RSS FEEDLOGIN

KAFE BISNIS: Kita tak [kurang] hebat karena pintar berakrobat

  -   Sabtu, 26 Mei 2012, 09:41 WIB

TERKAIT

  • No news.

POPULER

PILIHAN REDAKSI

Suatu siang di hari Sabtu, saat sedang berada di bengkel resmi sebuah prinsipal mobil dari Jepang, secara kebetulan saya ngobrol dengan seorang anak muda berbadan bongsor yang ternyata baru kelas 2 SMA.

 

Tentu bisa Anda duga, karena di bengkel, obrolan seputar mobil menjadi seru. Dan lebih seru lagi, yang kami obrolkan adalah mobil sport di depan mata, karena sedang menjalani perawatan di  bengkel tersebut.

 

“Ini sekali-sekali saya pakai ke sekolah, Om,” begitu kata si anak muda itu menjawab pertanyaan saya. Ia memanggil “Om,” mungkin karena usia saya sudah kepala empat, meski selalu merasa tidak tampak tua.

 

“Wah, hebat,” saya menyahut sembari melanjutkan pertanyaan: “Kamu suka ngebut pakai mobil ini?”

 

“Ya, kadang-kadang pengin njajal juga, Om,” jawabnya. “Sampai kecepatan berapa?” saya melanjutkan pertanyaan. “Yah, pernah di atas 200.” Maksudnya, tentu 200 km per jam.

 

“Tak ingin pakai yang di dalam itu,” saya bertanya, sembari menunjuk mobil sport dua seat bercat putih metalik, yang roof-nya bisa dibuka sampai coverless.

 

“Ah, itu geberan-nya kurang Om. Saya lebih suka yang ini, meski sudah saya pakai sejak 2009. Tenaganya besar sekali. Waktu itu mobil ini harganya masih 650 juta, Om,” katanya.

 

Ia berusaha menjelaskan kelebihan power sekaligus harga mobilnya saat dibelikan sang ayah, yang saat itu sedang berada di ruang tunggu bersama ibu dan adik perempuannya yang masih kecil.

 

Yah, buat yang sudah biasa, angka itu relatif tidak terlalu mahal untuk ukuran mobil sport, saya kira. Tetapi menjadi relatif sangat mahal untuk ukuran orang kebanyakan, apalagi si empunya baru kelas 2 SMA.

 

Ia pun mencoba semakin meyakinkan saya: “Teman-teman saya banyak yang pakai Ferrari, Om. Coba deh kalau hari Sabtu sore sesekali main di … [si anak muda ini menyebut sebuah tempat di perumahan eksklusif di kawasan Serpong], di situ sering ngumpul teman-teman saya, ada yang pakai Ferrari yang baru satu-satunya ada di Indonesia.”

 

Wah…

 

***

 

Tentu saya percaya, banyak orang kaya di Indonesia yang mampu membeli harta benda apapun. Termasuk saya yakin, di antara mereka yang kaya-kaya itu adalah Anda, yang sedang membaca kolom ini.

 

Apakah obrolan dengan anak muda tadi dapat menjadi penanda tambahan bagi kenaikan tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia? Ataukah justru kegagalan sebagian masyarakat untuk berperilaku hemat dan tidak “konsumtif”?

 

Saya tentu tidak ingin terlalu gegabah untuk mengambil kesimpulan.

Tanda tanya pertama, dapat dikatakan Indonesia mulai menikmati apa yang disebut dividen demografi, meski ramalan banyak ahli baru akan terjadi pada dekade 2020-an. Sebaliknya, tanda tanya kedua, jangan-jangan Indonesia tengah memulai siklus demographic disaster?

 

Jika Anda melihat dari perspektif yang negatif, tentu akan membenarkan simpulan yang kedua itu. Dan akan cepat berasumsi: wah, sang ayah yang mencari uang, sang anak yang menghabiskan.

 

Atau, “Bagaimana mentalitas anak-anak muda yang mudah mendapatkan fasilitas seperti itu. Apakah akan memiliki spirit kompetisi yang unggul bagi masa depan mereka?”

 

Tentu pertanyaan tersebut sangat wajar. Namun bagi yang terbiasa melihat dari sudut pandang positif, dimensi nalarnya akan berbeda. “Ini untuk menanamkan sikap positif terhadap pencapaian. Yang penting, tetap diajarkan disiplin, melihat hasil sebagai sebuah proses, dan berorientasi kepada kemampuan pribadi yang tinggi untuk menang di masa depan.”

 

Wah…

 

***

 

Mungkin Anda sesekali pernah berargumentasi soal-soal semacam itu bersama keluarga atau sahabat dalam pergaulan sehari-hari. Begitu pun soal nilai-nilai. Meski terlihat agak serius untuk dibahas, tetapi ada cara yang lebih sederhana untuk melihat dinamika tersebut.

