Dalam sebuah penerbangan dengan pesawat Garuda ke Balikpapan beberapa waktu lalu, iseng -iseng saya buka leaflet yang bertajuk Invest in Remarkable Indonesia yang tersedia di saku belakang kursi di hadapan saya duduk.
Selebaran yang mungil, tetapi cukup menarik perhatian, itu dibuat oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal atau BKPM, saat Gita Wirjawan diangkat menjadi kepala lembaga itu dua tahun lalu.
Meski barang lama, saya kok tiba-tiba merasa perlu membaca isi selebaran tersebut karena penasaran apa sih yang diungkap dalam catatan kecil itu. Maka saya kemudian mencatat, meskipun sedikit kurang nyaman dengan kursi Garuda nomor 2B yang kebetulan tidak bisa di-set, karena tampaknya kursi itu sudah cukup dimakan usia.
Kesan saya, leaflet itu memang tampak bukan produk biasanya yang “kaku” dan “khas birokrat”, melainkan “sangat menjual” dan atraktif. Data yang diungkap semuanya bertujuan untuk menjawab pertanyaan Why Indonesia? Antara lain peringkat I keseimbangan fiskal terbaik versi S&P, menurunnya rasio utang dari 83% pada 2001 menjadi 29% pada 2009; “top 10 most attractive destination” untuk investasi asing langsung menurut UNCTAD; GDP nominal per kapita yang diperkirakan akan berlipat ganda (quadruple) pada 2020 menurut Stanchart Bank, dan 50% dari 240 juta penduduk Indonesia berusia di bawah 29 tahun, yang disebut sebagai bonus demografi.
Data lainnya tak kalah atraktif, misalnya bujet pendidikan dinyatakan sebesar 16%, lebih tinggi dari sektor-sektor yang lain; lulusan universitas yang berasal dari bidang teknis seperti ekonomi dan keuangan mencapai 28%, ditambah engineering dan sciences 27,5%, di pihak lain labor cost relatif rendah, bahkan dibandingkan dengan magnet investasi seperti India dan China. Ini dugaan saya, untuk menunjukkan keseriusan membangun SDM di Indonesia.
Entah karena kemasan informasi dalam leaflet kecil itu, yang kemudian memberi dorongan Indonesia memang menjadi tujuan investasi beberapa tahun terakhir. Yang pasti, kesan saya, kemasan informasi yang berbeda, to the point pada inti persoalan, dan fokus. Itulah yang menarik, dan menanamkan daya pikat lain karena mudah dipahami, mudah diingat, dan kena!
Fokus pada inti persoalan, to the point, dan kena inilah yang kerap kita tidak punya. Karena itu pula, saya jadi tidak terlalu heran ketika pekan ini lembaga pemeringkat Fitch Ratings mengumumkan saat-saat monumental itu: Indonesia masuk kelompok negara layak investasi atau yang banyak disebutkan investment grade.
Maka, saat membuka situs berita koran yang Anda baca ini: www.bisnis.com jam 15.53 WIB kemarin, saya tak kaget lagi ketika berita yang muncul nadanya sumringah sekali: “184 Saham menguat, IHSG ditutup naik 1,81%”.
Apalagi, ekspektasi atau harapan terhadap kenaikan peringkat itu telah digadang-gadang sejak 2 tahun terakhir. Terlebih, label layak investasi itu memang sempat lepas selama 14 tahun, setelah Indonesia masuk jurang krisis ekonomi 1997/1998.
***
Fokus pada inti persoalan, to the point, dan strategi yang kena barangkali juga menjelaskan mengapa Indonesia sukses dalam penyelenggaraan Sea Games XXVI bulan lalu, sekaligus juga sukses menjadi juara umum pesta olahraga dua tahunan di Asia Tenggara tersebut.
Seperti apa sih strateginya? Mengutip cerita Rachmat Gobel, bos Panasonic Gobel, yang didaulat menjadi Ketua Pelaksana Harian Sea Games XXVI, saya menangkap kesan ia tidak hanya berbekal berfikir positif, tetapi juga optimistis, dan visioner.
Dia pun berkisah, sejak tahun lalu selalu disentil banyak teman pengusaha yang bilang, Rachmat Gobel “nekat dan gila” karena mau menerima “bola panas” menjadi Ketua Panitia Sea Games.
Namun berbekal keyakinan yang kuat, Rachmat menerima tugas dari negara itu. Tugas memang berat, tetapi ada optimisme dan harapan, bahwa tujuan penyelenggaraan Sea Games bukan sekadar prestasi olahraga dalam jangka pendek, tetapi juga menggerakkan ekonomi dalam rangka menarik investasi.
Salah satu kiatnya, fokus pada pembukaan dan penutupan pesta olahraga itu menjadi sangat penting, untuk menarik perhatian dunia bahwa Indonesia Bisa! “Sukses pembukaan sudah merupakan 50% dari kesuksesan Sea Games,” kata Rachmat menuturkan keyakinannya sehingga tidak mempersoalkan ketika harus mempersiapkan pembukaan Sea Games dengan biaya besar.
Baginya, meski biaya pembukaan dan penutupan Sea Games cukup besar, kalau dikaitkan dengan apa yang akan diraih dari investasi asing yang akan masuk, “tidak ada apa-apanya.”
