JAKARTA: Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Karen Agustiawan mengaku selalu mendengarkan kata hati dalam menjalankan perannya sebagai dirut wanita pertama dalam sejarah BUMN migas tersebut. "Kelebihannya wanita jadi pemimpin itu, wanita punya bahasa hati yang mungkin di kalangan bapak-bapak ini tidak dijumpai," ujarnya dalam acara 'Srikandi Migas Membangun Negeri' yang digagas Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI), malam ini. Karen menceritakan dirinya bisa menjadi seperti sekarang ini berkat didikan ayahnya yang seorang Guru Besar Universitas Padjajaran bernama Prof. Dr. Soemiatno. Ayahnya mendidik Karen kecil agar bisa mandiri dan dia diberikan kesempatan pendidikan yang sama meski ia adalah seorang perempuan. "Biasanya kan kultur zaman dulu itu perempuan nggak usah sekolah tinggi-tinggi, toh nanti kawin juga. Tapi bapak saya tidak begitu, bapak saya memberikan kesempatan pendidikan yang sama ke anak-anaknya," ujarnya. Selain karena didikan ayahnya, Karen mengaku dibalik kesuksesannya saat ini juga tidak lepas dari dukungan suaminya, Herman Agustiawan, yang saat ini menjabat sebagai anggota Dewan Energi Nasional (DEN). Karen dan Herman dikaruniai tiga orang anak. "[Di balik kesuksesan ini], selain punya suami yang pengertian, juga punya suami yang sabar," ujarnya. Karen mengakui karena kesibukannya menjadi Dirut Pertamina saat ini, otomatis pertemuan dengan suami dan ketiga anaknya menjadi jarang. Bertemu suami, lanjutnya, mungkin hanya saat makan malam atau sebelum tidur. "Ketemu paling hanya dinner atau ketemu sebelum tidur. Dan saya selalu bilang no pillow talk, jangan ditanya tadi habis rapat apa. Kepala ini sudah pusing seharian, jangan ditanya lagi tadi habis rapat apa," ujarnya yang disambut riuh tawa hadirin. (tw)
Editor :

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.