Sabtu (1/12) lalu adalah hari pertama bulan terakhir 2012, tahun yang kita lalui dengan penuh tantangan, tetapi juga sukacita, kebahagiaan, dan moga-moga bukan kegalauan.
Itulah kehidupan. Maka, apabila setiap menjelang tutup tahun seperti hari-hari ini, Anda merasakan banyak sekali kesibukan berkaitan dengan aktivitas bisnis atau pekerjaan, itu berarti kesempatan dan peluang.
Sibuk bukan saja mengevaluasi apa yang telah dilakukan sepanjang tahun berjalan, terlebih adalah menyiapkan rencana strategis yang akan dilaksanakan tahun depan.
Kalau banyak teman saya mengeluh sibuk sekali hari-hari ini, justru saya katakan "Anda mesti bersyukur."
Mengapa? Itu artinya Tuhan --jika Anda tidak atheis -- masih memberi kesempatan dan amanah untuk menjalankan usaha, atau menggeluti profesi, yang mudah-mudahan menghasilkan banyak manfaat untuk orang lain.
Setiap ada tantangan berarti kita masih diberi kesempatan untuk mencari jalan keluar. Setiap ada keluhan dari konsumen, berarti Anda masih dipercaya untuk melakukan perbaikan, dan tidak ditinggalkan begitu saja oleh pelanggan. Itulah sudut pandang, dan cara melihat keadaan.
Pun ketika merasakan langkah yang berat karena ada hambatan, berarti Anda telah berusaha bergerak, bukan diam.
Lantas Anda merasa capai? Wah, alhamdulillah. Berarti sang tubuh masih punya indikator untuk mengukur seberapa besar kapasitas yang telah terpakai, dan perlu jeda sejenak untuk rehat me-"nyetrum" kembali kondisi badan.
***
Jikalau saya agak melankolis kali ini, tentu bukan karena terpengaruh Mario Teguh yang suka memberikan motivasi tentang kekuatan berfikir positif dan harapan.
Ini lebih karena menjelang akhir tahun seperti ini, biasanya banyak orang yang mulai melakukan evaluasi dan proyeksi, untuk kehidupan pribadi, organisasi, dan bahkan --tinggi amat-- nasib bangsa dan negara.
"Ahh, lalu harus bilang wow, begitu?" Nggak lah. Lihat saja belakangan ini, banyak sekali acara yang digelar untuk membahas outlook atau perkiraan keadaan tahun depan, sembari mengomel terhadap ketidakberdayaan masa lalu di berbagai bidang. Ya politik, ekonomi, bisnis, dan sosial-budaya.
Syaraf persepsi kita kadang memang tidak adil. Kadang melebih-lebihkan, mendramatisasi, atau ekstrim sebaliknya: terlalu mengabaikan.
Begitupun dengan keadaan. Lihatlah talkshow di media publik, yang kebanyakan berbicara tentang kemurungan, penderitaan, kesulitan, atau keburukan yang ekstrim, tetapi sebaliknya kadang pujian yang kelewatan.
Dan persepsi itulah yang kerap mengeluarkan daya nalar dari ruang konteks. Dan buat saya, persepsi menjadi energi kehidupan. Jika Anda terbiasa memiliki persepsi negatif, itu berarti "low bat", kata anak-anak gaul sekarang. Energi Anda akan terkuras sia-sia.
Sebaliknya persepsi positif seperti mata air yang menyejukkan, yang memberi harapan. Itu kata para motivator.
***
Jadi? Bagaimana dengan hiruk pikuk menjelang tutup tahun ini? Ada serial lanjutan kasus Century, Dahlan Iskan versus DPR, Jokowi yang pusing menjadi Gubernur DKI, BP Migas yang 'dibubarkan', BBM yang lenyap dari pompa bensin, pemerintah yang salah hitung subsidi, kisruh buruh, dan sederet isu publik yang simpang siur lainnya?
Sudahlah. Tak usahlah terlalu mikirin pula mengapa akun Twitter "Trio Macan" tiba-tiba tidak ditemukan. Nggak perlulah terlalu sibuk mencari tahu, mengapa tiba-tiba rencana "Hari Bebas BBM Bersubsidi" dibatalkan begitu saja.
