Barangkali tak banyak yang hapal dengan nama lengkap Ahok, yaitu Basuki Tjahaya Purnama, yang kini banyak dibincang orang karena sejumlah langkah yang tak biasa bersama Jokowi alias Joko Widodo memimpin provinsi DKI Jakarta.
Saya kira, sepak terjang Ahok ini identik dengan nama panjangnya, yang mengandung setidaknya tiga makna, dan mengandung unsur kata-kata dalam bahasa Jawa, meski ia bukan orang Jawa.
Basuki adalah istilah bahasa Jawa kuno, yang dalam berbagai kamus diartikan sebagai sejahtera, sehat, selamat dan sukses. Tjahaja, tentu Anda sudah tahu, mengandung makna sinar, tentu yang menerangi.
Purnama begitu pula, merujuk istilah bulan yang berbentuk bulat penuh karena terpapar sinar matahari, dan karenanya bersinar terang benderang. Bagi anak-anak di era 70-an atau 80-an, malam bulan purnama biasanya dipakai untuk berbagai atraksi dolanan, main gobak sodor, petak umpet, atau mainan anak-anak lainnya yang populer saat itu.
Saat ini, apalagi jika tinggal di kota-kota besar yang penuh polusi, sangat jarang bisa melihat bulan purnama tanpa terhalang kabut asap kendaraan atau industri. Dan jarang sekali kita menyaksikan anak-anak memainkan dolanan tradisional, karena sudah tergantikan oleh produk-produk teknologi maju, seperti play station, atau produk games yang lain. Anak-anak kecil saat ini lebih banyak bermain fantasi, dengan banyaknya apps yang beredar di pasar yang bisa diunduh melalui komputer tablet atau bahkan telepon pintar.
Ingatan ke Ahok nyantol begitu saja, karena istilah yang terhubung dengan namanya: basuki. Dalam budaya Jawa, banyak sekali falsafah yang menjadi acuan hidup orang-orang tua jaman dulu hingga, bahkan, hari-hari ini. Sebutlah yang sering dipakai dalam teori kepemimpinan, seperti ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa dan tut wuri handayani.
Secara harfiah, pepatah itu sering diartikan dengan makna yang berlaku untuk para pemimpin. Ia harus berada di lini depan dengan memberi contoh yang baik, dan mampu berada di tengah-tengah dengan mengerjakan apa yang seharusnya dilakukan, dan mampu pula mendorong tim dari belakang supaya berhasil mencapai tujuan.
Lalu ada pula yang disebut tridharma bagi para "pejuang", yakni: rumangsa melu handarbeni, wajib melu hangrungkebi, mulat sarira hangrasa wani.
Banyak makna dan aplikasi dari pepatah itu, antara lain jika Anda berada dalam sebuah organisasi, maka patut untuk merasa memiliki, wajib turut menjaga seluruh aset organisasi, dan berani menghadapi tantangan dan rintangan untuk mengembangkan organisasi itu.
Banyak kisah hero yang menggambarkan betapa seorang karyawan biasa, berani mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan hotel tempatnya bekerja dari kebakaran, misalnya. Ini bukan karena loyalitas semata, tetapi lebih karena rasa memiliki yang tinggi.
Sebaliknya, banyak pula yang mencoba menerapkan falsafah tadi dengan cara yang kurang pas, melalui semangat korps. Kisah penyerbuan Lapas Cebongan, Sleman, barangkali menjadi contoh yang tepat untuk itu.
Nah, kalau yang ini kerap dirujuk oleh banyak kalangan, utamanya para entrepreneur, yakni istilah jer basuki mawa bea. Makna sempit dari pepatah jer basuki mawa bea adalah jika Anda ingin berhasil, maka perlu mengeluarkan biaya.
Tetapi saya kira makna jer basuki mawa bea jauh lebih luas dari sekadar kalimat ringkas itu. Jika Anda ingin sukses, ingin berkecukupan, ingin hidup makmur, maka perlu berusaha sekuat tenaga, kalau perlu at all cost.