Itulah visi ke depan. Dan ketika benar-benar bola panas terjadi di tengah persiapan Sea Games—seperti meruaknya kasus suap wisma atlet yang diduga melibatkan Nazaruddin—Rachmat pun tetap menanamkan sikap positif dan optimistis kepada tim kepanitiaan untuk menjaga ritme kerja supaya tidak terpancing isu politik dan fokus kepada penyelenggaraan perhelatan itu.
Dan, akhirnya, penyelenggaraan sukses, prestasi juga sukses sebagai juara umum. Apa yang hendak ditanamkan? Semangat, optimisme dan kebanggaan, katanya.
***
Saya percaya, di balik sukses Sea Games dan hadiah investment grade dari Fitch itu, kuncinya pada orang-orang yang menggerakkan. Saya menyebutnya sebagai orang-orang yang bersikap responsif. Berpikir positif dan optimistis, tak takut mengambil risiko, selain tentu saja kreatif dan inovatif.
Kita butuh semakin banyak orang-orang yang “responsif” semacam itu. Orang yang tidak melulu menunggu perintah atau petunjuk untuk melakukan yang bisa dilakukan, apalagi ala kadarnya alias menjalankan pekerjaan sesuai argo seperti sopir taksi.
Maka, kalau di depan saya singgung kursi Garuda kebetulan tidak bisa disetel, bukan bermaksud mengatakan maskapai pelat merah tersebut buruk.
Mau bukti? Dalam penerbangan lainnya ke Denpasar, dengan pesawat yang jauh lebih baru, saya mendapati kenyamanan terbang bersama Garuda. Selain itu, jangan salah, menu makan malam yang mantap: Ayam panggang dan nasi kuning. Ketika saya bilang ayam panggangnya enak: dengan sopan crew Garuda itu bilang, “tambah Pak?”.
Hal kecil semacam itulah yang saya maksudkan sikap yang responsif.
Maka saya senang menceritakan di kolom ini, ketika suatu siang mendapat telepon dari manajemen PT Angkasa Pura II, yang mencari tahu lebih lanjut soal kerusakan toilet bandara.
Pernah saya kisahkan di kolom ini bahwa toilet di kedatangan internasional Bandara Soekarno Hatta banyak rusak, padahal kedatangan internasional adalah gerbang Indonesia dan penentu kesan pertama di mata bule-bule yang membawa uang ke negeri ini.
Bandara yang kini dipadati lebih dari 40 juta pengguna sepanjang tahun—dari kapasitas yang seharusnya cuma 20 juta itu—memang sudah kelebihan beban, sehingga menjadi salah satu sebab urinoir sering mbeludag dan rusak.
Maka manajemen Angkasa Pura yang mengelola bandara itu merasa senang diberi masukan, dan segera melakukan pembenahan. Luar biasa, itulah pejabat BUMN yang responsif dan tidak alergi kritik.
Mungkin hal itu juga disemangati oleh bos-nya, Menteri BUMN, yang tidak kalah responsif-nya.
Maka saya berkesimpulan, kita butuh semakin banyak orang-orang yang responsif semacam itu di berbagai bidang. Sea Games adalah buah karya tangan yang responsif di bawah sikap optimistis dan positif. Peringkat investment grade adalah buah dari tangan-tangan yang responsif pula; bukan cuma dari institusi BKPM, tetapi juga para pembuat kebijakan moneter di jajaran Bank Indonesia dan strategi fiskal di jajaran Kementerian Keuangan.
Namun, patut kita catat, menjaga investment grade juga bukan perkara mudah. Di luar isu pengelolaan finansial, ada faktor fundamental politik dan hukum jika ingin peringkat Indonesia terus naik.
Maka, kita berharap Abraham Samad, selaku Ketua KPK yang baru, dan para petinggi penegak hukum lainnya seperti Kapolri, Menkumham dan Jaksa Agung, menjadi bagian dari orang-orang yang responsif pula.
Jangan sampai, seperti kata kolega saya yang berbisnis energi di Kalimantan Timur, menyebut oknum penegak hukum digerakkan bukan oleh sikap responsif, melainkan oleh “Kompi A”.
Seperti saya, mungkin Anda juga penasaran lalu bertanya siapa “Kompi A” tersebut? Teman saya menjawab: itu adalah sebutan untuk "Aliong, Asiong, Akiong". Ahh, tentu itu bukan bermaksud merujuk etnis tertentu, karena bisa saja mereka adalah "Agus, Asep, atau Andrew" dan kawan-kawannya.
Nah, lho! Bagaimana menurut Anda? (arief.budisusilo@bisnis.co.id)
*) Tulisan ini diadopsi dari rubrik POJOK KAFE di harian Bisnis Indonesia edisi 16 Desember 2011. Untuk membaca berita Bisnis Indonesia lainnya, silahkan klik epaper Bisnis Indonesia atau kunjungi www.epaper.bisnis.com untuk berlangganan koran edisi digital.
Editor :
Komentar yang tampil menjadi tanggungjawab sepenuhnya pengirim, bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi BISNIS.com. Redaksi berhak menghapuskan dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.