtual: melukai boneka voodoo akan menyebabkan kerusakan fisik di tempat jauh.
Dengan bangkitnya komunikasi bermediakan komputer dan lingkungan virtual yang diciptakan secara digital, virtual “kembali” ke budaya Barat, melahirkan ‘dunia maya’. Dunia maya (Gibson: 1984) adalah halusinasi konsensual: realitas pengganti yang diciptakan oleh komputer, yang memegang semua pertukaran ekonomi (hal. 56). Dalam konteks teknologi digital, virtual hadir buat menyamakan hal yang divisualisasikan.
Virtual juga merambah tempat kerja. Banyak perusahaan memekerjakan pegawai yang mahir bermain video-game. Ini bukan tanpa sebab: dalam pekerjaan yang tervisualisasi, mesin dan alat-alat dikendalikan melalui papan-ketik (keyboard) dan joystick (hal. 137). Kontrol analog tergantikan oleh antarmuka digital. Pendeknya, lingkungan virtual mengharuskan seorang pegawai nyaman bekerja dengan komputer.
Pada simpulan bukunya, Shields (hal. 231) mengatakan, kita perlu belajar lebih banyak dari manifestasi masa lalu dan bentuk virtual sehingga kita bisa memahami dengan lebih baik implikasi dari investasi kita yang berkelanjutan, dalam penciptaan virtualitas digital global.
Source : Edi Atmaja, Fakultas Hukum Universitas Diponegoro
Editor :
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.