RSS FEEDLOGIN

JOKOWI Punya Magnet Jadi Capres, Kata pengamat

Yoseph Pencawan   -   Rabu, 01 Mei 2013, 22:46 WIB

TERKAIT

POPULER

PILIHAN REDAKSI

130412_jokowi-jari.jpgBISNIS.COM, JAKARTA--Direktur Eksekutif Pol-Treking Institute Hanta Yuda mengatakan Gubernur DKI Joko Widodo (Jokowi) memiliki magnet keterpilihan yang kuat sehingga potensial mendongkrak suara pasangannya apabila dicalonkan dalam Pemilu Presiden 2014.

"Jokowi fenomenal, bisa dipasangkan pada siapa pun karena potensial bagi pasangannya sehingga mampu mendongkrak suara karena magnet elektoralnya sangat kuat," kata Hanta Yuda di Gedung KPU, Jakarta, Rabu (1/5/2013).

Hanta mengatakan apabila PDI Perjuangan bisa menggunakan potensi itu maka partai tersebut akan diuntungkan. Namun, lanjut dia, tergantung pada keputusan Megawati Soekarnoputri apakah akan mencalonkan Jokowi sebagai capres dari partai tersebut atau tidak.

"Apakah dia (Megawati) akan melepas Jokowi jadi capres dari PDIP, dipasangkan menjadi cawapresnya, atau tidak ada kesempatan bagi Jokowi. PDIP perlu membuka ruang agar regenerasi berjalan," ujarnya.

Dia mengakui bahwa Jokowi baru menjabat Guburnur DKI Jakarta, namun jika publik menginginkannya maju dalam Pilpres 2014 maka dia tidak bisa menolak.

Menurut Hanta, menyelesaikan masalah di Jakarta penting, tetapi menyelamatkan negara jauh lebih penting, karena untuk persoalan ibu kota ada wakil gubernur yang menggantikannya.

"Ini persoalan dukungan publik, saya tidak bisa katakan Jokowi layak atau tidak, ini kan dari tren publik elektabilitasnya terus naik," katanya.

Dia mengatakan tahun 2014 merupakan momentum yang tepat bagi Jokowi untuk maju dalam Pilpres. Karena menurut dia dalam politik, momentum tidak muncul dua kali dan tahun 2019 akan muncul tokoh baru.

Source : Antara

Comments :

DISCLAIMER:

Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.