RSS FEEDLOGIN

KAFE BISNIS: Angelina, merek sempurna!

Mursito   -   Senin, 05 Maret 2012, 14:11 WIB

TERKAIT

  • No news.

POPULER

PILIHAN REDAKSI

Angelina Sondakh memang terlilit kasus korupsi, tetapi popularitasnya justru meninggi.

 

Lihat saja bagaimana insan pers mengerubuti dirinya ketika dia mengadakan konferensi pers di rumahnya, padahal kalau ditilik dengan saksama, acara itu tak lebih dari upayanya untuk mendapatkan simpati publik-dengan menyebut anak-anaknya, meminta pengertian publik, dan kalimat imbauan lainnya.

 

Orang tahu dia nggak bakalan mengungkapkan hal-hal baru di luar materi di ruang sidang, tetapi tetap saja kamera televisi nasional membidik wajahnya secara fokus, lalu disiarkan berulang-ulang.

 

Betul kata teman-temannya, Angie itu cerdas! Penampilan dirinya di depan publik sudah dia perhitungkan dengan saksama. Jelas, dia tahu betul makna dari publisitas.

 

Kini dia sama populernya dengan sepak bola nasional. Pemberitaan keduanya di media online selalu menjadi trending topic. Berita terbaru tentang sepak bola sampai kemarin malam adalah keputusan FIFA untuk menyelidiki kekalahan memalukan tim Indonesia dari Bahrain. Wajarlah jika diperiksa, karena skornya benar-benar fantastis: 10-0. Hiks...

 

Saya teringat ketika Korea Selatan pada periode 1990-an masuk menjadi anggota klub elite Organisation for Economic Co-operation and development (OECD) sekarang tak terlalu elite lagi karena anggotanya kebanyakan justru tertimpa krisis ekonomi. Prestasi tersebut diikuti dengan catatan gemilang tim sepak bola Negeri Ginseng tersebut di level internasional, baik di Piala Dunia maupun Olimpiade bahkan masuk sampai ke level semifinal.

 

Jadi, ketika suatu bangsa naik kelas secara ekonomi, bidang lainnya ikut membaik, entah itu olahraga, iptek, kesejahteraan sosial, fasilitas umum, maupun penegakan hukum. Nah, negara kita anomali.

 

Prospek ekonominya cerah, dan citra presidennya bagus, sering dipuji karena pandai berpidato dalam bahasa Inggris yang fasih di forum-forum internasional. Sayang, prestasi olahraga menurun, kualitas fasilitas umum seperti sarana transportasi dan infrastruktur rendah, penegakan hukum pun lemah. DPR dan partai politik malah menjadi sarang penyamun uang rakyat.

 

Dari televisi, rakyat mendapatkan suguhan berita yang bikin (tambah) jenuh: korupsi dan korupsi...

 

Mungkin karena itulah pada setiap akhir pekan pusat perbelanjaan diserbu pengunjung. Ia menjadi semacam oase bagi masyarakat dari kepenatan hidup sehari-hari. Di mal, lampu-lampu menyala terang benderang membuat orang lupa waktu, tak dapat membedakan siang dan malam. Sebuah dunia mimpi.

 

Di mal pun ‘ada’ Angelina. Bukan tak mungkin, model kacamata yang dikenakannya di ruang sidang tempo hari itu walau dia kelihatan tua dan disorientasi dengan gagang kotak gelap itu semakin jadi tren. Kemeja putihnya bisa ditiru buat ke kantor, atau tas tangannya, apa mereknya ya?

 

Ahli pemasaran Martin Lindstrom dalam Buy-Ology melukiskan dengan menarik bagaimana dahsyatnya pengaruh manusia yang telah berubah menjadi merek.

 

Dia menulis demikian: Banyak dari kita yang tak begitu respek pada Paris Hilton, tapi faktanya dia tetap sebuah merek yang berjalan, berbicara, tertawa, dan berpesta.

 

Tidak peduli apakah dia membintangi sebuah film porno amatir di Internet, berjoget ria di sebuah night club baru di Tokyo, mempromosikan produk pakaian barunya, atau menjalani hukuman di penjara, Paris Hilton adalah merek berjalan yang menciptakan pokok berita dan publikasi kemana pun dia pergi.

 

Seperti halnya CEO Virgin Atlantic Richard Branson, yang lebih menjadi merek berjalan ketimbang pengusaha sukses. Tak peduli apakah dia sedang berlibur di pulau miliknya di Karibia, naik balon udara di langit Prancis, atau sedang mengumumkan rencananya pergi ke bulan, dirinya tak pernah jauh dari pengamatan publik.

 

Lindstrom pun meramalkan, ke depan akan lebih banyak perusahaan menggunakan merek berjalan, dengan menciptakan karakter nyata agar mendapatkan lebih banyak paparan dan akhirnya akan menjual lebih banyak produk.

 

Menjual lebih banyak produk memang bagus untuk mendongkrak perekonomian, tapi rasanya saat ini yang Indonesia butuhkan adalah ‘menjual’ lebih banyak mentalitas baik.

 

Bangsa kita membutuhkan manusia yang menjadi merek dari integritas diri, kejernihan berpikir, moral yang teguh, dan mentalitas tahan godaan sesaat yang menyesatkan.

 

Angelina Sondakh yang muda, cantik, pandai, dan punya posisi tinggi di partainya, konon telah mempersiapkan diri untuk kelak menjadi gubernur Sulawesi Utara, mengikuti jejak keluarga besarnya yang banyak berkiprah di ranah publik. Tanpa skandal Wisma Atlet, rencana itu mungkin saja terwujud karena Angie dengan semua asetnya adalah merek yang sempurna.

 

Kini dia lebih dicitrakan sebagai koruptor dan pembohong daripada politikus bermasa depan cerah.Itulah mereknya sekarang. (huberta.linda@bisnis.co.id)

 

*) Tulisan ini diadopsi dari kolom POJOK KAFE harian Bisnis Indonesia edisi 3 Maret 2012.Untuk membaca berita-berita dan memperoleh referensi terpercaya lainnya dari harian Bisnis Indonesia, silahkan klik epaper.bisnis.com, dan Anda juga bisa berlangganan dengan register langsung ke koran Bisnis Indonesia edisi digital.

 

>> BACA JUGA:

* SOSIALITA orang kaya SOLO

 

Source : Linda Tangdialla

Editor : Sitta Husein

Layak Disimak

Komentar :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.