Atau, masih perlukah mikirin ribut-ribut kasus Century yang menyita waktu lebih banyak anggota dewan ketimbang memikirkan pembenahan aturan yang lebih produktif?
Ngapain pula ambil pusing dengan Mahkamah Konstitusi yang tiba-tiba 'berkolaborasi' dengan Muhammadiyah dan sejumlah ormas lain 'membubarkan' BP Migas?
Nggak usah pula terlalu repot mikirin mengapa setiap perhelatan Muhammadiyah tidak dihadiri Presiden, atau wakil Presiden, seperti halnya organisasi kemasyarakatan besar yang lain?
Atau buat apa pula ikut meributkan 'pertikaian' Soetan Batugana dengan keluarga Gus Dur yang berujung 'sungkeman'.
Weladalah. Kalau itu semua di-pikirin, hasilnya malah pabaliyut, kata teman Sunda saya. Apa artinya? Mbulet, kata teman Jawa saya. Atau menurut kawan bule atau teman yang suka main Facebook bilang "It's too complicated."
***
Eh, sebenarnya mau nulis apa sih? Mungkin itu pertanyaan Anda. Ya, jawabnya: Tidak tahu.
Menuliskan perasaan, mungkin lebih tepat. Tapi bukan berarti galau. Saya tidak galau, karena masih punya KPK, masih punya Presiden, masih banyak anggota DPR, dan masih banyak artis penghibur.
Maka saya bersyukur kalau Bang Haji Rhoma Irama digadang-gadang jadi calon presiden. Itu pertanda, rakyat masih bebas beraspirasi tanpa takut diberangus hak-hak kemasyarakatannya.
Seorang Dirut Bank BUMN besar di Jakarta, malah mengaku senang karena sekarang banyak happy hours.
Artinya, nggak perlu berkerut dengan target yang sulit dicapai, atau politik yang pabaliyut. "Anggap saja itu hiburan," katanya. Dan saya amat setuju.
***
Saya teringat nasehat Kapolda Metro Jaya Jenderal Polisi Untung Rajab. Pak Polisi ini bercerita, pernah ditanya seorang Ibu warga Jakarta soal pengamanan Ibu Kota.
Si Ibu itu, kata Jenderal Untung, bertanya bagaimana caranya polisi membuat warga Jakarta merasa aman dan tenang, tidak terusik kekhawatiran tentang ancaman keamanan dan kriminalitas.
Apa kata Kapolda? "Kalau ingin aman dan tenang, Ibu seminggu saja absen baca koran dan puasa nonton televisi. Pasti deh akan merasa tenang dan aman," katanya.
Tentu, Pak Polisi ini hanya bercanda. Tetapi, ia mencoba menganalogikan cara berfikir.
Jangan salah paham pula, Pak Polisi yang ceplas-ceplos ini juga bukan bermaksud mempersalahkan media.
Kekuatan persepsi, seperti dianalogikan dengan sangat pas oleh Jenderal Untung soal pertanyaan sang Ibu warga Jakarta itu, memang dahsyat, kalau boleh pinjam terminologi Andrie Wongso.
Untungnya, banyak yang kini memakai bingkai persepsi dari sisi gelas setengah terisi. Untungnya ekonomi masih tumbuh dengan baik. Untung kita punya kelas menengah yang besar. Dan sederet kalimat dengan pembuka kata "untung" lainnya.
Maka beruntunglah tiga partai baru yang kini sedang terus dilihat orang. Coba deh simak perbincangan ihwal tiga partai baru yang dianggap sangat berpengaruh, yakni Partai BUMN, Partai MK, dan Partai DKI.
Ini berkat para "ketua"-nya, yakni Dahlan Iskan, Machfud MD dan Jokowi. Persepsi individu telah mewarnai organisasi yang kini mereka kemudikan.
Dan, hasilnya lumayan "menghibur"; asal jangan ikutan masuk paguyuban pabaliyut saja. Bagaimana menurut Anda? (arief.budisusilo@bisnis.co.id)
Editor :
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.