"Sejarah sudah selesai. Kita tidak bisa ubah itu. Yang bisa kita pengaruhi adalah masa depan." Itu adalah kata-kata bijak yang dilontarkan Elisa Lumban Toruan, sekitar tiga pekan silam, saat berbicara tentang masa depan Citilink.
Elisa adalah eksekutif Garuda Indonesia, setelah lama malang melintang sebagai profesional di dunia teknologi informasi. Citilink sebentar lagi akan disapih dari Garuda, menjadi perusahaan berdiri sendiri, untuk melayani konsumen kelas menengah yang menginginkan penerbangan yang lebih affordable.
Istilah keren yang kerap dipakai di industri ini: low cost carrier; tetapi kerap disalahterapkan sebagai low fare airline.
Tentu Elisa tidak bermaksud menjadi filsuf ketika menyitir kalimat bijak itu. Ia hanya mengajak timnya untuk berbenah, mengarungi masa depan yang tentu banyak risiko, tetapi menyimpan besar sekali peluang.
Saya senang dengan kalimat itu, karena --pinjam istilah anak muda Jakarta sekarang-- gue banget. Janganlah selalu menengok ke belakang, apalagi melihat kaca spion melulu, karena bisa-bisa justru malah celaka lantaran nggak punya visibility (awas, bukan feasibility) melihat masa depan.
Sesekali, jarang dan teramat jarang, bolehlah menengok ke belakang untuk mengambil pelajaran. Tetapi mengenang terus masa lalu akan menyedot energi Anda pelan tapi pasti, yang ujung-ujungnya dapat membuat lunglai.
***
Lantas apa hubungan sejarah dengan industri pesawat terbang?
Kebetulan, karena antara lain persoalan visibility yang dalam banyak kamus diartikan jarak pandang, pesawat bikinan Rusia yang terkenal itu, Sukhoi, celaka di Gunung Salak, Bogor, Rabu silam.
Tentu masih ada beberapa faktor lain, yang sedang dalam penyelidikan otoritas transportasi --lokal dan internasional-- untuk mengetahui penyebab kecelakaan yang tragis itu.
Salah satu yang mendapatkan protes keras adalah miskomunikasi dan disinformasi tentang kondisi geografi wilayah Jawa Barat, tempat kejadian kecelakaan pesawat Super Jet 100 yang nahas tersebut.
Banyak cerita beredar, pihak Rusia protes keras kepada otoritas Indonesia karena tidak memberikan informasi yang memadai. "Nggak pernah diinformasikan, bahwa ada salak sebesar gunung di wilayah Bogor," begitu kurang lebih protes yang beredar sebagai lelucon di banyak kalangan.
Kalau saya menyitir tragedi Sukhoi ini, tentu bukan itu yang dimaksudkan oleh Elisa. Ini adalah versi liar saja, dan kalau dipaksakan nyambung, ya nyambung saja.
Mengapa tidak? Coba deh Anda ingat, pesawat jet semacam Sukhoi Super Jet 100, dan pesawat buatan China MA60 yang dibeli Merpati Nusantara dan sempat celaka juga di perairan wilayah Papua beberapa waktu silam, sebenarnya adalah segmen pesawat komersial yang telah jauh-jauh hari disiapkan Indonesia sendiri melalui PT Dirgantara Indonesia.
PTDI adalah pabrik pesawat terbang milik Indonesia, yang dulu bernama Nurtanio, sebelum berganti nama menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara dan akhirnya diberangus oleh IMF.
Mengapa International Monetary Fund atau IMF namanya tersangkut di kolom ini? Ya. Untuk melihat sejarah tadi. Andai saja krisis ekonomi 14 tahun lalu tidak dipakai sebagai alasan untuk menghentikan banyak sekali agenda strategis Indonesia atas saran lembaga keuangan itu, barangkali ceritanya akan lain.
Saya sampai sekarang masih tidak percaya bahwa alasan teknis-ekonomi ada di balik penghentian proyek pesawat komersial N2130 --pengembangan lebih lanjut dari N250-- yang oleh Prof Habibie dirancang berkapasitas 130 penumpang itu. Apalagi jika alasannya hanya semata-mata pengencangan ikat pinggang di bawah program austerity yang dirancang IMF kala itu.
Maka, kini Indonesia kehilangan banyak kesempatan karena mengorbankan visi jangka panjang, dan terpaksa harus beli pesawat dalam segmen sejenis ke negara-negara lain. Jangan gusar kalau banyak Sukhoi buatan Rusia, pesawat buatan China, atau pesawat buatan negara lainnya menemani dominasi Boeing dan Airbus sebagai kendaraan udara Anda hari-hari ini.