Ringkasnya, tidak ada yang mudah untuk memperoleh atau menikmati, bahkan memiliki sesuatu. No free lunch, kata para bule sana. Tak ada rejeki yang ujug-ujug atau tiba-tiba jatuh dari langit, seperti kejatuhan durian runtuh. Kalaupun ada, pasti cuma kebetulan saja.
Maka, bagi saya istilah jer basuki mawa bea sangat tepat untuk melukiskan situasi di sekitar kita saat ini. Di level korporat, misalnya, banyak perusahaan yang ingin punya bottom line yang baik dan ekspansi bisnis dengan cepat, tetapi tidak mau investasi.
Ada pula para konsumen, yang ingin menikmati kenyamanan lebih, tetapi enggan membayar biaya ekstra. Atau karyawan yang ingin mendapatkan bonus lebih dari kantornya, tetapi bekerja biasa-biasa saja.
Maka, banyak yang menyebut mentalitas karyawan yang bekerja sesuai argo saja. Dan ini yang biasanya membentuk lingkaran setan produktivitas, karena kontribusi karyawan yang biasa-biasa pada akhirnya menghasilkan produktivitas minimal di level organisasi; maka pada gilirannya tidak membuat organisasi semakin mampu memberikan insentif yang lebih bagi para karyawannya. Begitu seterusnya.
Yang paling heboh tentu contoh di dunia politik kita. Banyak politisi salah duga, jer basuki mawa bea berarti money politics sebanyak-banyaknya untuk memenangi pemilu, pemilihan bupati atau pemilihan gubernur.
Ya, money politics memang sebagian bekerja, tetapi sebagian lain gagal total. Mengapa? Karena investasi politik semestinya dilakukan dalam berbagai hal, termasuk dari personal selling yang natural, atau menggunakan peranti yang ekstra modern sekalipun.
Para politisi memakai istilah citra atau pencitraan sebagai aplikasi dari personal selling. Tetapi tak banyak yang berhasil menggunakan citra pribadi ini untuk mendapatkan kepercayaan dari publik atau para voters alias pemilih langsung, karena salah persepsi dan salah aplikasi.
Ada pemimpin yang sangat menjaga citra pribadi, tetapi salah sasaran. Saking menjaga citra, sampai tak berani mengambil kebijakan apapun apabila punya efek ke publik atau yang mungkin menyebabkan sang pemimpin tidak populer.
Ia tidak sadar bahwa tindakannya itu justru membuat ia tidak populer, selain tentu berdampak besar bagi ekonomi yang menjadi korban. Contoh adalah soal subsidi bahan bakar minyak.
Ini pula contoh yang sangat tepat sebagai aplikasi jer basuki mawa bea yang salah sasaran. Mengapa? Negara harus menanggung beban subsidi ratusan triliun tiap tahun, sehingga kehilangan kesempatan untuk melakukan investasi di bidang-bidang yang lebih dibutuhkan masyarakat untuk semakin produktif dan ekonomi tidak "macet".
Yang lebih repot lagi, ada biaya atau bea yang muncul karena ketidakpastian dan spekulasi. Sekadar contoh, seorang kawan mengeluh, karena harga bahan bangunan dalam sebulan naik sampai empat kali. Kata pedagangnya, kenaikan harga itu untuk mengantisipasi kebijakan harga minyak dan pembatasan subsidi. Artinya, spekulasi terus terjadi, dan dampak inflasi tak bisa dihindari.
Maka, jika di awal tulisan ini saya mengulas makna nama Ahok, barangkali ia dan pasangannya, Joko Widodo alias Jokowi, adalah contoh yang paling baik untuk menggambarkan falsafah jer basuki mawa bea yang sebenarnya.
Mereka populer bukan karena mengeluarkan biaya finansial yang besar, tetapi karena upaya yang terus menerus, rela "kaki dan tangan kotor", bukan karena jaim alias begitu berupaya menjaga citra pribadinya.
Tetapi upaya personal yang dilakukan dalam banyak kesempatan, dalam waktu yang panjang, telah menghasilkan kepercayaan bagi kepemimpinannya sekaligus popularitas yang tinggi bagi pribadi mereka. Itulah makna jer basuki mawa bea yang sesungguhnya. Bagaimana menurut Anda?
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.