 

Merujuk contoh anak muda tadi, bagi yang memiliki perspektif positif tentu akan mengatakan, sejak muda anak kita perlu ditunjukkan pencapaian yang tinggi, tetapi ditopang spirit untuk mencapai hasil yang lebih tinggi. Itu yang disebut pertumbuhan, bukan kemandekan, apalagi kemunduran.

 

Ilustrasinya kurang lebih begini: Dalam beberapa kali terlibat penjurian kewirausahaan untuk mahasiswa, saya kerap memperoleh jawaban tentang motivasi yang nyaris klasik. “Ingin menjadi pengusaha karena sudah terbiasa hidup dalam kondisi keluarga tidak mampu.”

 

Tentu saya protes keras kepada peserta yang mengatakan, “Ayah saya cuma seorang petani,” atau “Ayah saya cuma seorang guru,” ketika melukiskan latar belakang keluarganya.

 

Mengapa saya protes? “Anda tidak boleh mengatakan dengan sebutan ‘CUMA’. Karena dididik oleh seorang petani itulah Anda sekarang punya motivasi kuat menjadi pengusaha muda.” Itu yang saya katakan.

 

Sengaja saya tulis besar-besar kata CUMA, untuk menekankan bahwa tidak boleh menganggap remeh profesi orang tua, yang kerap mengorbankan banyak hal untuk keberhasilan anak-anaknya.

 

Itulah cara menghargai perjuangan. Kalau Anda tidak hidup dalam keluarga susah, barangkali motivasi dan energi untuk bangkit tidak akan begitu besar. Begitu kira-kira penjelasannya.

 

Dan sebaliknya, jangan salahkan pula orang tua yang mencoba “menyediakan segala fasilitas” untuk anaknya, meski kerap digeneralisasi sebagai orang tua yang memanjakan anak-anaknya. Tentu risikonya bisa besar, karena sang anak bisa menjadi generasi yang mengandalkan kekuatan keluarga, kurang kreatif, atau malas berusaha.

 

Tetapi bisa jadi sebaliknya. Ini adalah proses menanamkan sebuah ekspektasi. Saya percaya, anak yang melihat keberhasilan, dan tentu diperlihatkan pula dengan bagaimana cara mencapai keberhasilan tersebut, akan memiliki sikap positif untuk memenangi kehidupan dengan cara yang kompetitif dan sportif pula. Yang penting, Anda menyediakan fasilitas buat keluarga dari jalan yang benar.

 

Ini sama ekstrimnya dengan anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang hidup prihatin, tetapi selalu berdampingan dengan perilaku konsisten terhadap usaha keras atau istiqomah. Ia tentu akan terlecut dengan motivasi dan energi untuk menjadi pemenang. Ia akan termotivasi untuk keluar dari wilayah gelap ke areal terang.

 

Dua tipe perilaku kehidupan itu, saya kira, semuanya ada di sekeliling Anda. Keduanya adalah pilihan, yang selalu beriringan dengan risiko dan harapan.

 

Tapi saya percaya, tanpa memilih jalan, yang bahkan kadang harus nyerempet bahaya dan berakrobat dalam mengambil pilihan, Anda akan berhenti, dan tidak akan sampai pada tujuan.

 

***

 

Soal memilih jalan, saya percaya banyak orang Indonesia yang hebat dan pintar ber-akrobat. Rusdi Kirana, juragan Lion Air, barangkali satu contoh pebisnis sukses yang pintar berakrobat itu. Siapa nyangka beberapa waktu lalu, Rusdi, yang mantan agen tiket, menandatangani pembelian pesawat Boeing  skala besar senilai ratusan triliun rupiah, disaksikan langsung Presiden Barack Obama?

 

Jusuf Kalla, mantan Wakil Presiden, juga tukang akrobat. Contoh keputusan akrobatik yang paling spektakuler, menurut saya, keberanian mengkonversi minyak tanah ke gas, saat nyaris semua infrastruktur belum siap. Dan berhasil.

 

Keberanian mereka mengambil keputusan begitu mengesankan, untuk sekadar sebagai contoh. Mereka bukan sekadar berani nyerempet bahaya atau risiko, tetapi bahkan bergelut dengan bahaya dan risiko itu.

 

Kalau boleh mengutip Dahlan Iskan, yang sekarang sedang mendapatkan serangan bertubi-tubi dari para politisi: “Nyaris nyerempet nggak apa-apa asalkan tidak nyerempet betulan.”

 

Memang, kalau mau maju, harus berani ngebut dengan penuh perhitungan, meski nyaris nyerempet bahaya.

 

“Asal jangan nekat,” karena bisa bangkrut atau sebaliknya masuk bui komisi antikorupsi alias KPK jika Anda ngebut memburu sumber-sumber “tidak halal”.  Wah… kalau yang ini berabe.

 

Bagaimana menurut Anda?(arief.budisusilo@bisnis.co.id)

Editor :

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.