Tetapi, kan tidak baik menoleh ke belakang, apalagi menolehnya kelamaan. Malah bisa jadi akan celaka sendiri.
***
Maka, merujuk cerita Elisa tadi, tentu banyak pelajaran yang bisa dikembangkan, tidak hanya terkait dengan Garuda, yang kini masuk jajaran operator penerbangan elite di dunia. Bahkan, kini banyak perusahaan Indonesia berhasil melukis masa depan dengan gemilang.
Coba deh tengok catatan keuangan banyak perusahaan besar di Indonesia, yang menggambarkan bahwa mereka semua adalah pelukis masa depan yang luar biasa.
Grup Astra, sebutlah sebagai contoh. Perusahaan yang sempat terpuruk pada krisis ekonomi 1997/1998 karena terlilit utang itu, tahun lalu membukukan diri dalam jajaran "two billion dollar company". Jangan salah, bukan aset yang bernilai US$2 miliar, tetapi keuntungan alias profitabilitasnya.
Ini luar biasa, karena baru pada 2009 silam, Astra baru bisa mencatatkan diri sebagai "one billion dollar company", yang berarti hanya dalam dua tahun profitabilitas perusahaan otomotif terkemuka itu naik dua kali lipat.
Mengapa Astra bisa begitu? "Strive for excellent," yang dikokohkan sejak keluar dari kemelut krisis keuangan dan krisis utang pada 1998, yang membuat perusahaan itu terus bertumbuh dan kokoh. "Kalau di India ada Tata, mengapa kita tidak bangga di Indonesia ada Astra?" Begitu kata Prijono, CEO Astra.
Visi ke depan pula yang membuat Bank Mandiri, bank BUMN terbesar di Indonesia saat ini, berani membuka cabang di Shanghai bulan April lalu, karena melihat begitu banyak peluang bisnis yang akan berkembang sejalan dengan kesepakatan perdagangan bebas kedua negara. Banyak pula pengusaha Indonesia, karenanya, yang berbisnis dengan China, yang butuh 'teman' pembiayaan.
Begitu pula Bank BRI yang berani menambah muatan dengan menggaet deposan yang bukan lagi rakyat jelata, dengan memperkenalkan "Puting Beliung" Britama sejak beberapa tahun lalu.
Maka BRI dan Bank Mandiri kini juga tercatat sebagai "one billion dollar company" karena mampu membukukan laba di atas US$1 miliar sejak beberapa tahun lalu.
Itu yang menjelaskan mengapa Dirut Garuda Indonesia Emirsyah Satar juga begitu yakin tatkala berkisah tentang Citilink, yang diharapkan beberapa tahun mendatang bakal mampu menyamai penumpang Garuda saat ini.
Jika Astra, Bank Mandiri, BRI, yang begitu optimistis dengan masa depan industri keuangan, dan Garuda begitu optimistis dengan Citilink-nya, itu semua karena matematika bisnis memang jalan. Bukan berhitung konservatif melihat ke depan, tetapi agresif dan bahkan melompat.
Anda tentu tidak membayangkan jika penumpang Citilink yang saat ini baru 1,6 juta setahun, akan dikejar menjadi 17 juta penumpang pada 2015. "Itu size penumpang Garuda sekarang," kata Emir, yang begitu yakin mengingat Citilink dianggap punya segmen khusus young professionals, kelas menengah baru yang sedang tumbuh kencang.
Itu pula yang menjelaskan, penjualan mobil Astra terus menanjak naik setiap tahun karena konsumen baru yang terus tumbuh secara dinamis. Begitu pula jualan bank-bank seperti Mandiri dan BRI yang laris manis, karena banyak uang nganggur yang butuh iming-iming hadiah.
Lho, bukankah infrastruktur menjadi penghalang untuk tumbuh? Ya, Anda benar jika menanyakan hal itu, karena jalanan masih saja, bahkan makin macet. Lalu airport kehabisan kapasitas bahkan antrian untuk take off dan mendarat pesawat pun sekarang sudah masuk kategori lampu kuning.
Apa kata para pemimpin puncak itu? "Lakukan saja yang bisa kita kontrol. Infrastruktur, kongesti bandara, itu semua di luar kontrol kita," begitu kira-kira.
Lantas apa yang bisa dikontrol sendiri? "Yang bisa kita kontrol adalah tersenyum. Dan senyum itu tidak pake biaya." Nah, lho!
Maka, mengapa tidak memberikan senyuman yang lebih manis kepada pelanggan, agar kelas menengah baru itu membeli lebih banyak mobil yang Anda jual, atau menyewa kamar hotel yang Anda tawarkan, atau memesan kursi pesawat yang Anda promosikan? Bagaimana menurut Anda? (arief.budisusilo@bisnis.co.id)
Editor :
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.